Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tari Rahmaniar
POS-KUPANG.COM, LABUAN BAJO - Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, pemandangan deretan bendera merah putih mulai menghiasi sudut-sudut Kota Labuan Bajo.
Lapak pedagang bendera merah putih berjejer di seberang Kantor Bupati Manggarai Barat Jalan Prof. WZ. Johanes Labuan Bajo.
Di balik semarak itu, ada kisah para perantau asal Garut, Jawa Barat, yang setiap tahun rela menempuh ribuan kilometer demi mencari rezeki musiman.
Para pedagang datang bukan untuk berwisata, melainkan menjual bendera merah putih dan umbul-umbul selama musim kemerdekaan.
Salah satunya Dadan Hamdan. Ia mengaku sudah tiga musim berturut-turut berjualan di Labuan Bajo. Bersama delapan rekannya sesama warga Garut, ia tiba di Labuan Bajo sejak akhir Juli dan akan bertahan hingga 16 Agustus.
Baca juga: Kombes Nelson Filipe Dias Quintas Resmi Pimpin Polresta Kupang Kota
"Kalau saya sudah tiga musim di Labuan Bajo. Kami datang sekitar tanggal 25 Juli, nanti setelah 16 Agustus baru kembali lagi," ujar Dadan saat ditemui, Rabu (30/7/2026).
Uniknya, hampir seluruh pedagang bendera di Labuan Bajo berasal dari Garut. Menurut Dadan, hal itu bukan tanpa alasan.
Garut merupakan salah satu sentra konveksi bendera merah putih di Indonesia sehingga banyak warganya merantau ke berbagai daerah setiap menjelang Hari Kemerdekaan.
"Orang Garut itu tersebar ke seluruh Indonesia. Ada yang ke Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, NTB, NTT, termasuk Labuan Bajo. Setiap daerah sudah dibagi supaya tidak terlalu banyak pedagang di satu tempat," ujarnya.
Sehari-hari, Dadan sebenarnya berjualan pakaian di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Namun setiap musim kemerdekaan tiba, ia beralih profesi menjadi pedagang bendera.
Meski sudah membuka lapak sejak beberapa hari lalu, penjualan hingga akhir Juli masih belum menggembirakan.
"Kalau sekarang masih sepi, paling laku dua sampai tiga lembar sehari. Biasanya mulai ramai tanggal 1 Agustus sampai 15 atau 16 Agustus. Saat itu bisa puluhan bahkan ratusan lembar terjual dalam sehari," ungkapnya.
Berbagai jenis bendera dan umbul-umbul dijual dengan harga bervariasi. Umbul-umbul dibanderol Rp35 ribu per lembar, sementara pembelian dalam jumlah besar mendapat harga khusus Rp500 ribu per kodi atau 20 lembar. Adapun bendera kecil untuk kendaraan dijual mulai Rp10 ribu hingga Rp25 ribu.
Menurut Dadan, setiap pedagang biasanya sudah memperkirakan stok berdasarkan penjualan tahun sebelumnya.
"Rata-rata omzet per orang sekitar Rp15 juta sampai Rp25 juta selama musim Agustusan. Jadi stok yang dibawa juga disesuaikan supaya tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit," ujarnya.
Dadan mengaku memilih kembali berjualan di Labuan Bajo karena merasa nyaman. Ia mengapresiasi kebijakan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melalui Satpol PP yang menyediakan lokasi khusus bagi pedagang musiman.
"Di sini kami diberi tempat untuk berjualan. Yang penting tidak memakai trotoar atau mengganggu fasilitas umum. Jadi kami bisa berjualan dengan tertib," katanya.
Ia berharap pemerintah di daerah lain juga memberikan ruang bagi pedagang musiman selama mereka menaati aturan.
"Banyak teman-teman di daerah lain yang tidak diizinkan berjualan, bahkan ada barang dagangannya yang diamankan. Harapan kami, pemerintah bisa memberikan tempat selama pedagang juga tertib dan tidak mengganggu fasilitas umum," ujarnya.
Menjelang HUT ke-81 RI, Dadan berharap masyarakat tetap memeriahkan Hari Kemerdekaan dengan mengibarkan bendera Merah Putih. Namun, baginya makna kemerdekaan lebih dari sekadar memasang bendera.
"Merdeka itu bukan hanya mengibarkan bendera, tetapi masyarakat juga harus merdeka secara ekonomi, mudah mendapat pekerjaan, hidup aman, dan sejahtera. Itu harapan kami untuk Indonesia," ujarnya. (*)