Ribuan Hektare Sawah di Tala Terancam Gagal Panen, Petani Diimbau Beralih ke Varietas Unggul Lokal
M.Risman Noor July 30, 2026 10:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI– Dampak musim kemarau yang melanda negeri ini termasuk di Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan, berpotensi makin meluas.

Selain menyebabkan ratusan hektare sawah mulai terganggu tumbuhkembangnya, ribuan hektare tanaman padi lainnya kini berada dalam status terdampak.

Apabila kondisi kering terus berkepanjangan, kondisi ini berpotensi menyebabkan kerusakan dan risiko gagal panen.

Data sementara dihimpun pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Distanhorbun) Kabupaten Tanahlaut, Kamis (30/7/2026), hingga 22 Juli lalu tercatat luas tanaman padi yang ada saat ini mencapai 3.440,25 hektare. 

Baca juga: Setelah Dapat Nomor Urut, Tiga Calon Rektor ULM Bakal Jalani Wawancara dengan Mendiktisaintek

Baca juga: Pendampingan Proyek RS Gambut Dihentikan Sejak Februari 2026, Kejari Banjar Temukan Penyimpangan

Dari jumlah tersebut, 2.452,75 hektare telah terdampak kekeringan, 2.490,75 hektare berpotensi terdampak, sementara 147 hektare dilaporkan mengalami kerusakan. 

Luasan tersebut merupakan tanaman yang diperkirakan memasuki masa panen pada Agustus hingga September 2026.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Distanhorbun Tanahlaut H Muhammad Fahrizal mengatakan kondisi tersebut terutama mengancam tanaman padi berumur panjang atau yang dikenal masyarakat sebagai padi tahun.

"Yang paling terdampak saat ini adalah tanaman padi tahun karena usianya lebih panjang. Sekarang sebagian besar baru memasuki fase berbunga, padahal pada fase itu tanaman sangat membutuhkan air. Sementara kondisi sawah sudah mulai kering," ujarnya.

Menurut Fahrizal, berbeda dengan padi tahun, petani yang menanam varietas unggul lokal seperti Siam Raza dan Siam Lani telah berhasil memanen hasil tanamannya sebelum kemarau mencapai puncaknya.

"Varietas unggul lokal itu umur tanamnya sekitar lima bulan. Bulan Juli ini banyak yang sudah panen dengan hasil cukup baik, termasuk di Kecamatan Kurau. Jadi mereka relatif lebih aman dari dampak kekeringan saat ini," jelasnya.

Ia menilai kondisi tersebut menjadi pelajaran penting bagi petani dalam menentukan pola tanam pada musim berikutnya. 

Distanhorbun Tala pun akan terus mendorong penggunaan varietas padi berumur lebih pendek yakni padi unggul lokal guna mengurangi risiko gagal panen akibat perubahan iklim.

"Kami akan terus mengedukasi dan mendorong petani agar mulai membudidayakan varietas unggul lokal seperti Siam Raza maupun Siam Lani. Dengan umur panen yang lebih singkat, risiko terdampak kemarau bisa ditekan," katanya.

Fahrizal menambahkan, pemerintah sebenarnya telah menyiapkan pompa air di masing-masing brigade pangan pada setiap kecamatan. 

Baca juga: Pantau Program Tukar Sampah dengan Sembako, Gubernur Kalsel : Harus Berkesinambungan

Namun, upaya tersebut belum mampu menjadi solusi maksimal karena sumber air juga ikut mengering.

"Pompa tersedia, tapi persoalannya sekarang sumber airnya yang sangat terbatas. Kalau tidak ada air yang bisa dipompa, tentu pengairan ke sawah juga tidak dapat dilakukan," ungkapnya.

Ia berharap curah hujan segera turun dalam waktu dekat agar tanaman padi yang kini memasuki fase kritis masih dapat diselamatkan. 
Jika kemarau bekepanjangan, luas kerusakan dikhawatirkan terus bertambah dan berdampak terhadap produksi padi serta pendapatan petani di Kabupaten Tanahlaut. (banjarmasinpost.co.id/roynalendra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.