Begini Cara Ilmuwan Membuat Emas di Laboratorium
Joko Widiyarso July 30, 2026 11:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Kalau mendengar emas ternyata bisa dibuat di laboratorium, banyak orang mungkin langsung bertanya-tanya: kalau memang bisa, kenapa manusia masih repot-repot menambang emas?

Jawabannya ternyata ada pada cara emas dibuat.

Secara teori, ilmuwan memang bisa mengubah unsur lain menjadi emas. 

Caranya bukan lewat reaksi kimia seperti yang dibayangkan para alkemis selama berabad-abad, melainkan dengan mengubah inti atom menggunakan reaksi nuklir.

Kuncinya ada pada satu angka sederhana: jumlah proton.

Bedanya Emas dan Merkuri Hanya Satu Proton

Setiap unsur kimia dibedakan berdasarkan jumlah proton di dalam inti atomnya.

Emas memiliki 79 proton, sedangkan merkuri memiliki 80.

Karena itu, secara teori, merkuri dapat diubah menjadi emas apabila inti atomnya kehilangan satu proton.

Masalahnya, mengubah jumlah proton tidak bisa dilakukan dengan reaksi kimia biasa.

Reaksi kimia hanya mengatur ulang elektron dan ikatan antaratom. 

Inti atom tetap utuh.

Untuk mengubah merkuri menjadi emas, ilmuwan harus melakukan transmutasi nuklir, yaitu mengubah susunan inti atom melalui reaksi nuklir.

Inilah bagian yang dulu tidak dimiliki para alkemis. 

Mereka mencoba mengubah logam menggunakan zat kimia, padahal yang harus diubah justru berada jauh di dalam inti atom.

Manusia Sudah Berhasil Membuat Emas Secara Buatan

Transmutasi unsur bukan lagi sekadar teori.

Pada abad ke-20, para fisikawan berhasil menunjukkan bahwa satu unsur dapat diubah menjadi unsur lain melalui reaksi nuklir. 

Merkuri termasuk salah satu unsur yang dapat ditransmutasikan menjadi isotop emas melalui proses tersebut.

Namun, ada masalah besar: jumlah emas yang dihasilkan sangat kecil dan prosesnya membutuhkan fasilitas serta energi yang mahal.

Jadi, meskipun secara ilmiah manusia sudah mampu membuat emas, teknologi tersebut tidak bisa digunakan untuk menggantikan aktivitas pertambangan emas.

Kenapa Tidak Bikin Emas Sebanyak-banyaknya?

Kalau emas bisa dibuat, pertanyaan berikutnya cukup jelas: mengapa tidak membangun pabrik yang memproduksi emas?

Jawabannya adalah biaya.

Transmutasi nuklir membutuhkan kondisi dan fasilitas khusus untuk mengubah inti atom. 

Energi serta peralatan yang dibutuhkan jauh lebih mahal dibandingkan nilai emas yang dihasilkan.

Ada masalah lain yang tidak kalah penting.

Reaksi nuklir tertentu dapat menghasilkan isotop emas yang tidak stabil dan bersifat radioaktif, tergantung jenis reaksi yang digunakan.

Emas yang secara alami ditemukan di Bumi hampir seluruhnya berupa emas-197, isotop yang stabil. 

Sementara itu, emas yang dihasilkan melalui reaksi nuklir dapat berupa isotop lain yang harus meluruh terlebih dahulu sebelum menghasilkan bentuk yang stabil.

Dengan kata lain, membuat emas memang mungkin dilakukan. 

Tetapi membuat emas dalam jumlah besar dengan biaya yang masuk akal adalah persoalan yang sama sekali berbeda.

Ada Konsep Membuat Emas dari Reaktor Fusi

Menariknya, ide membuat emas secara buatan belum sepenuhnya ditinggalkan.

Perusahaan bernama Marathon Fusion pernah mengusulkan konsep yang menjadikan emas sebagai produk sampingan dari reaktor fusi.

Gagasannya memanfaatkan neutron yang dihasilkan dalam reaksi fusi untuk mengubah isotop merkuri tertentu. 

Hasil transmutasi tersebut kemudian dapat meluruh dan menghasilkan emas-197, isotop emas yang stabil.

Dalam konsep yang diajukan perusahaan tersebut, emas bukan menjadi tujuan utama pembangkit listrik. 

Emas justru diposisikan sebagai produk sampingan yang berpotensi menambah nilai ekonomi dari energi fusi.

Namun, ini masih merupakan konsep dan belum menjadi metode produksi emas komersial yang terbukti.

Artinya, manusia masih jauh dari kondisi ketika emas bisa diproduksi massal seperti barang industri biasa.

Lalu, Dari Mana Emas di Bumi Berasal?

Justru di sinilah cerita emas menjadi jauh lebih menarik.

Emas yang ditemukan di Bumi tidak terbentuk melalui proses kimia biasa di planet kita. 

Unsur seberat emas membutuhkan kondisi ekstrem yang tidak tersedia dalam reaksi fusi biasa di dalam bintang.

Salah satu proses penting dalam pembentukan unsur-unsur berat seperti emas adalah rapid neutron-capture process, atau r-process. 

Dalam proses ini, inti atom menangkap neutron dalam jumlah besar dengan sangat cepat sebelum mengalami peluruhan radioaktif.

Kondisi seperti ini dapat terjadi dalam peristiwa kosmik ekstrem, termasuk penggabungan dua bintang neutron yang menghasilkan ledakan kilonova.

Material yang terbentuk dari peristiwa tersebut kemudian tersebar ke ruang angkasa. 

Sebagian material itu akhirnya menjadi bagian dari awan gas dan debu yang membentuk Tata Surya, termasuk Bumi.

Jadi, emas yang sekarang ditemukan di tambang atau digunakan sebagai perhiasan sebenarnya memiliki sejarah yang jauh lebih tua daripada planet kita.

Setiap cincin, kalung, atau batangan emas yang ada sekarang kemungkinan membawa material yang terbentuk dalam peristiwa kosmik ekstrem miliaran tahun lalu.

Manusia memang sudah berhasil membuat emas di laboratorium. 

Namun dibandingkan dengan alam semesta, cara kita membuatnya masih sangat tidak efisien.

Kita bisa membuat emas. Tetapi untuk saat ini, jauh lebih murah mengambil emas yang sudah dibuat alam semesta miliaran tahun lalu.

(MG Farhatiy Rijal)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.