Pemkot Yogya Raih Penghargaan Reka Cipta Bhakti Nugraha 2026, 'Satu Kampung Satu Nakes' Jadi Kunci​
Joko Widiyarso July 30, 2026 11:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta kembali mengukir prestasi di sektor tata kelola dan penyelenggaraan pembangunan daerah.

​Terbaru, Kota Yogyakarta berhasil menyabet peringkat kedua penghargaan Reka Cipta Bhakti Nugraha yang digulirkan Pemerintah Daerah (Pemda) DIY.

Penghargaan diserahkan langsung oleh Gubernur Sri Sultan Hamengku Buwono X kepada Wali Kota Hasto Wardoyo, di Gedhong Pracimasana, Kompleks Kepatihan, Kamis (30/7/26).

​Pemberian penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas kualitas perencanaan, capaian pembangunan, serta keberadaan program unggulan yang dinilai mendukung penuh agenda pembangunan nasional.

​Meski hanya duduk di peringkat dua, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengutarakan rasa syukur atas capaian menempel Kabupaten Sleman di posisi puncak.

​"Penghargaan ini memberikan penilaian terhadap perencanaan dan realisasi pembangunan. Alhamdulillah Kota Yogyakarta berada di peringkat kedua setelah Sleman. Penilaiannya melihat perencanaan penyerapan keuangan dan realisasi fisik pembangunan. Hingga Juni lalu capaian kita sudah di atas 50 persen sehingga menunjukkan pembangunan berjalan sesuai target," ujarnya.

Implementasi program unggulan 

​Hasto menjelaskan, salah satu poin krusial yang mendongkrak penilaian Kota Pelajar yakni keberhasilan implementasi program unggulan "Satu Kampung Satu Tenaga Kesehatan".

​Inovasi tersebut dinilai efektif mendekatkan akses kesehatan ke masyarakat melalui skema jemput bola dan skrining kesehatan gratis di tingkat wilayah.

​"Program Satu Kampung Satu Tenaga Kesehatan dinilai positif karena implementasinya berjalan dengan baik. Pemeriksaan kesehatan gratis juga terlaksana, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat," katanya.

​Adapun Penghargaan Reka Cipta Bhakti Nugraha menggunakan kriteria penilaian berbasis pedoman Penghargaan Pembangunan Daerah dari Kementerian PPN/Bappenas.

​Terdapat tiga indikator utama, yakni kualitas perencanaan, capaian pembangunan, dan keselarasan program unggulan daerah dengan sasaran nasional.

​Pada ajang penilaian tahun 2026, Kabupaten Sleman keluar sebagai peringkat pertama dengan torehan nilai 90,9, disusul Kota Yogyakarta di posisi kedua (85,7), serta Kabupaten Kulon Progo di peringkat ketiga (83,0).

​Sementara itu, Gubernur Sri Sultan Hamengku Buwono X menggarisbawahi pentingnya pembenahan tata kelola pembangunan yang dimulai dari pengintegrasian data.

Ngarsa Dalem menilai, integrasi basis data kemiskinan menjadi kunci yang tidak boleh terpinggirkan, supaya tiap program intervensi tidak salah sasaran.

​"Tidak cukup mengurangi kemiskinan hanya melalui program bantuan. Upaya tersebut harus ditopang tata kelola pembangunan berbasis data terintegrasi agar meminimalkan kesalahan inklusi maupun eksklusi sehingga intervensi pemerintah benar-benar menyentuh masyarakat yang membutuhkan," tegasnya. (aka)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.