Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Upaya pemerintah mewujudkan kemandirian industri farmasi dinilai memiliki peluang besar untuk direalisasikan. Salah satu langkah strategis yang perlu diperkuat adalah hilirisasi bahan baku obat berbasis sumber daya dalam negeri.
Baca juga: Rektor Itera Ungkap Peluang Lampung Mengembangkan Bahan Baku Obat dari Sumber Alam
Rektor Institut Teknologi Sumatera (Itera), Elfahmi, mengatakan bahan baku obat Indonesia saat ini masih bergantung pada impor. Bahkan, menurutnya, angka ketergantungan tersebut lebih tinggi dari yang selama ini banyak disampaikan.
Hal itu dia ungkap dalam Podcast Tribun Lampung saat membahas masa depan industri farmasi nasional, Rabu (29/7/2026).
"Kalau saya boleh menyampaikan, angkanya bahkan bukan 70 sampai 80 persen, tetapi bisa lebih dari 90 persen. Yang dimaksud bahan baku obat itu ada yang disebut Active Pharmaceutical Ingredient (API), yaitu senyawa aktif atau zat berkhasiatnya. Selain itu ada juga bahan pembantu," kata Elfahmi.
Ia menjelaskan, hampir seluruh jenis obat membutuhkan bahan tambahan dengan fungsi berbeda-beda, mulai dari tablet, kapsul, obat cair, suspensi, hingga krim.
Menurutnya, seluruh bahan tersebut harus memenuhi standar pharmaceutical grade karena berkaitan langsung dengan keamanan pasien.
"Karena obat akan dikonsumsi manusia, maka seluruh bahan harus memenuhi standar keamanan, bebas dari pencemaran dan kontaminasi, serta memenuhi persyaratan mutu yang sangat ketat," ujarnya.
Meski demikian, Elfahmi memandang kondisi tersebut justru menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk membangun industri bahan baku farmasi sendiri melalui riset dan hilirisasi.
Menurutnya, jika bahan baku dapat diproduksi di dalam negeri, Indonesia tidak hanya mampu mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga memperkuat daya saing industri farmasi nasional.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)