Rektor Itera Ungkap Peluang Lampung Mengembangkan Bahan Baku Obat dari Sumber Alam
Robertus Didik Budiawan Cahyono July 30, 2026 11:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Provinsi Lampung dinilai memiliki peluang besar mengembangkan hilirisasi industri farmasi berbasis sumber daya alam. 

Baca juga: Itera Kembangkan PhysioAnx, Alat Skrining Kecemasan

Potensi tersebut dapat diwujudkan melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan pelaku usaha agar hasil riset dapat diolah menjadi produk bernilai tambah.

Rektor Institut Teknologi Sumatera (Itera), Prof. Elfahmi, menilai kekayaan biodiversitas Lampung, mulai dari tanaman obat hingga komoditas pertanian, dapat menjadi bahan baku industri farmasi, obat tradisional, suplemen kesehatan, kosmetik, dan berbagai produk kesehatan lainnya.

Potensi tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam podcast Pemimpin Redaksi Tribun Lampung Ridwan Hardiansyah bersama Prof. Elfahmi, Rabu (29/7/2026) di Studio Tribun Lampung. 

Berikut wawancara eksklusif dengan Rektor Itera Prof. Elfahmi, selengkapnya di bawah ini:

Pertanyaan: Bicara farmasi, ada pernyataan menarik dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Beliau menyebutkan bahwa sekitar 70–80 persen bahan baku pembuatan obat masih diimpor dari luar negeri. Bagaimana Bapak melihat kondisi ini di Indonesia?

Jawaban Prof. Elfahmi:

Kalau saya boleh menyampaikan, angkanya bahkan bukan 70–80 persen, tetapi bisa lebih dari 90 persen. Yang dimaksud bahan baku obat itu ada yang disebut Active Pharmaceutical Ingredient (API), yaitu senyawa aktif atau zat berkhasiatnya. Selain itu ada juga bahan pembantu. Dalam pembuatan tablet misalnya, tidak hanya terdiri dari satu bahan. Ada banyak bahan pembantu. Begitu juga kapsul, ada isi kapsul dan cangkangnya. Semua itu sebagian besar memang masih diimpor.

Pertanyaan: Apakah ada bahan inti dan ada bahan campurannya?

Jawaban Prof. Elfahmi:

Betul. Ada bahan aktif dan ada bahan pembantu. Jenis bahan pembantu ini sangat banyak, tergantung bentuk sediaannya. Apakah tablet, kapsul, suspensi, emulsi, obat cair, krim, dan sebagainya. Masing-masing membutuhkan bahan pembantu yang berbeda.

Pertanyaan: Berarti sebagian besar bahan tersebut masih diimpor?

Jawaban Prof. Elfahmi:

Ya, sebagian besar masih impor karena seluruh bahan tersebut harus memenuhi standar pharmaceutical grade, yaitu standar kualitas khusus untuk industri farmasi. Misalnya garam. Garam untuk cairan infus tentu tidak bisa menggunakan garam konsumsi biasa, tetapi harus garam dengan standar pharmaceutical grade. Begitu juga gula atau bahan pembantu lainnya, semuanya harus memenuhi standar khusus. Jadi ada standar kualitas tertentu. Karena obat akan dikonsumsi manusia, maka seluruh bahan harus memenuhi standar keamanan, bebas dari pencemaran dan kontaminasi, serta memenuhi persyaratan mutu yang sangat ketat.

Pertanyaan: Menarik juga, karena di sisi lain Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas, bahkan sering disebut peringkat kedua di dunia. Artinya kita memiliki begitu banyak sumber daya hayati yang sebenarnya berpotensi menjadi bahan obat. Mengapa potensi itu belum bisa dimanfaatkan secara optimal?

Jawaban Prof. Elfahmi:

Ini pertanyaan yang sangat bagus dan memang selalu saya sampaikan dalam berbagai forum ilmiah, baik seminar nasional maupun internasional. Saya selalu membanggakan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan biodiversitas terbesar di dunia. Kadang saya menyebut nomor dua, nomor lima, bahkan nomor satu. Mengapa nomor satu? Karena Indonesia adalah negara maritim. Jika kekayaan hayati laut atau marine natural products juga dihitung, seperti agar, ganggang, mikroorganisme, bakteri, dan berbagai spesies lainnya yang berpotensi menjadi sumber obat, maka kita sangat mungkin menjadi nomor satu di dunia. Namun, selama ini yang kita miliki baru sebatas kebanggaan. Eksplorasinya masih sangat terbatas. Yang juga perlu dipahami masyarakat adalah bahwa obat tidak bisa serta-merta digantikan oleh bahan alam. Sebagian besar obat modern merupakan senyawa sintetis. Berdasarkan Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023, sediaan farmasi terdiri atas beberapa kategori, yaitu obat, obat bahan alam, kosmetik, obat kuasi, dan beberapa kategori lainnya. Obat yang dimaksud dalam kategori obat adalah senyawa tunggal. Senyawa tersebut bisa berasal dari sintesis kimia maupun diisolasi dari bahan alam. Sebagai contoh tanaman tapak dara yang menghasilkan senyawa vincristine dan vinblastine sebagai obat kanker. Meskipun berasal dari tanaman, karena yang digunakan adalah senyawa murninya, maka tidak lagi dikategorikan sebagai obat herbal, melainkan obat. Sedangkan obat bahan alam menggunakan ekstrak atau fraksi yang masih mengandung banyak senyawa aktif. Jadi memang ada obat yang berasal dari bahan alam, tetapi sebagian besar obat modern saat ini dibuat melalui sintesis kimia. Bahkan jika awalnya ditemukan dari tanaman, karena kandungannya sangat sedikit, akhirnya diproduksi melalui sintesis kimia atau rekayasa genetika agar dapat diproduksi dalam jumlah besar.

Pertanyaan: Tadi Bapak menjelaskan soal impor bahan baku dan kekayaan biodiversitas Indonesia. Pemerintah juga sedang mendorong hilirisasi farmasi. Bagaimana Bapak melihat peluang tersebut? Lalu sebenarnya berapa besar kebutuhan obat di Indonesia setiap tahunnya?

Jawaban Prof. Elfahmi:

Hilirisasi memang sangat tepat dikaitkan dengan kemandirian bahan baku obat dan kemandirian kesehatan nasional. Kita harus memiliki semangat tinggi untuk mengeksplorasi seluruh potensi yang ada di Indonesia. Siapa tahu nantinya ada obat hasil penelitian anak bangsa yang benar-benar lahir dari Indonesia. Karena itu penelitian harus berujung pada produk hilir yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Kebutuhan obat di Indonesia sangat besar karena jumlah penduduk kita hampir 300 juta jiwa. Berdasarkan data terakhir yang saya lihat, nilai industri farmasi pada 2025 mencapai sekitar Rp143 triliun. Perlu dipahami, yang banyak diproduksi di Indonesia sebenarnya adalah produk jadinya. Sekitar 82 persen obat jadi diproduksi oleh industri dalam negeri, sedangkan sekitar 17–18 persen masih berupa produk impor. Namun yang saya bahas tadi adalah bahan bakunya. Banyak perusahaan farmasi besar di Indonesia memproduksi obat di dalam negeri, tetapi bahan bakunya masih berasal dari luar negeri. Nilai impor produk jadi sekitar 17 persen saja sudah mencapai sekitar 860 juta dolar AS atau sekitar Rp16 triliun. Dari situ saja terlihat bahwa prospek industri farmasi di Indonesia masih sangat besar.

Pertanyaan: Kalau begitu, persoalannya sebenarnya apa? Mengapa bahan baku tersebut belum bisa diproduksi di Indonesia? Apakah karena belum diolah atau ada faktor lain?

Jawaban Prof. Elfahmi:

Seperti yang saya jelaskan tadi, sebagian besar obat memang merupakan hasil sintesis. Misalnya parasetamol. Tidak ada parasetamol yang berasal langsung dari tanaman. Itu merupakan hasil sintesis kimia. Sebenarnya sebagian proses produksi parasetamol sudah dilakukan di Indonesia, tetapi belum seluruh tahapan. Selain itu, industri kita juga masih menghadapi tantangan daya saing sehingga sebagian besar tetap mengimpor. Namun, untuk penyakit tertentu kita memiliki peluang memanfaatkan kekayaan biodiversitas Indonesia melalui obat bahan alam. Obat tersebut bisa menjadi terapi utama pada kondisi tertentu atau menjadi terapi tambahan (adjuvant). Di Indonesia, obat bahan alam dibagi menjadi tiga kategori yang terdaftar di Badan POM.
Pertama adalah Jamu, yaitu produk yang didasarkan pada bukti empiris dan penggunaan turun-temurun masyarakat tanpa harus melalui pembuktian ilmiah. Kedua adalah Obat Herbal Terstandar (OHT). Pada kategori ini bahan bakunya harus sudah terstandarisasi dan klaim khasiatnya harus dibuktikan melalui uji praklinis, baik secara in vitro maupun in vivo, termasuk pengujian keamanan dan toksisitasnya.Kategori tertinggi adalah Fitofarmaka. Produk ini harus melalui seluruh tahapan uji praklinis dan uji klinis pada manusia, mulai fase 1, fase 2, hingga fase 3. Saat ini jumlah fitofarmaka di Indonesia baru sekitar 23 produk. Padahal Indonesia memiliki sekitar 30.000 spesies tanaman. Artinya peluang pengembangannya masih sangat besar. Kegunaan Fitofarmaka umumnya digunakan untuk diabetes, hiperlipidemia atau kolesterol tinggi, dan beberapa penyakit lainnya.
Namun yang saya kembangkan tidak hanya produk akhirnya. Saya juga mengembangkan hilirisasi senyawa marker, yaitu senyawa yang digunakan sebagai standar mutu obat herbal. Selama ini senyawa marker banyak dibeli dari luar negeri, bahkan dari Jerman. Padahal bahan bakunya berasal dari Indonesia.
Saya pernah mengetahui ada peneliti Indonesia yang membeli senyawa miristisin dari Jepang, padahal Indonesia memiliki pala yang sangat melimpah. Inilah yang saya maksud dengan hilirisasi, yaitu memberikan nilai tambah terhadap kekayaan hayati kita. Alhamdulillah, produk tersebut sekarang sudah kami komersialisasikan dan digunakan oleh para peneliti di Indonesia. Dulu para peneliti selalu menulis di jurnal bahwa bahan yang digunakan dibeli dari perusahaan luar negeri seperti Sigma-Aldrich di Jerman. Sekarang sudah mulai banyak jurnal yang mencantumkan bahwa senyawa tersebut dibeli dari perusahaan Indonesia. Artinya kita mulai mampu mensubstitusi produk impor harga jualnyany jauh lebih murah tidak perlu menunggu impor. Ini memang masih langkah kecil, tetapi menjadi kebanggaan bahwa kita mulai mampu menggantikan produk impor dengan produk dalam negeri.

Pertanyaan: Artinya peluang hilirisasi farmasi masih sangat terbuka?

Jawaban Prof. Elfahmi:

Sangat besar. Potensinya luar biasa dan itu yang menjadi semangat yang saya bawa ke Itera.
Beberapa waktu lalu saya diundang Gubernur bersama seluruh bupati dalam kunjungan Menteri PPN/Kepala Bappenas. Dalam kesempatan itu dipaparkan besarnya potensi sumber daya alam Lampung. Singkong misalnya, produksinya termasuk yang terbesar di dunia. Kami sendiri sudah mengembangkan beberapa produk hilir berbasis singkong. Selama ini masyarakat mengenal mocaf (Modified Cassava Flour), tetapi kami juga mengembangkan cassava bioflavonoid yang berasal dari daun singkong. Kalau produk tersebut berkembang menjadi produk komersial, nilainya akan sangat besar. Belum lagi pala yang juga melimpah di Lampung. Selama ini masyarakat hanya menjual biji pala kering dengan harga relatif rendah. Padahal dengan teknologi yang tepat, kita bisa menghasilkan oleoresin pala yang memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi. Ekspornya pun tidak perlu dalam jumlah tonase besar, tetapi nilai tambahnya jauh lebih tinggi. Itulah makna hilirisasi, yaitu memberikan nilai tambah terhadap potensi sumber daya alam Lampung.

Pertanyaan: Kalau dari sisi sumber daya manusia, apakah kita sudah siap untuk mendukung pengembangan hilirisasi farmasi?

Jawaban Prof. Elfahmi:

SDM tentu akan terus berkembang. Kita tidak pernah bisa mengatakan bahwa jumlah SDM sudah cukup untuk mengeksplorasi seluruh potensi farmasi Indonesia. Di sinilah peran perguruan tinggi seperti Itera menjadi sangat penting. Itera dibentuk pemerintah sekitar 12–14 tahun yang lalu dengan amanah kepada ITB untuk membangunnya. Semangatnya adalah menghadirkan institut teknologi di Sumatera yang mampu mencetak sumber daya manusia unggul, melakukan riset, dan menghasilkan inovasi yang mendukung pembangunan daerah maupun nasional, termasuk dalam pengembangan hilirisasi industri farmasi. Sehingga kita harus kolaborasi dengan, kemarin Badan POM juga sudah kolaborasi dengan pemerintah, baik pemerintah Indonesia, nasional, pemerintah daerah, Pemprov. Nah ini baru kita ketemu dari beberapa stakeholder ya. Hampir setiap hari kita ketemu, termasuk dengan Bupati Pringsewu. Dia bawa langsung ke daerah dengan timnya, dengan koperasi, hilirisasi yang singkong. Ini tentu peluang besar untuk Lampung ke depan. 

Itulah wawancara eksklusif dengan Rektor Itera Prof Elfahmi. 

Sebagai informasi, Prof. Elfahmi resmi menjabat Rektor Itera sejak 1 Juli 2026. Sebelumnya, ia menjabat Direktur Riset dan Inovasi Institut Teknologi Bandung (ITB) serta pernah menjadi Wakil Dekan Akademik Sekolah Farmasi ITB.

Memiliki latar belakang keilmuan farmasi bahan alam, ia telah mendedikasikan lebih dari separuh hidupnya untuk meneliti obat herbal, mulai dari pengobatan tradisional hingga pemanfaatan teknologi modern.

(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.