Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Nilai industri farmasi Indonesia pada 2025 mencatatkan angka fantastis hingga mencapai sekitar Rp143 triliun. Besarnya nilai pasar tersebut dinilai sebagai peluang emas bagi bangsa Indonesia untuk mengakselerasi hilirisasi riset sekaligus memperkuat kemandirian sektor kesehatan nasional.
Baca juga: Rektor Itera Ungkap Peluang Lampung Mengembangkan Bahan Baku Obat dari Sumber Alam
Rektor Institut Teknologi Sumatera (Itera), Prof. Elfahmi, Ph.D., mengungkapkan bahwa nominal pasar yang sangat tinggi tersebut membuktikan betapa masifnya potensi pasar farmasi di dalam negeri yang masih sangat terbuka untuk dikembangkan.
"Hilirisasi memang sangat tepat dikaitkan dengan kemandirian bahan baku obat dan kemandirian kesehatan nasional," ujar Elfahmi saat menjadi narasumber dalam siniar bertema 'Menilai Potensi Hilirisasi Industri Farmasi di Lampung' di Studio Tribun Lampung, pada Rabu (29/7/2026).
Elfahmi menguraikan, secara kemampuan produksi fisik, industri dalam negeri sebenarnya telah sanggup memenuhi sekitar 82 persen kebutuhan obat jadi nasional.
Namun, ketergantungan yang amat tinggi terhadap bahan baku impor masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar yang harus diurai bersama.
Bahkan, nilai impor produk obat jadi yang persentasenya tergolong kecil, yakni hanya sekitar 17 persen, tetap menyerap dana yang sangat besar hingga mencapai 860 juta dolar AS atau berkisar Rp16 triliun.
"Banyak perusahaan farmasi besar di Indonesia memproduksi obat di dalam negeri, tetapi bahan bakunya masih berasal dari luar negeri. Dari situ saja terlihat bahwa prospek industri farmasi di Indonesia masih sangat besar," terangnya.
Guna mengoptimalkan nilai industri Rp143 triliun tersebut agar tidak mengalir ke luar negeri, Elfahmi menekankan krusialnya kolaborasi erat antara pemerintah, perguruan tinggi, serta pelaku industri.
Sinergi ini diperlukan agar hasil riset berbasis bahan lokal dapat dihilirisasi menjadi produk substitusi impor yang kompetitif.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)