55 Wakil UEFA Kompak Boikot Piala Dunia, FIFA Ancam Anggotanya Setujui Penjualan Saham FFE
Beri Bagja July 31, 2026 02:33 AM

MUHAMMAD ALIF AZIZ MARDIANSYAH/BOLASPORT.COM
Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengulitmatum negara anggota untuk menyetujui program penjualan saham Piala Dunia.

BOLASPORT.COM - Uni Sepak Bola Eropa (UEFA) memberikan respons tegas soal rencana Gianni Infantino dkk menjual kepemilikan saham Piala Dunia melalui entitas bisnis mereka, FIFA Forward Enterprise (FFE).

Melalui rapat virtual pada Kamis (30/7/2026), UEFA menyampaikan sikap resmi untuk memboikot Piala Dunia jika otoritas pimpinan Gianni Infantino tetap mengeksekusi rencana penjualan saham turnamen garapan mereka kepada investor.

Tak tanggung-tanggung, sebanyak 55 negara atau semua asosiasi anggota UEFA menyatakan perlawanan kepada FIFA.

"UEFA dan 55 asosiasi anggotanya bersatu padu. Kami dengan suara bulat dan tegas menolak usulan FIFA untuk mengalihkan hak kepemilikan Piala Dunia dan kompetisi FIFA lainnya kepada investor swasta."

"Piala Dunia tidak boleh diperlakukan sebagai produk investasi. Ini adalah salah satu warisan olahraga terbesar dalam dunia sepak bola."

"Piala Dunia telah dibangun selama beberapa generasi oleh para pemain, tim nasional, dan suporter di seluruh benua."

"Tidak ada bagian darinya yang boleh diserahkan kepada investor swasta. Piala Dunia tidak untuk dijual," demikian pernyataan resmi badan sepak bola tertinggi Eropa.

Sebelumnya, Infantino menyampaikan rencana pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE), anak perusahaan yang akan mengatur penjualan hak-hak komersial dan operasional turnamen yang mereka kelola.

Entitas bisnis ini ditaksir memiliki valuasi sekitar 20 miliar dolar AS (361 triliun rupiah).

Dengan menjual 20 persen kepemilikannya kepada investor, cuan yang ditargetkan Infantino dkk sebesar 4 miliar dolar AS (68 triliun rupiah).

Bukannya luluh dengan kritik dan kecaman sana-sini, Infantino melepas serangan balik dengan menyampaikan ultimatum kepada negara anggota FIFA untuk menyetujui proposal tersebut.

Penjualan saham FFE baru bisa terwujud jika mereka mendapatkan dukungan suara dari kongres dan 50 persen lebih dari total negara anggota (211).

Karena itu, Infantino diklaim memberi ancaman dengan memotong 75 persen dana pengembangan kepada setiap member jika tidak meneken surat persetujuan proyek ini.

Kubu FIFA berdalih uang hasil penjualan saham tersebut akan dialirkan kembali untuk membantu pembangunan infrastruktur, kompetisi, dan pengembangan sepak bola setiap anggotanya.

Mereka dijanjikan mendapatkan suntikan 20 juta dolar AS (361 miliar rupiah) untuk siklus pendanaan 2027-2030 dan akan terus tumbuh di siklus berikutnya.

Asosiasi anggota diberikan waktu hingga September 2026 guna menentukan sikapnya agar proses aliran dana bisa segera dimulai pada Januari 2027.

 

Presiden FIFA Gianni Infantino (kiri) berbincang dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Ruang Oval Gedung Putih, Jumat (7/3/2025).
JIM WATSON/AFP
Presiden FIFA Gianni Infantino (kiri) berbincang dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Ruang Oval Gedung Putih, Jumat (7/3/2025).

Praktik Suap dan Intimidasi

Gianni Infantino menegaskan penjualan saham FFE hanya bersifat kepemilikan minoritas (20 persen) dan para investor tidak akan ikut mencampuri urusan manajerial turnamen.

"FFE sebenarnya adalah sebuah usulan, sebuah tawaran. Ini merupakan bagian dari proses demokratis, proses konsultasi, dan, yang terpenting, ini adalah sebuah peluang, bukan kewajiban," kata Infantino, dikutip BolaSport.com dari AFP.

"Program ini hanya akan mengomersialkan dan mengatur semua kompetisi beserta sponsor, siaran, lisensi, dan usaha baru demi kepentingan 211 asosiasi anggota."

"Penggemar dari seluruh penjuru dunia akan memperoleh manfaat yang tak terkira dari potensi perubahan besar ini karena akan mengubah sepak bola di negara mereka," katanya.

Namun, pihak yang kontra meyakini janji tersebut adalah bentuk intimidasi politis dan suap terselubung.

Negara anggota FIFA terpaksa menghadapi pilihan sulit untuk menyetujui proposal privatisasi ini kalau tak mau kekurangan injeksi dana yang dibutuhkan, apalagi buat negara-negara kecil.

"Asosiasi-asosiasi nasional di seluruh dunia kini dihadapkan pada ultimatum: menerima atau menanggung konsekuensinya," balas UEFA.

"Ini bukanlah 'keputusan demokratis', melainkan tata kelola melalui intimidasi, tindakan paksaan yang tidak pantas dilakukan lembaga yang dipercayakan untuk mengelola permainan global ini."

Badan pimpinan Aleksandar Ceferin juga menegaskan kekhawatiran turnamen sepak bola termegah di dunia disusupi kepentingan titipan dari investor. Imbasnya, elite-elite ini bisa menentukan dan mengubah arah sampai regulasi kompetisi itu sendiri.

 

Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, memprotes rencana FIFA memprivatisasi Piala Dunia.
ARIS MESSINIS/AFP
Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, memprotes rencana FIFA memprivatisasi Piala Dunia.

Apalagi, jelas-jelas Infantino mencantumkan perusahaan milik tokoh lingkaran keluarga Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebagai pemimpin grup investor itu.

"Begitu investor eksternal memperoleh kepemilikan atas kompetisi, sepak bola akan berubah selamanya. Keuntungan komersial menjadi kewajiban permanen," lanjut UEFA.

"Harapan investor menjadi tekanan sehari-hari. Mulai saat itu, setiap keputusan terkait kalender internasional, format kompetisi dan setiap keputusan yang membentuk masa depan sepak bola tidak lagi didorong oleh apa yang terbaik bagi olahraga ini, melainkan apa yang terbaik bagi para pemegang saham."

"Sepak bola tidak boleh menggadaikan masa depannya demi keuntungan finansial."

"Posisi Eropa jelas. Sebagai hasil dari pembahasan hari ini, tidak ada tim nasional dari UEFA yang akan berpartisipasi dalam kompetisi FIFA apa pun selama proposal-proposal ini masih berlaku."

"Kecuali jika proposal ini telah ditinggalkan sepenuhnya dan jaminan yang mengikat telah diberikan bahwa FIFA tidak akan pernah lagi membuka tata kelola atau kompetisinya untuk kepemilikan swasta.

"Piala Dunia adalah milik sepak bola. Selamanya akan demikian. Dan selama Eropa masih memiliki suara, Piala Dunia tidak akan pernah dijual."

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.