Gelandang Brentford, Jordan Henderson, kerap dipuji sebagai sosok pemimpin dan figur berpengalaman di ruang ganti. Namun, mengapa justru ada sebagian suporter The Bees yang gembira melihat kepergiannya?
Jordan Henderson meninggalkan Brentford setelah semusim berada di Gtech, tetapi tidak semua pendukung The Bees merasa sedih melihatnya pergi.
Pemain berusia 36 tahun itu menandatangani kontrak berdurasi dua tahun bersama Brentford pada musim panas lalu. Namun, kontrak tersebut diakhiri atas kesepakatan bersama agar Chelsea bisa menuntaskan transfer bebas dan melanjutkan rencana mereka untuk menyatukan kembali skuad Sunderland musim 2010/11, setelah sebelumnya mencapai kesepakatan untuk merekrut Danny Welbeck.
Dengan reputasi sebagai pemimpin seperti itu, tentu muncul anggapan bahwa para penggemar akan merasa kehilangan saat ia hengkang, bukan?
Dalam pernyataan yang menyentuh di situs resmi The Bees, Henderson mengucapkan terima kasih kepada klub London barat itu karena telah memberinya kesempatan kembali ke Liga Primer setelah sempat bermain di Arab Saudi dan di Ajax. Ia juga menyampaikan penghormatan kepada staf, pemilik klub, rekan-rekan setim, dan “yang paling utama”, para suporter.
“Dukungan mereka tidak pernah berubah, dan hubungan yang mereka miliki dengan klub sangat jelas terlihat,” tulis Hendo. “Mereka sangat peduli kepada Brentford dan mereka mendukung tim dengan cara yang tepat di setiap langkah perjalanan.”
Namun, tidak semua pendukung Brentford membalas perasaan itu dengan nada yang sama—dan alasannya bukan semata-mata karena penggantinya disebut-sebut akan datang lewat transfer pemecah rekor klub untuk talenta Ligue 1 yang sangat dihargai, Mamadou Sangare, menurut The Athletic.
Mantan pemain The Reds itu memang tidak sedang berada dalam performa terbaik pada paruh kedua musim. Akan tetapi, ia dianggap benar-benar merusak hubungannya dengan banyak fans dalam laga yang bisa dibilang sebagai pertandingan terbesar dalam sejarah Brentford, yakni pada hari terakhir musim lalu. Tim asuhan Keith Andrews bertandang ke Anfield untuk menghadapi Liverpool yang dinilai sangat mungkin dikalahkan, dengan Yehor Yarmolyuk sedang cedera dan Henderson masuk ke dalam susunan pemain.
Henderson memang tidak memainkan laga terbaiknya, tetapi kemarahan besar mulai muncul ketika nomor punggungnya diangkat oleh ofisial keempat. Saat Brentford tertinggal satu gol setelah satu jam pertandingan, sang gelandang berjalan sangat santai saat meninggalkan lapangan, menikmati tepuk tangan dari publik Merseyside dan berjabat tangan dengan mantan rekan-rekan setimnya. Sejumlah pihak menilai ia memperlakukan pertandingan yang sangat penting itu layaknya kesempatan bernuansa laga perpisahan untuk mendapatkan salam perpisahan dari fans Liverpool yang tidak pernah ia terima saat hengkang pada 2023.
“Kalau Anda pikir itu sudah buruk, setelahnya dia malah tertawa dan bercanda dengan lawan saat laga usai lalu melakukan lap of honour SEBELUM mengakui keberadaan kami, sementara semua pemain dan staf lain berdiri di depan tribun tandang dalam keadaan sangat terpukul,” tulis seorang suporter Brentford di X, yang dulu bernama Twitter. Banyak pengikut The Bees lainnya ikut menimpali dengan sebutan seperti “kacau”, “memalukan”, dan “egois”.
Tidak ada yang meragukan bahwa Henderson adalah seorang pemimpin di antara rekan-rekannya, sebagaimana dibuktikan lewat pemilihannya untuk Piala Dunia 2026 serta pujian terbuka yang begitu positif dari pemain seperti Jude Bellingham dan Morgan Rogers. Namun, ini jelas bukan pertama kalinya sang bintang membuat suporter merasa kesal.
Pada 2023, kepindahannya ke Al-Ettifaq menuai kritik keras dari banyak pihak, mengingat Henderson sebelumnya dikenal sebagai sekutu kuat komunitas LGBTQ+.
“Saya tenang karena tahu persis siapa diri saya dan apa yang saya perjuangkan,” jelas Henderson dalam wawancara kontroversial dengan Adam Crafton dan David Ornstein dari The Athletic ketika membahas kepindahan itu. “Tetapi saya paham, dan saya bisa menerima, bahwa tidak semua orang akan mengerti hal itu. Jadi karena itulah saya hanya bisa meminta maaf kepada orang-orang tersebut jika mereka merasakan seperti itu.”
Akan sangat menarik untuk melihat seperti apa sambutan yang akan diterima pemain timnas Inggris itu ketika ia kembali ke Brentford musim depan.