Kekerasan Antisemitisme di Luar Israel Tembus Rekor Tertinggi pada 2025
Tribunnews July 31, 2026 04:34 AM

Sebuah laporan yang dirilis oleh Kelompok Satuan Tugas Penanggulangan Antisemitisme J7 mengungkap adanya rekor lonjakan serangan antisemitisme di seluruh dunia.

Laporan yang dirilis J7 pada Rabu (29/07) itu meneliti komunitas Yahudi di Argentina, Australia, Kanada, Prancis, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat (AS). Lokasi tersebut secara keseluruhan menjadi tempat tinggal bagi lebih dari 90% penduduk Yahudi di luar Israel.

J7 menyoroti bahwa sekitar 20 orang dibunuh dalam serangan antisemitisme di Australia, Inggris, dan AS pada tahun 2025. Laporan tersebut menyebutnya sebagai "tahun paling mematikan untuk serangan antisemitisme di kalangan diaspora ... sejak serangan AMIA di Buenos Aires, Argentina, pada tahun 1994."

Serangan AMIA adalah pengeboman yang menargetkan pusat komunitas Yahudi dan menewaskan 85 orang.

Peristiwa paling mematikan pada tahun 2025 adalah penembakan massal di festival Hanukkah dekat Pantai Bondi di Australia yang menewaskan 16 orang.

"Antisemitisme di tujuh negara tersebut bukan lagi sekadar lonjakan. Itu telah menjadi ‘kenormalan baru' bagi kami," terang gugus tugas J7 dalam sebuah pernyataan.

"Pemerintah harus berhenti sekadar merespons setelah orang Yahudi diserang dan mulai bertindak sejak awal dengan pendanaan keamanan yang memadai, undang-undang yang lebih kuat, serta platform media sosial yang menegakkan aturan mereka sendiri," bunyi pernyataan tersebut.

Laporan J7 mendapati lebih dari 23.000 insiden antisemitisme di tujuh negara itu pada tahun 2025. Jumlah ini melonjak tajam dari 9.800 kasus yang tercatat pada tahun 2022.

Perang Gaza jadi salah satu faktor

Laporan tersebut menyoroti bahwa antizionisme tampak menjadi faktor pendorong utama untuk peningkatan antisemitisme. Faktor ini menyumbang 48% insiden di Inggris dan 45% di AS.

Berdasarkan laporan tersebut, insiden meningkat pada tahun-tahun setelah perang Gaza yang dipicu oleh serangan mematikan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Laporan tersebut juga mengungkap adanya kenaikan sebesar 136?lam insiden antisemitisme dari tahun 2022 hingga 2025.

Meskipun jumlah total insiden menurun dari tahun 2024 hingga 2025, masih dalam laporan J7, angka tersebut tetap berada jauh di atas tingkat kasus sebelum 7 Oktober 2023.

Jerman catat kasus tertinggi

Meskipun Australia menempati peringkat teratas di antara tujuh negara tersebut dalam hal lonjakan tajam insiden antisemitisme, Jerman tercatat sebagai negara dengan jumlah insiden antisemitisme tertinggi baik secara absolut maupun relatif menurut laporan tersebut. Jika dibandingkan, jumlah kasus di Jerman hampir lima kali lipat tingkat Australia.

Pada tahun 2025 terdapat hampir 70 insiden per 1.000 penduduk Yahudi dengan total 8.725 kasus, yang meningkat dari 8.713 kasus pada tahun 2024 dan 2.610 kasus pada tahun 2022.

Ekstremisme sayap kanan diduga menjadi penyebab 807 kasus dari total tersebut. Jumlahnya meningkat dari 562 kasus pada tahun 2024.

Sementara itu jumlah serangan antisemitisme yang dikaitkan dengan ekstremisme sayap kiri yang antiimperialis juga meningkat dari 349 menjadi 501 kasus. Insiden yang terkait dengan ekstremis Islam meningkat dari 143 menjadi 166 kasus.

Laporan tersebut mendapati bahwa "aktivisme anti-Israel" menyumbang 22,6?ri seluruh insiden yang tercatat di Jerman pada tahun 2025.

Presiden Dewan Pusat Yahudi Jerman Josef Schuster mengatakan angka-angka tersebut mencerminkan "normalisasi antisemitisme yang terus berlanjut" di Jerman.

Schuster menyerukan kepada para pembuat undang-undang "untuk menutup celah hukum yang ada dalam hukum pidana dan secara konsisten mengkriminalisasi seruan untuk penghancuran Negara Israel."

Diadaptasi dari bahasa Inggris oleh Muhammad Hanafi

Editor: Hani Anggraini

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.