Oleh: Ansel Deri
Mahasiswa Magister Studi Pembangunan UKSW Salatiga; Penulis Buku Jokowi.
POS-KUPANG.COM - Di salah satu sudut Jakarta tempo doeloe, massa berjubel menunggu Joko Widodo ( Jokowi). Sekadar menyapa dan bersalaman dengan Jokowi bisa saja menjadi kerinduan paripurna warga.
Sebagai jurnalis apalagi wong deso yang sedikit lama mengakrabi Ibu Kota dalam tugas pewartaan naluri jurnalistik tak padam.
Semangat yang menggumpal dalam hati, mirip motto pemadam kebakaran: pantang pulang sebelum padam.
Baca juga: Opini: Jokowi, Presiden "Terbaik"
Jokowi menjadi bintang baru dalam jagat politik nasional selepas dari jabatan Wali Kota Solo bersama wakilnya, Fransiskus Xaverius Hadi Rudyatmo masa tugas periode 2010-2015 sebelum akhirnya, di tengah jalan Jokowi terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Jokowi ibarat meteor yang melejit cepat lalu jejak pengabdiannya bagi rakyat, bangsa, dan negara —meminjam potongan syair lagu Bengawan Solo karya Gesang Martohartono alias Gesang—mengalir sampai jauh.
Dalam jagat sejarah politik tanah air, Jokowi bukanlah tipikal politisi yang grasah-grusuh, tergesa-gesa, terburu-buru, dan bertindak tanpa perhitungan matang.
Jejak kepemimpinannya sejak menjabat Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta hingga dipercaya rakyat Indonesia menjadi Presiden dua periode adalah legasi indah yang layak dikenang lepas dari plus-minus sebagai seorang manusia biasa.
Jokowi boleh jadi memegang teguh warisan (legasi) keteladanan dari kedua orangtua, pasangan suami-istri Widjiatno Notomihardjo dan Sudjiatmi Notomihardjo yang berprofesi sebagai pedagang kayu di Jawa Tengah tempo doeloe.
Meski beban hidup ekonomi membelit keluarganya semasih kecil di Jawa Tengah, terutama Solo, kerja keras, semangat juang seolah tak boleh tanggal dalam dirinya.
Keberpihakan kepada orang kecil menjadi keutamaan Jokowi dan keluarga. Sisi lain ini kelak tercermin dalam ziarah politik Jokowi sebagai pemimpin.
Politik boleh jadi dipahami Jokowi sebagai cara mengabdi rakyat kala mandat formal merapat.
Makna politik bagi Jokowi seolah bergerak, menukik lebih dalam, ke relung rakyat kecil di pelosok negeri semisal di tanah Papua, Lampung atau Nusa Tenggara Timur, dan lain-lain. Makna itu seperti penggalan syair Bengawan Solo di atas: mengalir sampai jauh. Mengapa?
Sejarah perjalanan politik sejak Indonesia merdeka, melahirkan pemimpin negara dengan gaya kepemimpinan sesuai langgamnya.
Mulai Presiden Soekarno, Soeharto, Bacharuddin Jusuf ((BJ) Habibie, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Hj. Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, Ir. Joko Widodo (Jokowi) hingga H. Prabowo Subianto.
Para pemimpin negeri ini sejak Indonesia Merdeka menjadikan politik untuk kebaikan bersama atau kepentingan umum (bonum commume).
Jokowi, misalnya, tak pernah terbayang publik kelak akan menjadi Presiden Republik Indonesia dua periode. Gaya kepemimpinan apa adanya ibarat magnet, menarik simpati publik.
Selama mengemban mandat formal sebagai Gubernur DKI Jakarta hingga Presiden dua periode ia tampil sebagai pemimpin yang menyatu dengan rakyat.
Selama mengemban mandat formal sebagai pemimpin sejak dari Solo, Gubernur DKI hingga Presiden, Jokowi sungguh menyadari makna dan esensi politik. Paling kurang dapat dilihat berikut ini.
Pertama, politik merupakan aspek fundamental kehidupan manusia sebagai warga bangsa.
Politik merupakan ruang publik di mana aneka kepentingan warga bangsa bermuara meraih kebaikan bersama.
Kepentingan dimaksud entah menyentuh elite, aparat, pers, petani, pedagang asongan, tukang cukur, penjual sayur, guru honorer, mahasiswa, supir, cleaning service, petugas pom bensin, dan lain sebagainya.
Ini menunjukkan esensi politik sesungguhnya. Jokowi sungguh menyadari esensi politik tersebut selama mengemban mandat formal memimpin rakyat di setiap level pengabdiannya. Meski kerap politik dilihat segelintir elite bahkan rakyat dari sisi berbeda.
Persis itulah apa yang disebut Frumen Gions dalam Gereja Itu Politis (2012), kita hidup dengan pemahaman dan bahkan keyakinan bahwa politik itu sama dengan tipu muslihat dan laku tercela.
Berpolitik berarti berikhtiar dengan kotor, bergelut dengan dusta, bertingkah dengan kasar dan berjuang dengan korup.
Politik adalah wilayah penuh intrik, dendam kesumat. Padahal, kenyataan-kenyataan buruk bisa muncul dalam kehidupan bersama lantaran kita sendiri tak punya sensivitas untuk kehidupan sosial.
Di sinilah ujian paling berat bagi pemimpin dalam memahami esensi dan makna politik paling penting.
Kedua, makna politik bagi Jokowi juga bisa berpijak dari memori kolektif sejak masih kecil hingga remaja bersama kedua orangtua serta saudarinya di Jawa Tengah. Esensi politik sejati mengabdi kebaikan umum bersemayam dalam hati.
Menurut Bimo Nugroho dan Ajianto Dwi Nugroho dalam Jokowi: Politik Tanpa Pencitraan (2012), Jokowi apa adanya.
Ia anak tukang kayu yang hidup dalam kondisi memperihatinkan dari bantara Kali Anyar, sebelah utara Terminal Tirtonadi Solo. Bersama kedua orangtua, Jokowi memempati rumah berukuran 7 x 30 meter di mana bagian depannya dipenuhi perabotan bambu dan kayu.
Politik adalah jembatan yang dilalui Jokowi mengabdi bangsa dan negara. Megawati, Ketua Umum PDIP merestuinya masuk bursa Pilkada dan terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Jalan lapang kemudian mengantarnya hingga menjadi Presiden dua periode. Ia menjalankan politik apa adanya. Apa anane, ora neko-neko (apa adanya, tidak punya keinginan macam-macam).
Pengamat politik Papua Frans Maniagas dalam epilog buku Jokowi (2023) melukiskan Jokowi adalah presiden yang melihat Indonesia, terutama wilayah timur seperti tanah Papua secara holistik dalam disain kebijakan pembangunan.
Kunjungan Jokowi ke bumi Cenderawasih dan Nusa Tenggara Timur saat menjabat Presiden dalam intensitas tinggi adalah bentuk perhatian seorang pemimpin bagi rakyatnya.
Kunjungan Presiden Jokowi ke wilayah-wilayah itu tak sekadar dimaknai sebagai kunjungan kerja seorang kepala negara dan kepala pemerintahan.
Namun, substansinya yaitu pemerintah harus melakukan intervensi dalam rangka memacu terjadinya peningkatan derajat mencapai kesejahteraan dalam kesetaraan.
Apa yang terjadi sejak Indonesia merdeka yaitu kemiskinan dan kesenjangan di wilayah-wilayah; sesuatu yang selalu menjadi momok bagi keberlanjutan dan keberlangsungan Republik Indonesia. (*)