Apa Itu Toxic Positivity? Saat Ucapan Positif Justru Bisa Berdampak Buruk
Hari Susmayanti July 31, 2026 10:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM- Pernah tidak, saat sedang sedih justru mendapat respons seperti, "Jangan nangis, semangat aja!", "Masih banyak yang lebih susah dari kamu," atau "Harus tetap positif ya."

Kalimat seperti itu memang terdengar menenangkan. Namun, dalam beberapa situasi, ucapan tersebut justru membuat seseorang merasa emosinya tidak dianggap.

Fenomena ini dikenal sebagai toxic positivity, yaitu dorongan untuk selalu berpikir positif hingga mengabaikan atau menekan emosi yang sebenarnya sedang dirasakan.

Belakangan, istilah ini semakin sering dibahas di media sosial karena berkaitan dengan kesehatan mental.

Lalu, apa sebenarnya toxic positivity? Mengapa sikap yang terlihat positif justru bisa memberikan dampak kurang baik?

Apa Itu Toxic Positivity?

Toxic positivity adalah keyakinan bahwa seseorang harus selalu bersikap positif, apa pun situasi yang sedang dihadapi.

Akibatnya, emosi yang dianggap negatif seperti sedih, marah, kecewa, takut, atau cemas dipandang sebagai sesuatu yang harus segera dihilangkan.

Padahal, menurut para psikolog, semua emosi memiliki fungsi.

Perasaan sedih dapat membantu seseorang memproses kehilangan, rasa takut membantu mengenali bahaya, sementara marah bisa menjadi sinyal bahwa ada batasan yang telah dilanggar.

Mengutip dari Psychology Today, toxic positivity bukan berarti bersikap optimis itu salah. Masalah muncul ketika seseorang dipaksa untuk selalu terlihat baik-baik saja hingga tidak memiliki ruang untuk mengakui atau mengelola emosinya secara sehat.

Dengan kata lain, berpikir positif tetap penting, tetapi tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan perasaan yang nyata.

Kenapa Toxic Positivity Bisa Terjadi?

20263107- Toxic Positivity
ILUSTRASI- seseorang yang memendam kesedihan karena merasa harus selalu terlihat kuat dan positif. (Generated by ChatGPT)

Ada banyak alasan mengapa toxic positivity sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah budaya yang menganggap menunjukkan kesedihan sebagai tanda kelemahan.

Di era media sosial, banyak orang juga lebih sering membagikan momen bahagia dibandingkan kesulitan yang sedang dialami.

Akibatnya, muncul kesan bahwa semua orang menjalani hidup yang sempurna sehingga seseorang merasa harus selalu tampak kuat dan ceria.

Selain itu, tidak sedikit orang yang sebenarnya memiliki niat baik. Mereka ingin menghibur teman atau keluarga yang sedang mengalami masalah, tetapi bingung harus berkata apa.

Akhirnya, muncul kalimat seperti "Ikhlaskan saja", "Pasti ada hikmahnya", atau "Jangan dipikirin terus."

Meski terdengar sederhana, respons seperti ini terkadang membuat orang yang sedang berjuang merasa tidak dipahami.

Baca juga: Kekeringan Mulai Terasa, Sejumlah Wilayah di Yogyakarta Hadapi Krisis Air Bersih

Ciri-Ciri Toxic Positivity

Toxic positivity sering kali hadir dalam bentuk yang tidak disadari. Berikut beberapa contohnya:

  • Menyuruh seseorang berhenti sedih tanpa memberi ruang untuk bercerita.
  • Menganggap emosi negatif sebagai sesuatu yang salah.
  • Merasa bersalah ketika sedang kecewa atau cemas karena merasa harus selalu bahagia.
  • Menutupi masalah dengan berpura-pura semuanya baik-baik saja.
  • Menghindari pembicaraan tentang perasaan yang dianggap tidak menyenangkan.
  • Kalimat seperti "Jangan lebay", "Masih mending kamu", atau "Bersyukur saja" juga bisa termasuk bentuk toxic positivity jika diucapkan pada waktu yang tidak tepat.

Toxic Positivity Tidak Hanya Terlihat dari Ucapan

Banyak orang mengira toxic positivity hanya berupa kalimat yang terdengar terlalu positif. Padahal, sikap ini juga bisa terlihat dari cara seseorang memperlakukan diri sendiri maupun orang lain.

Misalnya, mengalihkan pembicaraan ketika teman sedang ingin bercerita karena tidak ingin membahas hal yang menyedihkan, memaksa seseorang segera bangkit setelah mengalami kegagalan, atau menganggap menangis sebagai tanda kelemahan.

Meski sering dilakukan dengan niat baik, perlakuan seperti ini dapat membuat seseorang merasa emosinya tidak diterima.

Toxic positivity juga dapat muncul pada diri sendiri. Contohnya, memaksa diri untuk terus tersenyum saat sedang kelelahan, menahan tangis karena merasa harus selalu kuat, atau merasa bersalah ketika sedang sedih.

Padahal, emosi seperti kecewa, marah, maupun cemas merupakan bagian alami dari kehidupan yang perlu dikenali, bukan ditekan.

Alih-alih menolak emosi negatif, yang lebih sehat adalah memberi ruang untuk merasakannya terlebih dahulu.

Dengan begitu, seseorang dapat memahami apa yang sedang dialami sebelum akhirnya mencari cara untuk bangkit.

Dampaknya bagi Kesehatan Mental

Sekilas, toxic positivity mungkin terlihat sepele. Namun, jika terus terjadi, kondisi ini dapat memberikan dampak pada kesehatan mental.

Menekan emosi dalam jangka panjang justru dapat meningkatkan tingkat stres.

Emosi yang tidak diakui bukan berarti hilang, tetapi bisa muncul dalam bentuk lain, seperti mudah marah, sulit tidur, merasa cemas, hingga kelelahan secara emosional.

Selain itu, seseorang juga bisa merasa sendirian karena menganggap dirinya tidak boleh menunjukkan kesedihan. Akibatnya, mereka memilih memendam masalah daripada mencari bantuan.

Penelitian  juga menunjukkan bahwa menerima emosi negatif sebagai bagian dari kehidupan berkaitan dengan kesehatan psikologis yang lebih baik dibanding terus berusaha menghindarinya.

Artinya, menerima bahwa diri sedang tidak baik-baik saja bukanlah tanda menyerah, melainkan bagian dari proses mengelola emosi secara sehat.

Bedanya Optimis dengan Toxic Positivity

Tidak sedikit orang yang masih bingung membedakan optimisme dengan toxic positivity. Padahal, keduanya memiliki perbedaan yang cukup jelas.

Orang yang optimis tetap mengakui bahwa situasi sedang sulit, tetapi percaya bahwa masalah dapat dihadapi sedikit demi sedikit.

Sementara toxic positivity cenderung langsung menolak emosi negatif dan memaksa diri atau orang lain untuk segera merasa bahagia.

Sebagai contoh, ketika teman gagal dalam suatu hal, sikap optimis bisa berupa, "Pasti ini berat buat kamu. Kalau butuh cerita, aku siap dengerin."

Sedangkan toxic positivity lebih mengarah pada, "Jangan sedih, pasti ada yang lebih baik. Senyum dong."

Perbedaannya terletak pada validasi emosi.

Optimisme memberi ruang untuk merasakan kesedihan sebelum bangkit, sedangkan toxic positivity sering kali melewati proses tersebut.

Cara Menghindari Toxic Positivity

Menghindari toxic positivity bukan berarti menjadi pribadi yang pesimis. Sebaliknya, seseorang tetap bisa berpikir positif tanpa mengabaikan emosinya.

Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain:

  • Mengakui apa yang sedang dirasakan tanpa menghakimi diri sendiri.
  • Tidak memaksa diri untuk selalu bahagia setiap saat.
  • Mendengarkan orang lain tanpa buru-buru memberi solusi.
  • Menggunakan kalimat yang lebih empatik, seperti "Aku bisa mengerti kalau ini pasti berat."
  • Mencari bantuan profesional jika emosi mulai terasa sulit dikendalikan.
  • Empati sering kali jauh lebih dibutuhkan dibanding nasihat yang terdengar positif.

Di tengah budaya yang sering mengagungkan produktivitas dan kebahagiaan, tidak sedikit orang merasa harus selalu tersenyum meski sedang lelah.

Padahal, setiap orang memiliki hak untuk merasakan berbagai emosi sebagai bagian dari pengalaman hidup.

Merasa sedih, kecewa, atau marah bukan berarti seseorang lemah. Emosi tersebut justru menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu dipahami dan diproses.

Karena itu, daripada memaksa diri untuk terus terlihat kuat, memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasakan emosi dengan sehat bisa menjadi langkah yang jauh lebih bermanfaat.

Berpikir positif memang baik, tetapi akan lebih bermakna jika diawali dengan menerima bahwa tidak semua hari harus selalu terasa baik.

(MG Mayumi Cinta Mahesi)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.