Kolaborasi Wakaf Produktif Pisang Cavendish, Solusi Baru Perkuat Ekonomi Umat
Hari Susmayanti July 31, 2026 11:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Inovasi tata kelola wakaf yang produktif menjadi kebiasaan baru seperti halnya dilakukan Baitul Wakaf melalui Wakaf Produktif Pisang Cavendish.

Mereka bekerjasama dengan LAZNAS BMH, DPP Hidayatullah, DPW Hidayatullah DIY-Jawa Tengah Bagian Selatan, dan Badan Wakaf Indonesia (BWI) meluncurkan program teakaf produktif budidaya pisang cavendish sebagai model pengembangan aset wakaf untuk mendukung ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi umat. 

Program tersebut diperkenalkan dalam Seminar Wakaf Produktif 2026 bertema Transformasi Wakaf Produktif untuk Ketahanan Pangan" di Yogyakarta, pada Rabu (29/7/2026).

Program perdana ini akan dikembangkan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dan diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi di berbagai daerah melalui kolaborasi antarlembaga.

Direktur Baitul Wakaf, Tian Gusti Lasepa, mengatakan Indonesia memiliki potensi wakaf yang sangat besar, namun masih banyak aset yang belum dikelola secara produktif karena rendahnya literasi wakaf dan keterbatasan kapasitas pengelolaan.

"Program wakaf produktif pisang Cavendish ini hanyalah satu dari ribuan aset wakaf yang seharusnya dapat diproduktifkan. Kami ingin mengubah aset wakaf yang selama ini belum optimal menjadi sumber pangan, penguatan ekonomi, dan manfaat berkelanjutan bagi umat," ujarnya, Jumat (31/7/2026)

Menurut Tian, selama ini pemahaman masyarakat mengenai wakaf masih terbatas pada fungsi 3M, yakni masjid, makam, dan madrasah.

Padahal, wakaf dapat dikembangkan menjadi instrumen ekonomi produktif yang memberikan manfaat jangka panjang.

Baca juga: Berkat Pendampingan BRI, Kopi Asal Batang Sukses Menembus Pasar Dunia

Dia menjelaskan Baitul Wakaf telah mengembangkan berbagai model wakaf produktif, seperti wakaf ternak di Kendari dan Bogor, wakaf sawah produktif di Bekasi, hingga green house melon premium di Bogor. 

Program pisang Cavendish menjadi pengembangan terbaru yang diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Ketua Divisi Pusat Kajian dan Transformasi Digital Badan Wakaf Indonesia (BWI), Ir Arief Rohman Yulianto, menyebut potensi wakaf nasional sebenarnya sangat besar. 

Berdasarkan data BWI, terdapat sekitar 500 ribu titik aset wakaf dengan nilai ekonomi mencapai sekitar Rp1.478 triliun.

"Kalau aset tersebut mampu menghasilkan manfaat sekitar 10 persen setiap tahun, seharusnya ada sekitar Rp147 triliun manfaat yang bisa dinikmati umat. Namun realisasi yang tercatat saat ini baru sekitar Rp360 miliar per tahun," katanya.

Karena itu, menurut Arief, pengembangan wakaf produktif harus dilakukan melalui kolaborasi, bukan berjalan sendiri-sendiri.

"Wakaf itu spiritnya bukan berlomba-lomba menghimpun dana, tetapi gotong royong. Kita harus membangun ekosistem wakaf produktif bersama agar manfaatnya semakin besar," ujarnya.

Arief juga mengapresiasi Baitul Wakaf yang dinilai menjadi salah satu pelopor kolaborasi pengembangan wakaf produktif, termasuk melalui pengembangan SatuWakaf Marketplace yang diluncurkan beberapa tahun lalu.

Sementara itu, Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, menegaskan bahwa wakaf memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar membantu masyarakat miskin.

"Wakaf bukan hanya untuk mengentaskan kemiskinan, tetapi menjadi instrumen membangun peradaban. Pada masa kejayaan Islam, pendidikan, literasi, dan budaya keilmuan berkembang karena ditopang oleh wakaf," katanya.

Menurutnya, paradigma tersebut perlu dihidupkan kembali sehingga masyarakat memahami bahwa wakaf produktif dapat menjadi kekuatan dalam membangun pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga ketahanan pangan.

"Wakaf produktif adalah harta yang pokoknya tetap terjaga, sementara manfaatnya terus mengalir dari generasi ke generasi," ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua DPW Hidayatullah DIY-Jawa Tengah Bagian Selatan, Ustaz Abdul Munir, menilai tantangan terbesar saat ini bukan pada minimnya aset wakaf, melainkan keterbatasan sumber daya manusia yang mampu mengelolanya.

"Masih banyak tanah kosong, kandang yang tidak terpakai, maupun kios yang belum produktif. Umat membutuhkan pengelola wakaf yang memiliki keterampilan sehingga aset-aset tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih luas," katanya.

Ia menekankan bahwa keberhasilan wakaf produktif sangat bergantung pada hadirnya tim yang kuat, amanah, dan profesional.

"Peminat wakaf manfaat sangat banyak. Yang dibutuhkan adalah tim yang mampu mengelolanya secara profesional sehingga amanah masyarakat benar-benar menghasilkan manfaat," ujarnya.

Peluncuran program tersebut juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Sleman.

Perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, Adi Jaya Suswantoro, S.Pt., menyambut baik inisiatif pengembangan wakaf produktif karena dinilai sejalan dengan program ketahanan pangan yang sedang dijalankan pemerintah.

"Kami sangat bergembira dengan inisiasi ini karena selaras dengan program ketahanan pangan Kabupaten Sleman maupun nasional. Program wakaf produktif tentu akan mendukung keberhasilan upaya memperkuat ketahanan pangan," katanya.

Adi menegaskan Dinas Pertanian Kabupaten Sleman siap membuka ruang kolaborasi apabila dibutuhkan dalam pengembangan program di lapangan.

"Kami memiliki penyuluh pertanian lapangan (PPL) yang siap mendampingi. Dukungan dari lembaga seperti Baitul Wakaf merupakan inisiatif yang sangat baik dan kami siap bersinergi agar program ini berhasil," ujarnya.

Melalui peluncuran Wakaf Produktif Pisang Cavendish, para pemangku kepentingan berharap lahir model pengelolaan wakaf yang tidak hanya menjaga aset tetap utuh, tetapi juga menghasilkan manfaat ekonomi, memperkuat ketahanan pangan, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan umat secara berkelanjutan. (hda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.