BANJARMASINPOST.CO.ID- KIPRAH penyuluh agama Islam tidak hanya diukur dari banyaknya administrasi yang diselesaikan di kantor. Lebih dari itu, penyuluh dituntut hadir di tengah masyarakat untuk membimbing, membina, sekaligus menjadi penggerak kegiatan keagamaan.
Hal itulah yang dinilai telah dijalankan Hj Wardah SAg, penyuluh agama Islam di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Binuang.
Menurut Kepala KUA Binuang, H Ahmad Murtadla SAg, keberhasilan Hj Wardah membina tiga majelis taklim merupakan wujud nyata pelaksanaan tugas penyuluh agama sebagaimana diamanatkan Kementerian Agama.
Saat ditemui, Kamis (30/7), Ahmad Murtadla menjelaskan, secara teknis penyuluh agama memang lebih banyak bekerja di lapangan dibanding berada di kantor.
“Mereka bertemu langsung dengan masyarakat, memberikan pembinaan, pelayanan dan konsultasi,” ujarnya.
Baca juga: Ustadzah di Binung Tapin Ini Manfaatkan Teknologi dalam Berdakwah
Ia mengatakan, seluruh aktivitas tersebut menjadi bagian dari laporan kinerja harian penyuluh sekaligus menjadi bukti pelaksanaan tugas profesional mereka.
Menurutnya, pembinaan yang dilakukan Hj Wardah melalui tiga majelis taklim bukan sekadar rutinitas pengajian, tetapi merupakan bentuk pelayanan keagamaan kepada masyarakat.
Majelis Taklim Selawat Burdah, Khataman Al-Qur’an, hingga pembacaan Manaqib Siti Khadijah dinilai mampu menjadi wadah pembelajaran agama sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah di kalangan jemaah, khususnya kaum ibu.
Namun demikian, Ahmad Murtadla menilai, keberhasilan seorang penyuluh agama tidak hanya ditentukan banyaknya kegiatan yang dibuat. Yang lebih penting adalah kemampuan membaca karakter masyarakat.
“Seorang penyuluh harus memahami situasi dan kondisi masyarakat. Jangan sampai kegiatan hanya berdasarkan keinginan pribadi. Dakwah harus menyesuaikan kebutuhan masyarakat agar pesan yang disampaikan diterima dengan baik,” katanya.(tar)