BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Sebanyak 38 jemaah umrah asal Kalimantan Selatan dilaporkan terlantar di Kota Jeddah, Arab Saudi, setelah hingga kini belum memiliki tiket kepulangan ke Indonesia.
Kondisi tersebut bahkan membuat para jemaah terancam diusir dari penginapan karena tidak mampu lagi membayar biaya sewa.
Selama beberapa hari terakhir, mereka juga mengaku harus menanggung sendiri biaya makan dan akomodasi secara swadaya.
Informasi tersebut tertuang dalam laporan resmi Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah Nomor 434/S/08/LP/VII/2026 tertanggal 30 Juli 2026 yang ditandatangani Kepala Perwakilan RI Staf Teknis Urusan Haji, Muhammad Ilham Effendy.
Baca juga: Sempat Tertunda, 36 Jemaah Umrah HST Dijadwalkan Berangkat 2 Agustus, Kasus Ini Jadi Pelajaran
Dalam laporan itu disebutkan, 38 jemaah rombongan Muhammad Rifani yang diberangkatkan oleh Syakira Tour asal Banjarmasin tertahan di Jeddah karena belum memiliki tiket kepulangan.
KJRI Jeddah juga mencatat, sebelum berangkat dari Indonesia para jemaah telah beberapa kali mengalami penundaan keberangkatan akibat keterlambatan penerbitan visa dan belum tersedianya tiket penerbangan pulang-pergi.
Meski demikian, rombongan akhirnya tetap diberangkatkan ke Arab Saudi.
Dalam laporan tersebut, KJRI menduga persoalan itu dipicu ketidakmampuan finansial pihak penyelenggara perjalanan untuk membiayai operasional serta pembelian tiket kepulangan para jemaah.
Situasi di lapangan disebut semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan hasil verifikasi KJRI per 30 Juli 2026, para jemaah telah menanggung sendiri biaya makan dan penginapan selama tiga hari terakhir.
Pengelola apartemen tempat mereka menginap juga disebut telah memberikan ultimatum bahwa para jemaah akan diusir serta paspor mereka disita apabila tunggakan biaya penginapan tidak segera dilunasi.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, KJRI mengaku telah berkomunikasi intensif dengan perwakilan jemaah serta menghubungi pimpinan Syakira Tour di Indonesia untuk meminta komitmen penyediaan tiket kepulangan sekaligus pelunasan biaya penginapan.
Selain itu, KJRI juga meminta arahan kepada Direktorat Pengawasan di Jakarta agar dilakukan pemanggilan terhadap pihak penyelenggara perjalanan umrah tersebut serta meminta dukungan anggaran darurat untuk membantu kebutuhan dasar para jemaah apabila mereka belum dapat segera dipulangkan.
Sementara itu, salah seorang jemaah asal Barabai, Mustadillah, membenarkan kondisi tersebut.
Ia mengatakan rombongannya sempat beberapa kali mengalami penundaan keberangkatan sejak akhir Juni sebelum akhirnya diberangkatkan ke Arab Saudi pada 18 Juli 2026.
“Keberangkatan kami beberapa kali ditunda. Awalnya karena overbook tiket, kemudian visa belum keluar. Setelah visa terbit pun tiket masih belum tersedia hingga akhirnya kami baru berangkat 18 Juli,” ujarnya kepada Banjarmasin Post, Jumat (31/7/2026).
Menurutnya, setelah menyelesaikan rangkaian ibadah umrah di Makkah dan Madinah, rombongan kembali ke Jeddah untuk pulang ke Indonesia. Namun hingga kini tiket kepulangan disebut belum juga tersedia.
“Ternyata sampai sekarang tiket pulang belum dibeli oleh travel. Kami sudah empat hari patungan untuk makan dan penginapan. Bahkan saat di Madinah sempat ada jamaah yang memberikan dana talangan untuk membayar hotel,” katanya.
Mustadillah mengaku para jemaah telah meminta bantuan kepada Kementerian Haji maupun KJRI Jeddah.
Namun menurutnya, hingga kini bantuan yang diterima baru sebatas surat pemanggilan kepada pihak travel dan desakan agar segera memulangkan para jemaah.
“Kami belum mendapat bantuan nyata untuk kebutuhan jangka pendek seperti makan dan penginapan. Biaya swadaya kami hampir habis,” ucapnya.
Ia berharap pemerintah maupun pihak terkait dapat segera membantu proses pemulangan seluruh jemaah.
“Mohon bantu pulangkan kami,” katanya.
(Banjarmasinpost.co.id/rifki soelaiman)