Kemarau Panjang Paksa Jadwal Tanam Petani Kotim Mundur, Pemkab Pilih Antisipasi Gagal Panen
Sri Mariati July 31, 2026 01:06 PM

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT – Hamparan sawah di Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, yang biasanya kembali ditanami usai panen Juli, tahun ini harus menunggu lebih lama.  

Kemarau yang diprediksi berlangsung hingga September membuat Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memilih menggeser jadwal musim tanam ketiga demi menghindari risiko gagal panen akibat kekurangan air. 

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kotim, Yephi Hartadi Periyanto, mengatakan keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan kondisi ketersediaan air di lahan pertanian yang belum memadai 

Termasuk juga prakiraan musim kemarau dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit. 

Dalam kondisi normal, petani di kawasan sentra pangan Desa Lampuyang mampu menanam padi hingga tiga kali dalam setahun.  

Setelah panen pada Juli, lahan biasanya kembali ditanami pada Agustus. Namun pola tersebut tidak dapat diterapkan pada musim tanam tahun ini. 

"Situasi sekarang berbeda. Ketersediaan air di lahan belum mencukupi, sehingga lebih bijak jika jadwal tanam ditunda terlebih dahulu dibanding dipaksakan dan berisiko merugikan petani," kata Yephi, Kamis (30/7/2026). 

Ia menjelaskan, berdasarkan prakiraan BMKG, puncak musim kemarau tahun 2026 bergeser dari Agustus menjadi September.  

Kondisi tersebut membuat DPKP memperkirakan musim tanam ketiga baru dapat dimulai pada penghujung September apabila bantuan infrastruktur pengairan dari pemerintah pusat belum tersedia. 

Namun, peluang mempercepat musim tanam masih terbuka apabila bantuan irigasi pompa (Irpom) dan irigasi perpipaan (Irpip) yang telah diajukan segera direalisasikan.  

Dengan dukungan fasilitas tersebut, petani diperkirakan dapat mulai menanam pada awal September. 

"Harapan kami bantuan irigasi bisa segera terealisasi. Jika fasilitas itu sudah tersedia, petani memiliki peluang untuk memulai tanam lebih cepat karena kebutuhan air dapat dipenuhi," ujarnya. 

DPKP juga mengimbau para petani agar tidak tergesa-gesa mengolah maupun menanam lahan yang belum memiliki pasokan air yang cukup. 

Menurut Yephi, memaksakan penanaman pada kondisi tanah yang kering justru berpotensi menyebabkan gagal tanam hingga gagal panen. 

"Yang paling penting saat ini bukan mengejar waktu tanam, melainkan memastikan tanaman memiliki peluang tumbuh dengan baik. Sedikit terlambat lebih baik daripada kehilangan hasil panen," tegasnya. 

Ia menambahkan, sebagian besar petani di Kotim kini mulai memahami perubahan pola musim sehingga lebih siap menyesuaikan jadwal tanam dengan kondisi cuaca di lapangan.  

Meski demikian, DPKP tetap meminta Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) aktif mendampingi kelompok tani agar setiap keputusan yang diambil sesuai dengan perkembangan cuaca dan kondisi lahan. 

Di tengah penyesuaian musim tanam tersebut, masyarakat diminta tidak khawatir terhadap ketersediaan pangan.  

DPKP memastikan stok cadangan beras di Bulog Kotim masih dalam kondisi aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama beberapa bulan ke depan. 

"Persediaan beras dalam kondisi aman. Fokus kami sekarang adalah menjaga agar produksi petani tetap berjalan dan mereka tidak mengalami kerugian akibat gagal tanam maupun gagal panen," pungkas Yephi.  

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.