Mitos vs Fakta untuk Ibu Menyusui, Jangan Langsung Percaya Informasi yang Beredar
Ricka Milla Suatin July 31, 2026 01:30 PM

Liputan6.com, Jakarta - Menyusui adalah proses alami yang memberikan nutrisi terbaik bagi bayi sekaligus membawa berbagai manfaat bagi ibu. Namun, di balik praktik menyusui, masih banyak mitos yang berkembang di masyarakat. Tidak sedikit ibu menyusui yang menjadi bingung karena menerima berbagai nasihat yang belum tentu didukung bukti ilmiah.

Padahal, informasi yang keliru dapat memengaruhi kepercayaan diri ibu hingga membuat proses menyusui menjadi tidak optimal. Karena itu, penting untuk memahami perbedaan antara mitos dan fakta berdasarkan rekomendasi para ahli. Berikut beberapa mitos vs fakta untuk ibu menyusui, dilansir Liputan6.com dari UNICEF Parenting, Jumat (31/7).

1. Mitos: Menyusui itu mudah

Fakta: Meskipun bayi lahir dengan refleks alami untuk mencari payudara, menyusui tetap membutuhkan proses belajar bagi ibu dan bayi. Posisi menyusui, pelekatan (latch) yang benar, serta latihan secara bertahap sangat memengaruhi keberhasilan menyusui. Dukungan dari keluarga maupun tenaga kesehatan juga berperan penting.

2. Mitos: Puting pasti lecet dan menyusui selalu terasa sakit

Fakta: Rasa tidak nyaman memang dapat muncul pada hari-hari pertama setelah melahirkan. Namun, nyeri berkepanjangan bukanlah kondisi yang normal. Dengan teknik pelekatan yang tepat dan bantuan konsultan laktasi bila diperlukan, puting lecet maupun rasa sakit dapat diminimalkan.

3. Mitos: Puting harus dicuci sebelum menyusui

Fakta: UNICEF Parenting menjelaskan bahwa puting tidak perlu dicuci setiap kali sebelum menyusui. Bayi sudah mengenali aroma alami ibunya sejak lahir. Selain itu, puting menghasilkan zat yang membantu bayi mengenali payudara dan mengandung bakteri baik yang mendukung perkembangan sistem imun bayi.

4. Mitos: Ibu dan bayi sebaiknya dipisahkan setelah lahir agar ibu bisa beristirahat

Fakta: Kontak kulit ke kulit (skin-to-skin contact) segera setelah persalinan justru dianjurkan. Praktik ini membantu bayi menemukan payudara, memperlancar proses menyusui, serta mendukung keberhasilan pemberian ASI sejak awal kehidupan.

5. Mitos: Ibu menyusui hanya boleh makan makanan hambar

Fakta: Ibu menyusui tetap dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang seperti orang dewasa pada umumnya. Tidak ada keharusan untuk hanya makan makanan tanpa bumbu. Jika ibu merasa bayi menunjukkan reaksi tertentu terhadap makanan yang dikonsumsi, konsultasikan dengan tenaga kesehatan sebelum menghindari makanan tersebut.

6. Mitos: Olahraga membuat rasa ASI berubah

Fakta: Olahraga itu menyehatkan, termasuk bagi ibu menyusui. Namun, tak ada bukti yang menunjukkan bahwa olahraga memengaruhi rasa ASI Anda.

7. Mitos: Jika tidak langsung menyusui setelah lahir, ASI akan gagal keluar

potret ibu baru yang sedang menyusui bayinya/copyright freepik.com/freepik
potret ibu baru yang sedang menyusui bayinya/copyright freepik.com/freepik

Fakta: Memulai menyusui pada satu jam pertama setelah persalinan memang sangat dianjurkan karena refleks bayi sedang kuat. Namun, apabila kondisi tertentu membuat hal itu belum memungkinkan, ibu masih dapat memulai menyusui sesegera mungkin. Kontak kulit ke kulit dan menyusui secara sering tetap membantu membangun produksi ASI.

8. Mitos: Ibu tidak boleh menggunakan susu formula jika ingin menyusui

Fakta: Ibu mungkin memutuskan bahwa mereka perlu menggunakan susu formula pada beberapa kesempatan, sambil tetap menyusui. Penting untuk mencari informasi yang objektif mengenai susu formula dan produk lain yang menggantikan ASI. Untuk menjaga produksi ASI tetap berjalan, teruslah menawarkan payudara kepada bayi Anda sesering mungkin. Akan sangat bermanfaat bagi ibu untuk berkonsultasi dengan spesialis laktasi atau tenaga profesional yang berpengalaman guna membantu menyusun rencana yang paling sesuai bagi mereka agar dapat terus menyusui.

9. Mitos: Banyak ibu tidak mampu menghasilkan ASI yang cukup

Fakta: UNICEF Parenting menyebutkan bahwa hampir semua ibu mampu menghasilkan ASI yang cukup bagi bayinya. Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh frekuensi menyusui, pelekatan yang baik, dan seberapa efektif bayi mengosongkan payudara. Dukungan dari keluarga dan tenaga kesehatan juga berkontribusi terhadap keberhasilan menyusui.

10. Mitos: Ibu yang sedang sakit tidak boleh menyusui

Fakta: Umumnya, ibu yang sedang sakit tetap dapat terus menyusui bayinya walaupun tergantung jenis penyakitnya. Ibu perlu memastikan dirinya mendapatkan perawatan yang tepat, istirahat, cukup makan dan minum. Pada banyak kasus, antibodi yang dihasilkan tubuh ibu untuk melawan penyakit akan diteruskan kepada bayi melalui ASI, sehingga bayi pun dapat membangun kekebalan tubuhnya sendiri.

11. Mitos: Ibu yang menyusui tidak boleh minum obat apa pun

Fakta: Ibu menyusui perlu menyampaikan kepada dokter bahwa dirinya sedang menyusui dan membaca dengan teliti keterangan semua jenis obat yang dibelinya dengan bebas di apotek. Mungkin, obat harus diminum pada waktu tertentu atau dalam dosis tertentu, atau ibu membutuhkan formula obat yang berbeda. Ibu pun perlu menyampaikan semua jenis obat yang dikonsumsinya kepada dokter anak.

12. Mitos: Bayi yang mendapat ASI akan menjadi terlalu manja

Fakta: Tidak ada bukti bahwa menyusui membuat bayi menjadi lebih manja. Setiap bayi memiliki karakter yang berbeda. Selain memenuhi kebutuhan nutrisi, menyusui juga membantu memperkuat ikatan emosional antara ibu dan bayi serta mendukung perkembangan otaknya.

13. Mitos: Menyusui lebih dari satu tahun membuat anak sulit disapih

Fakta: UNICEF Parenting menyatakan tidak ada bukti bahwa menyusui lebih dari satu tahun membuat proses penyapihan menjadi lebih sulit. Sebaliknya, menyusui hingga usia dua tahun atau lebih tetap memberikan manfaat bagi ibu maupun anak sesuai rekomendasi kesehatan. Lama menyusui dapat disesuaikan dengan kebutuhan ibu dan anak.

14. Mitos: Ibu yang kembali bekerja harus berhenti menyusui

Fakta: Banyak ibu tetap dapat melanjutkan menyusui setelah kembali bekerja. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memahami kebijakan terkait pemberian ASI yang berlaku di negara maupun di tempat kerja. Jika tersedia waktu dan ruang khusus untuk menyusui, ibu dapat memanfaatkannya untuk menyusui bayi secara langsung, pulang sejenak, meminta anggota keluarga membawa bayi ke kantor, atau memerah ASI untuk disimpan. Apabila tidak ada waktu khusus untuk menyusui, ibu dapat mencari waktu yang memungkinkan untuk memerah ASI selama bekerja, lalu menyusui bayi secara langsung saat sudah berada di rumah. Jika ibu memilih memberikan produk pengganti ASI ketika bekerja, menyusui secara langsung tetap dapat dilanjutkan setiap kali ibu bersama bayinya.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Mitos Vs Fakta untuk Ibu Menyusui

1. Apakah semua ibu mampu menghasilkan ASI yang cukup?

Ya. Menurut UNICEF, hampir semua ibu mampu menghasilkan ASI yang cukup untuk bayinya. Produksi ASI umumnya dipengaruhi oleh seberapa sering bayi menyusu, pelekatan yang benar, serta seberapa efektif payudara dikosongkan.

2. Bolehkah ibu menyusui berolahraga?

Boleh. Olahraga aman dilakukan oleh ibu menyusui dan tidak terbukti mengubah rasa ASI hingga membuat bayi menolak menyusu. Ibu tetap dianjurkan menjaga asupan cairan dan nutrisi setelah beraktivitas.

3. Apakah ibu yang sedang sakit harus berhenti menyusui?

Tidak selalu. Dalam sebagian besar kondisi, ibu tetap dapat menyusui sambil menjalani pengobatan yang sesuai. Namun, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk memastikan obat yang digunakan aman bagi ibu menyusui dan bayi.

4. Apakah penggunaan susu formula berarti harus berhenti menyusui?

Tidak. Pada kondisi tertentu, ibu dapat menggunakan susu formula sambil tetap menyusui. Agar produksi ASI tetap terjaga, ibu dianjurkan tetap sering menyusui atau memerah ASI serta berkonsultasi dengan konsultan laktasi bila diperlukan.

5. Apakah ibu yang kembali bekerja masih bisa memberikan ASI kepada bayinya?

Ya. Banyak ibu tetap berhasil menyusui setelah kembali bekerja. Perencanaan jadwal menyusui atau memerah ASI, penyimpanan ASI yang benar, serta dukungan dari keluarga dan tempat kerja dapat membantu mempertahankan pemberian ASI.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.