Liputan6.com, Jakarta - Menjadi imam salat adalah amanah besar yang membutuhkan kesiapan, termasuk dalam hal hafalan Al-Qur'an. Bagi pemula yang ingin belajar menjadi imam, surat pendek pilihan untuk belajar menjadi imam salat menjadi bekal yang tidak boleh diabaikan.
Kemampuan membaca surat setelah Al-Fatihah dengan lancar dan benar merupakan salah satu syarat penting bagi seorang imam, karena bacaan imam akan didengar dan diikuti oleh jamaah.
Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu' Syarhul Muhadzdzab menegaskan bahwa membaca Al-Fatihah adalah rukun yang wajib dipenuhi oleh imam maupun makmum. Sementara itu, Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nihayatuz Zain menjelaskan bahwa makmum yang tidak mendengar bacaan imam karena tuli atau sebab lain tetap dianjurkan membaca surat pendek sendiri agar ibadahnya lebih sempurna.
Dengan menguasai surat-surat pendek, seseorang tidak hanya mampu menunaikan kewajiban sebagai imam, tetapi juga mendapatkan keberkahan dari setiap ayat yang dibaca. Menghafal surat-surat pendek dari Juz Amma adalah langkah awal yang ideal bagi siapa pun agar siap menjadi imam, baik di lingkungan keluarga, masjid, maupun kegiatan keagamaan lainnya.
Syekh Abdul Aziz bin Baz dalam kitab Syarah Ad-Durus Al-Muhimma Li 'Ammah Al-Ummah (Pelajaran-Pelajaran Penting untuk Masyarakat Awam) menjelaskan bahwa surat-surat pendek dari Az-Zalzalah hingga An-Nas sudah memadai bagi seseorang untuk menegakkan salat.
Beliau merujuk pada hadis riwayat An-Nasa'i dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan meminta diajari membaca Al-Qur'an. Nabi SAW mengajarinya Surat Az-Zalzalah hingga selesai, lalu beliau bersabda: "Beruntung laki-laki kecil itu".
Berikut adalah 10 surat pendek pilihan yang paling mudah dihafal dan sering dibaca dalam salat:
1. Surat Al-Fatihah (Pembukaan) - 7 Ayat
Surat Al-Fatihah merupakan rukun salat dan wajib dibaca di tiap rakaat.
Arab: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ. إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ. اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ. صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Latin: Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Al-ḥamdu lillāhi rabbil-'ālamīn. Ar-raḥmānir-raḥīm. Māliki yaumid-dīn. Iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īn. Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm. Ṣirāṭal-lażīna an'amta 'alaihim ghairil-magḍūbi 'alaihim wa laḍ-ḍāllīn.
Artinya: "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."
2. Surat An-Nas (Manusia) - 6 Ayat
Arab: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ. مَلِكِ النَّاسِ. إِلَهِ النَّاسِ. مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ. الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ. مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
Latin: Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Qul a'ūżu birabbin-nās. Malikin-nās. Ilāhin-nās. Min syarril-waswāsil-khannās. Allażī yuwaswisu fī ṣudūrin-nās. Minal-jinnati wan-nās.
Artinya: "Katakanlah: 'Aku berlindung kepada Tuhan manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia.'"
3. Surat Al-Falaq (Waktu Subuh) - 5 Ayat
Arab: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ. وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ. وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
Latin: Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Qul a'ūżu birabbil-falaq. Min syarri mā khalaq. Wa min syarri ghāsiqin iżā waqab. Wa min syarrin-naffāṡāti fil-'uqad. Wa min syarri ḥāsidin iżā ḥasad.
Artinya: "Katakanlah: 'Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh. Dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap-gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita penyihir yang meniup pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.'"
4. Surat Al-Ikhlas (Keesaan Allah) - 4 Ayat
Arab: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. اللَّهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Latin: Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Qul huwallāhu aḥad. Allāhuṣ-ṣamad. Lam yalid wa lam yūlad. Wa lam yakul lahū kufuwan aḥad.
Artinya: "Katakanlah: 'Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.'"
5. Surat Al-Ashr (Masa) - 3 Ayat
Arab: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Latin: Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Wal-'aṣr. Innal-insāna lafī khusr. Illāllażīna āmanū wa 'amiluṣ-ṣāliḥāti wa tawāṣau bil-ḥaqqi wa tawāṣau biṣ-ṣabr.
Artinya: "Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran."
6. Surat An-Nashr (Pertolongan) - 3 Ayat
Arab: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ. وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا. فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
Latin: Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Iżā jā'a naṣrullāhi wal-fatḥ. Wa ra'aitan-nāsa yadkhulūna fī dīnillāhi afwājā. Fa sabbiḥ biḥamdi rabbika wastagfirh, innahū kāna tawwābā.
Artinya: "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan engkau melihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat."
7. Surat Al-Kautsar (Nikmat yang Banyak) - 3 Ayat
Arab: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
Latin: Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Innā a'ṭainākal-kauṡar. Fa ṣalli lirabbika wanḥar. Inna syāni'aka huwal-abtar.
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah)."
8. Surat Al-Kafirun (Orang-Orang Kafir) - 6 Ayat
Arab: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ. لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ. وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ. وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ. وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ. لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Latin: Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Qul yā ayyuhal-kāfirūn. Lā a'budu mā ta'budūn. Wa lā antum 'ābidūna mā a'bud. Wa lā ana 'ābidum mā 'abattum. Wa lā antum 'ābidūna mā a'bud. Lakum dīnukum wa liya dīn.
Artinya: "Katakanlah: 'Wahai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukku agamaku.'"
9. Surat Al-Ma'un (Barang yang Berguna) - 7 Ayat
Arab: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ. فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ. وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ. فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ. الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ. الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ. وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
Latin: Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Ara'aitallażī yukażżibu bid-dīn. Fa żālikallażī yadu''ul-yatīm. Wa lā yaḥuḍḍu 'alā ṭa'āmil-miskīn. Fa wailul-lil-muṣallīn. Allażīna hum 'an ṣalātihim sāhūn. Allażīna hum yurā'ūn. Wa yamna'ūnal-mā'ūn.
Artinya: "Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka celakalah bagi orang-orang yang salat. (Yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya. Orang-orang yang berbuat riya. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna."
10. Surat Quraisy (Suku Quraisy) - 4 Ayat
Arab: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ. إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ. فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ. الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
Latin: Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Li'īlāfi quraisy. Īlāfihim riḥlatasy-syitā'i waṣ-ṣaif. Falya'budū rabba hāżal-bait. Allażī aṭ'amahum min jū'iw wa āmanahum min khauf.
Artinya: "Karena kebiasaan orang-orang Quraisy. (Yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik rumah ini (Ka'bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan."
Menghafal Al-Qur'an, termasuk surat-surat pendek, membutuhkan metode yang tepat agar prosesnya efektif dan hafalan tetap terjaga. Berikut beberapa metode yang dapat diterapkan:
1. Metode Talqin (Mendikte)
Seorang pengajar atau qari mendiktekkan surat-surat pendek ayat demi ayat, lalu pembelajar menyimak dan mengulangi ayat pertama beberapa kali hingga lancar, kemudian melanjutkan ke ayat berikutnya. Metode ini efektif karena melibatkan pendengaran dan pengucapan secara bersamaan.
2. Metode Mendengar dan Mengulang (Repetition)
Perbanyak mendengar bacaan murattal sebelum memulai menghafal. Gunakan rekaman audio atau video dari qari terkenal. Setelah familiar dengan lantunan, mulailah mengulang-ulang bacaan sambil melihat mushaf, kemudian tanpa mushaf.
3. Metode Pengulangan 3-3-3 (Repetisi)
Teknik ini melibatkan:
• Membaca satu ayat 3 kali sambil melihat mushaf
• Membaca 3 kali sambil memejamkan mata
• Membaca 3 kali saat melakukan aktivitas ringan
4. Metode Drill (Latihan Intensif)
Metode drill atau latihan berulang-ulang terbukti efektif meningkatkan kemampuan hafalan. Lakukan pengulangan secara konsisten setiap hari, misalnya 5-10 kali per ayat hingga lancar.
5. Metode Audiovisual
Gunakan media audio dan visual secara bersamaan. Tonton video lantunan surat sambil membaca teksnya. Metode ini sangat membantu, terutama untuk anak-anak dan pemula.
6. Metode KAISA (Kinestetik, Auditori, Visual, Asosiasi)
Metode ini dirancang untuk menyesuaikan pembelajaran dengan gaya belajar anak, menggabungkan gerakan, pendengaran, penglihatan, dan asosiasi makna.
7. Memahami Makna
Jelaskan makna surat yang dihafal agar lebih mudah diingat dan dihayati. Pemahaman makna akan membantu mengikat hafalan dalam memori jangka panjang.
1. Menjadi Teladan dan Pemimpin dalam Keluarga
Seorang ayah atau suami yang menjadi imam salat di rumah menjadi teladan bagi istri dan anak-anaknya. Anak-anak akan belajar dan mencontoh bacaan serta gerakan salat dari orang tua. Dengan menjadi imam, orang tua secara tidak langsung mendidik keluarga untuk mencintai ibadah sejak dini.
2. Mempererat Ikatan dan Keharmonisan Keluarga
Salat berjamaah di rumah dengan ayah sebagai imam menciptakan momen kebersamaan yang berkualitas. Kegiatan ini memperkuat komunikasi spiritual antar anggota keluarga dan menumbuhkan rasa saling menyayangi. Anak-anak akan merasakan ketenangan dan kedekatan dengan orang tua saat salat bersama.
3. Melatih Tanggung Jawab dan Kepemimpinan
Menjadi imam melatih seseorang untuk bertanggung jawab atas bacaan dan kepemimpinan terhadap orang lain. Sebagaimana diceritakan dalam hadis, Amr bin Salamah RA yang masih kecil dipercaya menjadi imam kaumnya pada zaman Nabi SAW. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan menjadi imam melatih karakter kepemimpinan sejak dini.
4. Menjadi Pemersatu dalam Komunitas
Di lingkungan masyarakat, imam salat berperan sebagai pemersatu jamaah. Kemampuan menjadi imam yang baik—dengan bacaan yang fasih dan surat-surat yang bervariasi—akan membuat jamaah lebih khusyuk dan betah beribadah bersama. Seorang imam yang baik juga menjadi figur yang disegani dan dipercaya di komunitasnya.
5. Mendapatkan Pahala Berlipat Ganda
Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang membaca Al-Qur'an dan menghafalkannya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga serta akan memberi syafaat kepada sepuluh dari keluarganya yang seharusnya masuk neraka". Selain itu, pahala salat berjamaah lebih besar 27 derajat daripada salat sendirian, dan imam mendapatkan pahala tambahan atas kepemimpinannya.
1. Apakah orang yang hanya hafal Surat Al-Ikhlas boleh menjadi imam?
Boleh. Seorang imam minimal harus bisa membaca Surat Al-Fatihah dengan benar dan satu surat pendek setelahnya. Namun, semakin banyak hafalan surat, semakin baik, karena imam dianjurkan untuk memvariasikan bacaannya agar jamaah tidak bosan. Syekh Abdul Aziz bin Baz menganjurkan menghafal 16 surat pendek dari Az-Zalzalah hingga An-Nas sebagai modal awal menjadi imam.
2. Berapa minimal surat yang harus dihafal untuk menjadi imam?
Minimal seorang imam harus hafal Surat Al-Fatihah dan setidaknya satu surat pendek lainnya. Namun, untuk menjadi imam yang baik, dianjurkan menghafal beberapa surat pendek agar dapat memvariasikan bacaan dalam setiap rakaat dan salat. Nabi SAW mengajarkan Surat Az-Zalzalah saja kepada seorang laki-laki tua yang kesulitan menghafal, dan itu dianggap cukup.
3. Surat pendek apa yang paling baik dibaca saat menjadi imam?
Tidak ada surat yang paling baik secara mutlak, karena semua surat Al-Qur'an adalah baik. Namun, surat-surat pendek yang sering dianjurkan adalah Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, Al-Ashr, Al-Kautsar, dan Al-Kafirun. Dalam salat Tarawih, imam biasanya membaca surat-surat pendek secara berurutan dari At-Takatsur hingga Al-Lahab. Untuk salat fardu, disarankan membaca surat yang bervariasi agar jamaah tidak bosan.
4. Bagaimana cara cepat menghafal surat pendek untuk menjadi imam?
Beberapa cara cepat menghafal surat pendek: (1) Gunakan metode talqin—dengarkan dan ulangi ayat per ayat; (2) Perbanyak mendengar murattal; (3) Gunakan metode pengulangan 3-3-3; (4) Pahami makna surat yang dihafal; (5) Lakukan latihan intensif setiap hari; (6) Gunakan media audiovisual; (7) Hafalkan secara konsisten, misalnya satu ayat per hari.
5. Bolehkah imam membaca surat pendek yang sama terus-menerus?
Boleh secara hukum, karena yang diwajibkan adalah membaca Al-Fatihah, sedangkan surat setelahnya adalah sunah. Namun, imam yang baik dianjurkan untuk memvariasikan surat bacaannya agar jamaah tidak bosan dan lebih khusyuk. Dalam salat berjamaah, memilih surat yang pendek tetap lebih utama, terutama ketika jamaahnya banyak. Memvariasikan bacaan juga merupakan bentuk penghormatan kepada jamaah dan mengikuti sunah Nabi SAW yang membaca surat berbeda-beda dalam setiap salat.