WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Cuaca panas yang semakin menyengat dalam beberapa pekan terakhir menjadi keluhan banyak warga Jakarta. Kondisi ini diperkirakan bukan sekadar dampak musim kemarau biasa.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat fenomena El Nino masih aktif dan diprediksi menguat pada 2026 sehingga berpotensi menyebabkan musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia.
BMKG dalam analisis dinamika atmosfer Dasarian II Juli 2026 mencatat nilai anomali suhu muka laut (SSTA) di wilayah Nino 3.4 mencapai +2,26 yang menunjukkan El Nino berada pada intensitas kuat.
Sementara itu, BMKG juga memprediksi El Nino masih akan bertahan hingga awal tahun 2027 dan dapat memperkuat dampak atmosfer kering selama periode musim kemarau.
"Keberadaan El Nino tersebut semakin memperkuat dampak atmosfer kering yang biasa terjadi selama periode musim kemarau di wilayah Indonesia," tulis BMKG dalam laporan Potensi Hujan Indonesia Sepekan ke Depan periode 21-27 Juli 2026.
Fenomena El Nino merupakan anomali iklim global yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur di atas kondisi normalnya.
Kondisi ini memengaruhi pola sirkulasi atmosfer global sehingga menyebabkan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Dampaknya, musim kemarau dapat berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.
BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus hingga September 2026 dengan durasi yang lebih panjang dari biasanya.
Bagi wilayah Jakarta dan sekitarnya, dampak yang mulai dirasakan antara lain meningkatnya suhu udara pada siang hari serta berkurangnya curah hujan yang membuat kualitas udara berpotensi memburuk akibat polutan dan debu yang tidak tersapu hujan.
Selain itu, berkurangnya ketersediaan air juga menjadi ancaman yang perlu diantisipasi apabila kemarau berlangsung lebih panjang.
Sektor pangan pun berpotensi terdampak apabila produksi pertanian di daerah penyangga mengalami penurunan akibat minimnya curah hujan.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk mulai melakukan langkah mitigasi sederhana guna mengurangi dampak cuaca panas ekstrem selama musim kemarau.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan masyarakat antara lain:
* Mengurangi aktivitas di luar ruangan pada pukul 10.00 WIB hingga 15.00 WIB ketika paparan sinar matahari berada pada intensitas tertinggi.
* Menggunakan pelindung seperti topi, payung, kacamata hitam, dan tabir surya ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
* Mencukupi kebutuhan cairan tubuh dan tidak menunggu rasa haus untuk minum.
* Menggunakan masker apabila kualitas udara memburuk akibat debu dan polusi selama musim kemarau.
* Menghemat penggunaan air bersih di rumah sebagai langkah antisipasi apabila terjadi penurunan ketersediaan air.
* Tidak membakar sampah yang berpotensi memicu kebakaran lahan maupun memperburuk kualitas udara.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi dehidrasi akibat cuaca panas yang berkepanjangan.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan perlu mendapatkan perhatian khusus selama periode kemarau.
"Kondisi ini memerlukan penyesuaian ekstra mengingat adanya peluang El Nino," ujar Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam keterangan resminya terkait prediksi musim kemarau 2026.
Meski demikian, BMKG menjelaskan pengaruh dinamika atmosfer regional seperti Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby Ekuatorial, maupun gelombang Kelvin masih memungkinkan terjadinya hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Karena itu, masyarakat diimbau terus memantau perkembangan informasi cuaca dan iklim dari BMKG secara berkala.
Dengan penguatan El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga awal 2027, kesiapsiagaan masyarakat menjadi penting untuk meminimalkan dampak kemarau panjang, baik terhadap kesehatan, lingkungan, maupun ketahanan pangan.