KSDA Imbau Wisatawan Tidak Memberi Makan Monyet di Cagar Alam Pangandaran
Machmud Mubarok July 31, 2026 03:35 PM

 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Kawasan Pasir Putih Cagar Alam Pangandaran, Jawa Barat masih menghadapi potensi interaksi berbahaya antara wisatawan dan monyet ekor panjang. 

Pengelola mengimbau seluruh pengunjung agar tidak memberi makan, mendekati, maupun mencoba menjinakkan satwa liar itu.

Kepala Resort Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah XXI Pangandaran, Kusnadi, mengatakan berbagai upaya pencegahan sudah dilakukan di lapangan untuk meminimalkan risiko serangan monyet terhadap wisatawan.

Menurutnya, sejak pintu masuk kawasan, petugas secara rutin mengedukasi pengunjung agar tidak membawa makanan yang dapat memancing kedatangan monyet. 

Pengunjung juga diingatkan untuk tidak memberikan makanan, memotret dari jarak terlalu dekat, apalagi mengelus satwa liar tersebut.

"Jangan sekali-kali membuat monyet itu menjadi jinak, karena pada dasarnya monyet itu bukan hewan jinak," ujar Kusnadi kepada Tribun Jabar di Kantor KSDA Wilayah XXI Pangandaran, Jawa Barat, Jumat (31/7/2026) pagi.

Baca juga: 2 Wisatawan Digigit Monyet di Cagar Alam Pangandaran

Namun, ia mengakui masih ada sebagian wisatawan yang mengabaikan imbauan dengan tetap memberikan makanan kepada monyet. 

Kondisi itu, tentu dapat mengubah perilaku satwa dan meningkatkan potensi konflik dengan manusia.

"Kami terus berupaya di lapangan agar tidak terjadi lagi pengunjung yang sampai digigit monyet," katanya.

Contoh pada saat libur sekolah lalu sempat terjadi dua kasus wisatawan yang digigit monyet ekor panjang di kawasan Pasir Putih Cagar Alam Pangandaran. 

Kusnadi Kepala Resort KSDA Pangandaran
SERANGAN MONYET - Kepala Resort Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah XXI Pangandaran, Kusnadi, mengatakan berbagai upaya pencegahan sudah dilakukan di lapangan untuk meminimalkan risiko serangan monyet terhadap wisatawan, Jumat (31/7/2026)

Kedua korban bahkan harus mendapatkan penanganan medis di RSUD Pandega Pangandaran.

Ia menduga insiden itu terjadi karena monyet dan pengunjung sama-sama merasa terkejut saat berinteraksi dalam jarak dekat sehingga satwa bereaksi dengan mencakar dan menggigit.

Menurutnya, monyet ekor panjang di kawasan cagar alam umumnya hidup berkelompok. 

"Monyet itu dapat bersikap agresif jika merasa terganggu atau mencurigai keberadaan manusia yang terlalu dekat," ucap Kusnadi.

Sementara itu, ia memastikan satwa lain di kawasan cagar alam relatif aman dan tidak menimbulkan gangguan bagi pengunjung.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa, pihak KSDA terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Balawista (life guard), Satpolairud Polres Pangandaran, serta instansi terkait lainnya.

Di sisi lain, Kusnadi menegaskan bahwa kawasan Pasir Putih masih berstatus cagar alam sehingga pengelola tidak bisa melakukan penanganan secara sembarangan terhadap satwa liar yang hidup di dalamnya.

"Semua stakeholder harus ikut menjaga kawasan ini. Menutup kawasan juga bukan solusi karena banyak masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian dari aktivitas wisata," ujarnya.

Kini, pimpinannya masih mengkaji berbagai opsi pengelolaan kawasan ke depan, termasuk kemungkinan perubahan status sebagian kawasan menjadi Taman Wisata Alam (TWA).

Namun hingga kini belum ada keputusan resmi.

"Sekarang masih dalam tahap kajian oleh pimpinan. Tugas kami di lapangan adalah terus melakukan upaya pencegahan serta menyampaikan berbagai kondisi dan keluhan yang terjadi di lapangan," kata Kusnadi. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.