PROHABA.CO, ACEH SINGKIL – Suara jerit tangis dan teriakan histeris saling bersahutan ketika gemuruh gelombang raksasa yang kala itu dikenal warga lokal sebagai geloro menghantam Kota Pelabuhan Singkil Lama pada akhir abad ke-18 Masehi.
Dalam sekejap mata, gelombang tsunami dahsyat tersebut meluluhlantakkan permukiman penduduk, pasar, hingga pusat perniagaan serta pelabuhan megah di wilayah itu.
Bencana alam terhebat pada zamannya tersebut akhirnya memaksa para penyintas untuk berpindah dan membangun peradaban baru yang kini kita kenal sebagai Singkil.
Fenomena alam itu memaksa penduduk Singkil Lama berpindah ke Singkil Baru, yaitu Singkil masa kini.
Secara historis, wilayah Singkil awalnya berpusat di muara Singkil Lama, sebelah barat ibu kota Kabupaten Aceh Singkil saat ini.
Kawasan bersejarah ini sebenarnya masih bisa dijangkau menggunakan perahu kecil dari Desa Kilangan.
Pada masa keemasannya, Singkil Lama bukanlah kota sembarangan.
Baca juga: Festival Sagu Singkel 2026 Angkat Kuliner Warisan Leluhur Aceh Singkil
Kawasan ini merupakan kota pelabuhan internasional yang menjadi tempat bersandar bagi kapal-kapal saudagar kaya dari Timur Tengah, Eropa, Tiongkok, hingga berbagai penjuru Nusantara.
Sebagai pusat perdagangan, Singkil Lama kala itu disesaki oleh berbagai etnis ada Eropa, Tingkok, Arab, dan etnis lokal yang hidup berdampingan secara harmonis.
Berbagai fasilitas pendukung pelabuhan dan pasar tempat para saudagar berniaga pada masanya berdiri kokoh untuk menopang aktivitas berniaga.
Namun, pada akhir abad ke-18, kejayaan itu runtuh seketika saat geloro atau semacam tsunami datang dan meratakan dan menghancurkan seluruh kota Pelabuhan Singkil Lama tanpa sisa.
Pascabencana mereda, sosok pemimpin lokal kala itu, Datuk Abdurauf, mengambil langkah cepat untuk menyelamatkan warganya.
Ia melakukan perjalanan ke Desa Ujung demi mencari lokasi aman yang cocok untuk dijadikan permukiman baru.
Setelah menemukan lahan yang ideal pada awal abad ke-19, dibangunlah rumah tinggal bagi keluarga sang Datuk yang kemudian disusul oleh warga lainnya.
Baca juga: Kebakaran Lahan 10 Hektare di Bukit Radar Aceh Besar, Tim Gabungan Berjibaku Padamkan Api
Tidak berhenti di situ, masyarakat juga secara bergotong royong mendirikan Masjid Baiturrahim.
Hingga hari ini, jejak kediaman Datuk Abdurauf dan Masjid Baiturrahim menjadi saksi bisu dan pilar sejarah dari lahirnya pemukiman baru tersebut.
Seiring berjalannya waktu, jumlah penduduk terus bertambah pesat dan menyebar ke desa-desa sekitar, memunculkan bentang alam Singkil Baru yang kini berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan ibu kota Kabupaten Aceh Singkil.
Berdasarkan berbagai literatur sejarah, wilayah Singkil tercatat telah beberapa kali mengalami perpindahan akibat siklus bencana gempa bumi dan tsunami, hingga ke lokasi sekarang yang dilabelkan dengan sebutan Singkil Baru atau New Singkil.
Menariknya, dalam peta-peta kuno terbitan Portugis maupun Belanda, kawasan ini sudah secara resmi dilabeli dengan nama "New Singkel" yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Singkil Baru.
Nama tersebut menjadi simbol ketangguhan masyarakat Aceh Singkil yang berulang kali bangkit dari tempaan bencana besar sepanjang sejarah.
(Serambinews.com/Dede Rosadi)
Baca juga: Angin Kencang Terjang Aceh Singkil, Atap Rumah Warga di Pulau Banyak Barat Terbang
Baca juga: Waspada! Jalan Danau Paris Aceh Singkil Rawan Longsor Jelang Arus Mudik