Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) menjadi badan pengatur besar terbaru yang menyuarakan penolakan terhadap usulan kontroversial presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk menjual kepemilikan sebagian Piala Dunia. Rencana itu, yang melibatkan investor swasta mengambil bagian kepemilikan dalam anak perusahaan komersial baru, telah memicu perpecahan besar di sepak bola dunia.
Raksasa-raksasa Eropa bersatu melawan Infantino
KNVB bergabung dengan gelombang penolakan yang terus membesar dari kekuatan-kekuatan utama sepak bola Eropa terhadap upaya FIFA memprivatisasi aset paling bergengsinya. Dalam rancangan proposal tersebut, anak perusahaan baru senilai $20 billion akan dibentuk untuk mengelola hak komersial Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub yang telah diperbarui, dengan 20 persen perusahaan itu dijual kepada firma ekuitas swasta.
Langkah ini memicu kritik tajam dari Belanda dan berbagai pihak lain, ketika badan-badan pengatur mencerna dampak dari pergeseran kendali sepak bola internasional ke arah investor luar. Sikap Belanda mencerminkan posisi Federasi Sepak Bola Inggris, yang baru-baru ini merilis pernyataan bahwa mereka “sama sekali tidak mengetahui proposal ini” dan menyampaikan kekhawatiran mendalam atas minimnya transparansi serta tata kelola yang semestinya dalam proses pengambilan keputusan.
KNVB mengangkat kekhawatiran atas proposal penjualan saham Piala Dunia milik FIFA
KNVB menyampaikan kekhawatiran serius terhadap proposal FIFA untuk menjual saham di Piala Dunia, dan menyebut potensi langkah itu sebagai “perkembangan yang sangat mengkhawatirkan” bagi masa depan sepak bola dunia. Dalam pernyataannya kepada NU.nl, badan sepak bola Belanda itu memperingatkan: “Berdasarkan apa yang telah dipublikasikan sejauh ini, kami menilai ini sebagai perkembangan yang sangat mengkhawatirkan bagi sepak bola internasional.”
Asosiasi tersebut menegaskan bahwa mereka belum akan mengambil sikap final sampai seluruh rincian resmi dipaparkan. “Segera setelah penjabaran resmi dari rencana ini tersedia, kami akan bersama-sama mempelajari dan membahas proposal tersebut dengan saksama,” demikian pernyataan KNVB, sambil menekankan prioritas mereka ke depan. “Bagi kami, kepentingan sepak bola, tata kelola yang baik, dan transparansi harus selalu menjadi prinsip utama.”
Ultimatum $40 million
Untuk mengamankan dukungan terhadap proyek ini, Infantino menawarkan insentif besar kepada 211 asosiasi anggota FIFA. Presiden FIFA itu menjanjikan insentif sebesar $40m bagi setiap federasi apabila mereka menyetujui perombakan komersial tersebut sebelum tenggat ketat pada 19 September. Jika rencana itu ditolak, federasi-federasi hanya akan menerima porsi yang jauh lebih kecil dari dana pengembangan senilai $2.7 billion.
Infantino tetap bersikeras bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk memodernisasi keuangan sepak bola, dengan mengatakan: “Adalah tugas dan tanggung jawab saya sebagai presiden FIFA untuk menghadirkan peluang yang mengubah permainan seperti ini kepada Anda, para anggota kami. Jika Anda ingin melanjutkan, paket $10billion ini akan tersedia mulai 1 Januari 2027, menandai fase berikutnya dari perjalanan kita bersama. Jika Anda ingin mempertahankan status quo dan menolak proposal ini, kami tetap memiliki rencana perluasan program Forward sebesar $2.7billion seperti yang telah dipresentasikan sebelumnya.”
Keterkaitan politik dan dukungan finansial
Kontroversi ini semakin memanas karena identitas investor utama yang terlibat dalam kesepakatan tersebut. Proposal itu dilaporkan didukung oleh Thrive Capital, firma yang didirikan oleh Joshua Kushner. Mengingat koneksi politik tingkat tinggi firma tersebut di Amerika Serikat, sejumlah asosiasi anggota mempertanyakan pengaruh geopolitik dan komersial jangka panjang yang mungkin timbul terhadap ajang olahraga yang paling banyak ditonton di dunia itu.
Pimpinan FIFA mendorong penyelesaian cepat, tetapi reaksi keras dari UEFA menunjukkan bahwa pertarungan hukum atau politik bisa segera terjadi. Para pejabat Eropa mempertanyakan dasar etis dari penjualan sebagian Piala Dunia kepada firma ekuitas swasta, dengan alasan bahwa jiwa sepak bola internasional tidak semestinya dijual kepada penawar tertinggi, terlepas dari imbalan finansial yang ditawarkan kepada negara-negara yang lebih kecil. Untuk menegaskan posisi tersebut, UEFA sedang menyiapkan pertemuan digital darurat dengan seluruh 55 asosiasi anggotanya — termasuk KNVB — guna menyusun respons Eropa yang bersatu, meski tanggal untuk pertemuan virtual itu masih belum ditetapkan.