Dari Hobi Catur, Mahasiswa Ubaya Kembangkan Smart Chess, Robot Bermain Berbasis AI
Titis Jati Permata July 31, 2026 05:32 PM

 

SURYA.co.id, SURABAYA – Sebuah papan catur kini bisa menjadi media untuk menguji kemampuan kecerdasan buatan dalam mengendalikan robot. 

Melalui tugas akhirnya, Agung, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Surabaya (Ubaya) mengembangkan Smart Chess, robot catur yang mampu membaca posisi bidak, menentukan strategi, hingga menjalankan langkah secara otomatis.

Menggabungkan lengan robot industri, kamera, dan teknologi artificial intelligence (AI), inovasi ini tidak hanya dirancang untuk bermain catur, tetapi juga menjadi sarana penelitian mengenai integrasi AI dengan sistem robotika.

Catur Jadi Media Uji Kemampuan AI

Meski menggunakan lengan robot industri, Agung menjelaskan Smart Chess saat ini belum diarahkan untuk kebutuhan industri secara langsung. Robot tersebut masih difungsikan sebagai media bermain dan latihan catur.

Namun, konsep yang digunakan di dalamnya diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan robot industri yang lebih cerdas pada masa mendatang.

Menurut Agung, catur dipilih karena memiliki tingkat kompleksitas tinggi. Kemampuan robot dalam memahami situasi permainan dan mengambil keputusan dinilai dapat menjadi gambaran bagaimana AI bekerja dalam menghadapi persoalan yang membutuhkan analisis.

"Fokus tugas akhir ini adalah mengintegrasikan kecerdasan buatan dengan robot industri. Saat ini memang diterapkan pada permainan catur sebagai media latihan dan bermain, tetapi harapannya konsep ini bisa dikembangkan untuk kebutuhan industri. Dengan AI, robot nantinya dapat menjalankan instruksi yang lebih kompleks sehingga pemanfaatan robot industri menjadi lebih efisien," ujar Agung kepada SURYA.co.id, Jumat (31/7/2026)

Kamera dan AI Kendalikan Gerakan Robot

Dalam sistem Smart Chess, kamera webcam berfungsi mengenali posisi setiap bidak di papan catur. Data tersebut kemudian diproses oleh AI untuk menentukan langkah terbaik.

Setelah keputusan dibuat, lengan robot akan bergerak secara otomatis untuk memindahkan bidak sesuai strategi yang telah dihitung.

Baca juga: Hampir 2 Tahun Terlunta-lunta, Skandal Dualisme Percasi Surabaya Ancam Prestasi Atlet Catur

Saat ini, Smart Chess masih dikembangkan dalam skenario pertandingan antara manusia melawan robot. Ke depan, sistem tersebut masih dapat dikembangkan, termasuk kemungkinan pertandingan robot melawan robot maupun penambahan kemampuan kecerdasan lainnya.

Selain bermain, robot ini juga memiliki fitur latihan yang memungkinkan pengguna melakukan berbagai simulasi.

"Smart Chess memiliki fitur latihan seperti mengulang langkah (undo), menyusun ulang posisi bidak sesuai kebutuhan, hingga membuat skenario latihan seperti mencari langkah skakmat dalam beberapa langkah atau mempelajari posisi tertentu," jelas Agung.

Berawal dari Hobi Catur

Ide pengembangan Smart Chess berawal dari kegemaran Agung sebagai atlet catur. Ia melihat catur sebagai permainan yang dikenal luas masyarakat sekaligus memiliki tingkat kompleksitas tinggi.

Menurutnya, karakter permainan tersebut cocok digunakan untuk menunjukkan kemampuan AI dalam mengendalikan robot.

Dalam pengujian di laboratorium, Smart Chess mencatat tingkat kemenangan hingga 100 persen ketika menggunakan AI dengan tingkat permainan setara grandmaster.

Sementara dalam sejumlah demonstrasi di luar laboratorium, robot masih sempat dikalahkan pemain manusia sehingga tingkat keberhasilannya berada pada kisaran 97–98 persen.

"Saat pengujian di laboratorium, tingkat kemenangan bisa mencapai 100 persen dengan AI level grandmaster. Namun saat demonstrasi di luar laboratorium, masih ada pemain yang mampu mengalahkan robot sehingga tingkat keberhasilannya sekitar 97–98 persen," paparnya.

Agung mengakui Smart Chess masih memiliki sejumlah keterbatasan. Beberapa fitur pertandingan profesional, seperti pendeteksian kecurangan dan aturan threefold repetition, belum tersedia dalam sistem saat ini.

Beri Pengalaman Baru bagi Pecatur

Pecatur Willi Irawan yang mencoba langsung bermain melawan Smart Chess mengaku mendapatkan pengalaman berbeda dibandingkan bermain catur secara digital.

Menurutnya, sensasi bermain tetap terasa seperti pertandingan catur konvensional karena pemain masih berhadapan dengan papan dan bidak fisik, tetapi lawannya adalah robot yang mampu merespons langkah menggunakan AI.

"Inovasi ini menarik karena memberikan pengalaman bermain yang berbeda. Kita tetap bermain di papan catur seperti pertandingan biasa, tetapi lawannya adalah robot yang mampu merespons langkah pemain," kata Willi.

Ia menilai teknologi seperti Smart Chess dapat menjadi media latihan sekaligus sarana memperkenalkan penerapan AI dan robotika kepada masyarakat.

Melalui inovasi tersebut, Agung menunjukkan permainan klasik seperti catur dapat menjadi pintu masuk untuk mengembangkan teknologi masa depan, termasuk robot industri yang mampu mengambil keputusan secara lebih mandiri.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.