Wamendiktisaintek Stella Ungkap Dampak Tersembunyi AI, Konsumsi Energinya Capai 4,5 Persen Dunia
Wahyu Aji July 31, 2026 05:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengungkapkan terdapat konsekuensi besar dari kecerdasan buatan (AI).

Dirinya mengungkapkan penggunaan AI membutuhkan konsumsi listrik dan air dalam jumlah sangat besar untuk menopang pusat-pusat data (data center).

Stella mengatakan berbagai riset menunjukkan penggunaan AI menyedot energi dalam skala masif.

"Padahal, di balik masifnya penggunaan AI, ada 'harga' tersembunyi yang harus dibayar mahal," kata Stella.

Hal tersebut dikatakan Stella dalam paparannya di hadapan 240 penerima beasiswa Tanoto Foundation pada Tanoto Scholars Gathering di Pangkalan Kerinci, Riau.

Ia menjelaskan, meski angka pasti konsumsi energi AI masih terus diteliti, sejumlah studi memperkirakan penggunaan energi AI.

Saat ini mencapai sekitar 1-1,3 persen dari total konsumsi energi dunia dan berpotensi meningkat hingga 4,5 persen.

"Tahun lalu pemakaian energi oleh AI itu sama dengan pemakaian energi selama satu tahun dari negara Latvia," ujarnya.

Menurut Stella, tren tersebut diproyeksikan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. 

Mulai tahun ini hingga lima tahun mendatang, kebutuhan energi AI diperkirakan setara dengan konsumsi listrik tahunan negara-negara seperti Rumania, Republik Ceko, Italia, Inggris Raya, hingga Kanada.

"Diperkirakan tahun 2030, tidak ada satu negara pun di Eropa yang pemakaian energinya selama satu tahun itu bisa dibandingkan atau menopang pemakaian energi AI," katanya.

Tak hanya listrik, penggunaan air untuk mendukung operasional pusat data AI juga dinilai sangat besar. 

Stella mengungkapkan salah satu fasilitas pemrosesan data perusahaan AI tercatat menggunakan air setara kebutuhan air minum bagi 1,2 juta orang. 

Sementara konsumsi listriknya setara dengan kebutuhan 50 rumah sakit besar atau 325 universitas di Amerika Serikat.

Karena itu, Stella mengingatkan agar masyarakat tidak memandang AI sebagai solusi untuk semua persoalan. 

Menurutnya, hingga kini AI masih sebatas menghasilkan potensi jawaban, belum mampu mewujudkan implementasi nyata.

"AI belum bisa menyembuhkan kanker, belum bisa membangun perusahaan yang masuk Fortune 500," ujarnya.

Selain persoalan lingkungan, Stella juga mengingatkan bahaya ketergantungan terhadap AI.

Ia menilai mahasiswa dan pelajar tetap harus menjalani proses belajar secara utuh agar mampu mengevaluasi apakah hasil yang diberikan AI benar, akurat, dan berkualitas.

"Secanggih-canggihnya AI, kalau kalian bisa menentukan apakah luaran dari AI itu benar atau tidak, akurat atau tidak, bagus atau tidak, kalian tidak akan tergantikan," tegasnya.

Stella menambahkan, masa depan tidak ditentukan oleh siapa yang paling cepat mengadopsi AI, melainkan oleh mereka yang tetap mampu berpikir kritis.

Sejalan dengan pesan tersebut, Tanoto Foundation terus berupaya menyiapkan generasi muda melalui Program TELADAN (Transformasi Edukasi untuk Melahirkan Pemimpin Masa Depan).

Baca juga: Kecerdasan Buatan untuk Mencegah Kecurangan dalam Kepailitan

Program beasiswa dan pengembangan kepemimpinan ini bagi mahasiswa S1 di 10 perguruan tinggi mitra Tanoto Foundation.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.