Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan
TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG – Semangat belajar tidak pernah surut meski harus menghadapi keterbatasan akses. Itulah yang setiap hari dialami para siswa SD Negeri 07 Muara Kemumu di Desa Damar Kencana, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu.
Setiap pagi sebelum lonceng sekolah berbunyi, puluhan siswa berjalan menyusuri jalan tanah yang membelah kawasan perkebunan menuju sekolah.
Akses utama menuju sekolah masih berupa jalan tanah sepanjang sekitar 13 kilometer dari Desa Cinto Mandi menuju Desa Damar Kencana.
Saat musim hujan, jalan berubah menjadi licin dan berlumpur sehingga menyulitkan perjalanan. Sebaliknya, ketika musim kemarau tiba, debu tebal beterbangan mengiringi langkah para siswa menuju sekolah.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat mereka untuk menimba ilmu.
Kepala SD Negeri 07 Muara Kemumu, Sinar Kumala, mengatakan selama empat tahun memimpin sekolah tersebut, kondisi jalan menuju sekolah belum mengalami perubahan.
"Iya, akses jalan ke sekolah kami masih tanah. Akses jalan tanah itu sekitar 13 kilometer, terhitung dari Desa Cinto Mandi menuju sekolah yang berada di Desa Damar Kencana," ujar Sinar Kumala, Jumat (31/7/2026).
Banyak Siswa Berjalan Kaki ke Sekolah
Mayoritas siswa tinggal di Desa Damar Kencana. Karena tidak tersedia angkutan umum dan kondisi jalan sulit dilalui kendaraan, sebagian besar siswa memilih berjalan kaki setiap hari.
Sebagian siswa menempuh jarak sekitar satu hingga dua kilometer dari rumah menuju sekolah. Ada pula yang tinggal di sekitar kawasan ladang dekat sekolah.
"Anak-anak yang bersekolah di SD 07 itu banyak yang tinggal di Desa Damar Kencana, jadi umumnya siswa berjalan kaki menuju sekolah. Sebagian menempuh jarak satu hingga dua kilometer, ada juga beberapa yang tinggal di dekat ladang sekitar sekolah," jelas Sinar.
Saat ini SD Negeri 07 Muara Kemumu memiliki 34 siswa. Pada tahun ajaran baru 2026, sekolah tersebut hanya menerima satu peserta didik baru.
Jalan Rusak dan Sinyal Minim Jadi Kendala
Selain akses jalan yang belum memadai, sekolah juga masih menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana.
Jaringan telekomunikasi di wilayah tersebut juga belum mendukung proses pembelajaran secara optimal.
"Sinyal di sana ada, tapi tidak begitu bagus dan sarana prasarana sekolah juga masih kurang maksimal," tuturnya.
Menurut Sinar, pembangunan akses jalan bukan hanya mempermudah perjalanan guru dan siswa, tetapi juga membuka akses pendidikan, memperlancar distribusi kebutuhan sekolah, serta meningkatkan mobilitas masyarakat di kawasan pedalaman.
Ia berharap pemerintah dapat segera melakukan pengerasan jalan agar aktivitas belajar mengajar tidak lagi terkendala kondisi infrastruktur.
"Kami berharap pemerintah bisa menyelesaikan akses jalan itu. Paling tidak dilakukan pengerasan jalan sehingga perjalanan menuju sekolah menjadi lebih lancar," harapnya.