TRIBUNSUMSEL.COM – Di era digital saat ini, media sosial dan aplikasi perpesanan seperti WhatsApp telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Berbagai informasi, foto, hingga video dengan mudah dibagikan hanya dalam hitungan detik.
Namun, tidak sedikit masyarakat yang kurang menyadari dampak dari apa yang mereka unggah. Alasan bercanda atau sekadar meluapkan rasa iseng di grup jejaring sosial justru bisa berujung pada perbuatan dosa yang terus mengalir.
Pengasuh LPD Al-Bahjah, Buya Yahya dalam ceramahnya memberikan penjelasan mendalam mengenai etika dan cara bijak menggunakan media sosial dalam Islam, dikutip Tribunsumsel.com dari tayangan berjudul Bijak Dalam Bersosial Media di kanal YouTube Al-Bahjah TV, Jumat (31/7/2026).
Buya Yahya menjelaskan salah satu bentuk dosa yang sangat membahayakan adalah dosa yang dilakukan karena faktor kebiasaan.
Contohnya seperti mengirimkan foto atau video yang memperlihatkan aurat di grup WhatsApp dengan alasan guyonan atau iseng semata.
"Dosa yang paling membahayakan adalah dosa yang dilakukan karena kebiasaan. Dia biasa memosting begitu, tidak menyadari, dan ditutupi dengan alasan guyonan," ungkap Buya Yahya.
Lebih lanjut Buya Yahya mengingatkan agar sebelum menekan tombol send atau membagikan suatu konten, seorang muslim harus mempertimbangkan nilai manfaatnya.
Memosting atau mengunggah konten di media sosial dasarnya mirip dengan mengucapkan perkataan melalui lisan.
Apabila sebuah pesan atau unggahan sudah terlanjur disebarkan ke dunia maya, maka akan sangat sulit untuk ditarik kembali.
Hal ini berpotensi menjadi dosa jariyah yang terus mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia.
"Kalau sudah keluar dari handphone kita, nariknya tidak bisa. Dan dosanya akan terus mengalir. Kita sudah di alam barzakh, tapi masih dapat 'kiriman' seperti itu," tegas Buya Yahya.
Prinsip menjaga postingan dan ucapan ini sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW dalam sebuah hadits shahih:
Hadits Rasulullah Muhammad SAW tentang Menjaga Perkataan:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Man kāna yu'minu billāhi wal-yaumil-ākhiri falyaqul khairan au liyasmut.
Terjemahan:
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)*
Ketika berada di dalam grup jejaring sosial yang terdapat anggota membagikan konten tidak pantas, Buya Yahya memberikan panduan serta adab yang bijak agar tidak menimbulkan perselisihan.
1. Bagikan Konten Nasihat Secara Menyejukkan
Dibandingkan langsung menegur secara keras di depan umum, cobalah mengunggah video atau pesan ceramah singkat yang bernilai edukatif dan mudah diterima.
2. Gunakan Jalur Pribadi (Japri)
Jika ingin mengingatkan, ajak komunikasi melalui pesan pribadi secara sopan dan santun.
3. Mendorong Kesadaran Diri
Menasihati secara halus dapat membantu yang bersangkutan menyadari kekhilafannya sendiri.
Permintaan maaf yang keluar dari kesadaran pribadi jauh lebih indah ketimbang dikritik secara terbuka yang berisiko memicu sifat egois atau anggapan 'sok suci'.
Demikian ulasan Cara Bijak Menggunakan Media Dalam Islam, Penjelasan Buya Yahya.
Baca juga: Haram! Hukum Mengeroyok Maling Dalam Islam, Simak Penjelasan Ulama
Baca juga: Adab Sebelum Tidur sesuai Sunnah, Bacaan Doa Lengkap Teks Arab dan Terjemahan
Baca juga: Doa agar Dimudahkan Berdzikir dan Bersyukur, Teks Arab dan Terjemahan Lengkap
Baca juga: 10 Dosa Besar yang Tidak Diampuni Allah SWT dan Dapat Mendatangkan Kemurkaan
Ikuti dan bergabung di saluran WhatsApp Tribunsumsel.com