60.000 Migran Masuk Ceuta dari Maroko, Spanyol Hadapi Krisis Terbesar dalam Bertahun-tahun
Tiara Shelavie July 31, 2026 09:19 PM

TRIBUNNEWS.COM - Otoritas memperkirakan sekitar 60.000 migran telah masuk ke wilayah eksklave Ceuta di Afrika Utara dalam 24 jam terakhir, setelah mereka berbondong-bondong menyeberang dari Maroko melalui jalur laut dan darat.

Mengutip Euronews, sedikitnya 60.000 migran dalam beberapa hari terakhir telah menyeberang dari Maroko ke Ceuta, wilayah eksklave Spanyol.

Demikian disampaikan otoritas ketika Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez tiba untuk menangani krisis migran terbesar yang dihadapi negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir. 

Polisi juga mengatakan pada Jumat bahwa masih banyak orang yang terus berdatangan ke wilayah tersebut.

Otoritas Spanyol mengatakan mereka akan berupaya mengusir orang-orang yang masuk secara ilegal secepat mungkin.

Hal itu dilakukan meskipun terdapat putusan pengadilan yang memberlakukan sejumlah pembatasan baru terhadap aturan khusus "penolakan di perbatasan" yang memungkinkan pengusiran secara langsung.

Setibanya di wilayah eksklave tersebut, Sánchez mengatakan bahwa "berdasarkan pembicaraan kami dengan otoritas Maroko, muncul dugaan bahwa mafia perdagangan manusia telah menafsirkan secara sepihak sebuah putusan Mahkamah Agung."

"Tafsir tersebut menyebar dengan sangat cepat dalam beberapa jam terakhir," katanya.

Baca juga: Imbas Imigran Gelap Maroko Serbu Spanyol, Italia Perketat Perbatasan

Pada Kamis, para migran yang tampak gembira berjalan melewati jalan-jalan Ceuta sambil berterima kasih kepada polisi Spanyol dan meneriakkan, "Selamat tinggal Maroko, halo Spanyol."

Polisi dan Garda Sipil di Ceuta tampak hanya melakukan sedikit tindakan untuk menghentikan arus tersebut. Namun, beberapa petugas berusaha mengarahkan para pendatang ke pusat penerimaan migran setempat.

Sejauh ini, 34 orang dilaporkan tewas dalam upaya mencapai wilayah Spanyol tersebut, menurut sumber kepolisian.

Dampak Diplomatik

Situasi lonjakan migran di Ceuta juga telah memicu dampak diplomatik.

Pada Kamis, Italia menyerukan agar Spanyol ditangguhkan dari zona Schengen Eropa yang menerapkan perbatasan terbuka.

Langkah tersebut mendorong Spanyol memanggil duta besar Italia dan menuduh Roma memanfaatkan krisis tersebut untuk kepentingan politik.

Dua pejabat senior di Gedung Putih pada masa pemerintahan Presiden AS Donald Trump juga kembali menyuarakan sikap anti-imigrasi mereka pada Kamis dengan menggunakan rekaman video mengenai situasi di Ceuta.

Ratusan migran yang masuk secara ilegal ke Ceuta mulai kembali ke Maroko melalui titik yang sama, yaitu pemecah gelombang yang memisahkan wilayah kota otonom tersebut. Para migran diarahkan oleh personel militer untuk mencari jalur kembali ke Maroko.

Prancis Perkuat Pengawasan Perbatasan dengan Spanyol

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez pada Jumat mengatakan bahwa pengawasan di perbatasan dengan Spanyol akan diperkuat.

"Mengingat situasi di wilayah eksklave Ceuta, saya memberikan instruksi tadi malam untuk segera meningkatkan pengawasan di perbatasan Spanyol.

Selain itu, saya mengerahkan Pasukan Intervensi Perbatasan Cepat untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh," kata Nuñez.

Otoritas Spanyol Kewalahan

Otoritas Spanyol mengatakan mereka "benar-benar kewalahan" menghadapi situasi tersebut, menurut laporan El Mundo. Ketika situasi mulai terjadi, hanya 55 petugas yang berada di garis depan, menurut surat kabar Spanyol tersebut.

Jumlah pasukan aktif di lapangan "tiga atau empat kali lebih sedikit dari yang dibutuhkan untuk menghadapi situasi seperti ini," kata David Gomez, sekretaris komunikasi Asosiasi Profesional Keadilan untuk Garda Sipil, kepada El Mundo.

Lonjakan tersebut menjadi kedatangan migran terbesar di Ceuta sejak 2021. Sebagian besar pendatang merupakan pria muda dan remaja.

Sebanyak 18 kematian dilaporkan terjadi selama proses penyeberangan, berdasarkan data yang dirilis pada Jumat pagi oleh sumber yang sama.

Jumlah pendatang tersebut membuat populasi Ceuta meningkat lebih dari 50 persen. Sebelumnya, sekitar 83.000 orang tinggal di wilayah eksklave tersebut.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.