HUT Ke-27 Nunukan Bakal Dimeriahkan Festival Budaya hingga Rekor MURI, Undang 8 Negara
Cornel Dimas Satrio July 31, 2026 10:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) menyiapkan rangkaian kegiatan budaya, olahraga, hingga hiburan untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Nunukan yang akan berlangsung sepanjang September hingga Oktober 2026.

Tak hanya menampilkan agenda budaya lokal, perayaan HUT Kabupaten Nunukan juga direncanakan dihadiri delegasi dari delapan negara dan menargetkan pemecahan rekor MURI tari massal yang melibatkan 10 ribu peserta.

Kepala Disbudporapar Nunukan, H Sura'i, mengatakan rangkaian kegiatan dimulai sejak September melalui Festival Tanjung Karang di Pulau Sebatik.

Festival tersebut menghadirkan berbagai pertunjukan seni budaya, permainan rakyat, hingga olahraga tradisional yang digelar selama beberapa hari.

"Festival Tanjung Karang merupakan festival kebudayaan yang menampilkan permainan tradisional, olahraga tradisional sampai seni budaya di Sebatik," ujarnya kepada TribunKaltara.com, Jumat (31/7/2026).

Setelah itu, masyarakat akan mengikuti ritual adat Bejiu Safar, tradisi tolak bala masyarakat suku Tidung yang selama ini terbuka bagi seluruh masyarakat.

"Kegiatan itu memang ritual masyarakat Tidung, tetapi biasanya diikuti oleh semua masyarakat," kata Sura'i.

Baca juga: Pemkab Nunukan Gelar Beragam Kegiatan Meriahkan HUT Kemerdekaan ke-81 RI, Dimulai 1 Agustus

Agenda September kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan marching band dan Gebyar Kuliner Nusantara.

Dalam kegiatan tersebut, berbagai paguyuban, kerukunan keluarga, komunitas adat, hingga perwakilan suku di Nunukan diberi kesempatan menyajikan makanan khas daerah masing-masing.

Pemerintah hanya membantu penyediaan bahan makanan, sedangkan masyarakat diberi ruang untuk berkreasi.

"Yang dinilai bukan semata-mata lombanya, tetapi kebersamaan. Makanan itu nantinya dibagikan gratis kepada masyarakat yang hadir," katanya.

Libatkan Delapan Negara

Memasuki Oktober, rangkaian HUT Kabupaten Nunukan resmi dimulai pada 10 Oktober melalui Pawai Budaya.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang menggelar pawai pembangunan, kali ini seluruh peserta akan mengenakan pakaian adat dan budaya masing-masing.

Menurut Sura'i, pawai tersebut juga akan diikuti tamu dari Malaysia, Filipina, Korea Selatan, Rusia, India, Turki, China, dan satu negara sahabat lainnya.

"Seluruh komunitas, pelajar hingga tamu dari delapan negara akan ikut berjalan bersama mengenakan pakaian khas negaranya masing-masing," ujarnya.

Target Pecahkan Rekor MURI

Puncak persiapan dilakukan pada 11 Oktober dengan target memecahkan rekor MURI melalui tari massal Lukiwol yang diikuti sekitar 10 ribu orang.

Disbudporapar telah mengirim 34 pelatih ke sekolah-sekolah, instansi pemerintah, hingga kantor vertikal untuk melatih peserta.

Setiap instansi diminta menyiapkan minimal satu regu berisi 10 orang.

"Peserta tidak harus menggunakan pakaian adat. Boleh memakai pakaian olahraga ataupun seragam instansi," katanya.

Pengumuman berhasil atau tidaknya pemecahan rekor MURI akan dilakukan saat sidang paripurna HUT Kabupaten Nunukan pada 12 Oktober.

Dihadiri Duta Besar Lima Negara

Sura'i menyebut sidang paripurna tahun ini ditargetkan menjadi yang terbesar di Kalimantan Utara karena direncanakan dihadiri para duta besar dari lima negara.

Usai sidang, seluruh tamu bersama peserta akan menari bersama menggunakan pakaian adat di halaman DPRD Nunukan.

Selain menghadirkan tiga artis nasional yang masih dalam proses kontrak, perayaan HUT Nunukan juga akan dimeriahkan penampilan kelompok seni dari negara-negara peserta.

"Jadi bukan hanya penyanyi, tetapi juga penari dan kelompok seni dari negara-negara yang hadir," ujarnya.

Berlangsung Hingga 27 Oktober

Rangkaian kegiatan berlanjut dengan Paras Fest 2026, lomba Senam Yameto dan Lukiwol, Run Energi Baru, Irau Tidung Borneo Bersatu, Ilau Pasisimpungan, hingga berbagai festival budaya di sejumlah kecamatan.

Kegiatan sengaja digelar hingga 27 Oktober agar memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

Pemerintah juga akan menyiapkan sekitar 100 stan UMKM yang terdiri atas stan kuliner dan produk kerajinan.

"Kenapa kita buat panjang? Supaya UMKM kita hidup dan ekonomi masyarakat bergerak," kata Sura'i.

Ia menambahkan, sebagian besar pembiayaan kegiatan internasional tersebut mendapat dukungan pemerintah pusat.

Dari total anggaran sekitar Rp1,3 miliar, sekitar 70 persen ditanggung kementerian, sedangkan Pemerintah Kabupaten Nunukan menanggung sekitar 30 persen.

(Adv)

Penulis: Fatimah Majid

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.