TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Istana Kepresidenan RI melalui Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, menjelaskan terkait pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal istilah Londo Ireng yang disampaikan beberapa waktu lalu.
Menurut Hasan, istilah tersebut tidak disampaikan kepada rakyat secara umum.
Melainkan kepada kelompok kelompok kritis yang diduga menebarkan kegaduhan dan pesimisme.
“Mengkritik Londo Ireng boleh, dong. Kan enggak ditujukan ke rakyat secara umum. Itu kan ke apa? Kelompok-kelompok kritis yang kita duga sebagai Londo Ireng kan, bukan untuk masyarakat secara umum,” kata Hasan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Istilah Londo Ireng kata Hasan ditujukan kepada pihak pihak yang dinilai suka membikin gaduh dan selalu melihat dari sudut pandang pesimis dalam kehidupan bangsa.
“Itu kan istilah aja untuk sebagian orang yang ya sepertinya kok lebih suka gaduh. Sepertinya kok lebih suka pesimis melihat kehidupan bangsa kita,” katanya.
Pihak-pihak tersebut terdiri dari beragam profesi.
Oleh karena itu Presiden Prabowo, kata Hasan, mengingatkan agar semua elemen bangsa untuk menjaga optimisme dalam kehidupan berbangsa agar Indonesia bisa tumbuh lebih cepat.
“Nah, jadi buat kita ini sebagai pengingat aja bahwa harusnya kan kita bersama-sama bersatu, ya. Tidak memperbanyak kegaduhan tapi justru memperbanyak kekompakan ya. Kita harus memperbanyak optimisme, mengurangi pesimisme, memperbanyak kepercayaan diri terhadap bangsa kita, dan menghilangkan rasa-rasa pesimis lah. Sehingga kita bisa maju lebih cepat,” pungkasnya.
Londo Ireng secara harfiah berarti "Belanda hitam", sebuah istilah historis dari bahasa Jawa yang kerap dipakai sebagai metafora politik untuk menyebut pribumi atau pihak lokal yang dianggap berpihak pada kepentingan asing atau penjajah.
Istilah Londo Ireng sebelumnya dilontarkan Prabowo saat acara peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 PKB di Puncak Harlah ke-28 PKB di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (23/7/2026) lalu.
Istilah itu sendiri ditujukan untuk orang-orang Indonesia yang dianggapnya senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain.
Prabowo menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara demokrasi tidak pernah anti terhadap kritik.
Namun, ia menyayangkan adanya pihak-pihak yang dinilainya sengaja mengabdi pada kepentingan asing demi melemahkan bangsa sendiri.
"Kita negara demokrasi, kita tidak anti kritik tapi kita bukan anak kecil. Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang seneng mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng. Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo-londo ireng ini. Sampai sekarang masih ada," kata Prabowo.
Lebih lanjut, Prabowo mempertanyakan siapa penyandang dana di balik pihak-pihak yang kerap tampil dengan narasi negatif tersebut. Apalagi saat ini kondisi ekonomi secara umum sedang menghadapi tantangan penciptaan lapangan kerja.
"Hanya dia sekarang pakai baju lain kan. Wartawan, jurnalis, apa itu pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lu siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphone-mu siapa? Cari pekerjaan susah kita tahu kan," katanya.