Oleh : Ikhsan Alhaque
Pegiat Literasi Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID - KETIKA sungai perlahan diperlakukan hanya sebagai lanskap visual dan ornamen kota, Banjarmasin sesungguhnya sedang menghadapi ancaman yang lebih sunyi: putusnya hubungan antara modernitas perkotaan dengan memori ekologis masyarakat sungainya.
Kota yang Lahir dari Air
Banyak kota lahir dari jalan raya. Banjarmasin lahir dari air. Sungai, rawa, pasang surut, kanal, dan anak-anak sungai bukan sekadar unsur geografis bagi orang Banjar. Ia adalah ingatan kolektif. Dari air, orang Banjar belajar membaca musim, memahami arah kehidupan, membangun perdagangan, hingga membentuk watak sosial yang lentur tetapi tahan menghadapi perubahan. Di kota ini, air bukan hanya benda alam. Ia adalah ruang hidup, ruang budaya, sekaligus ruang peradaban.
Ketika sungai mulai kehilangan makna ekologisnya, sesungguhnya yang sedang terancam bukan hanya lingkungan kota, melainkan juga memori sosial masyarakatnya.
Banjarmasin tumbuh sebagai kota sungai dan kota rawa. Dengan luas wilayah sekitar 98 kilometer persegi, kota ini dibelah Sungai Martapura dan dikelilingi jejaring sungai kecil, kanal, rawa, serta wilayah pasang surut yang selama ratusan tahun menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat. Dalam banyak hal, Banjarmasin sesungguhnya tidak pernah benar-benar “mengalahkan” air. Kota ini sejak awal hidup dengan cara berdamai dengan air.
Rumah-rumah panggung, titian kayu, pasar terapung, budaya batang, hingga pola permukiman lama menunjukkan bahwa masyarakat Banjar dahulu memahami satu hal penting: air tidak selalu harus dilawan. Ia perlu dibaca, dipahami, lalu diadaptasi. Namun modernitas kota perlahan mengubah cara pandang itu.
Ironi Kota Air Modern
Dalam beberapa dekade terakhir, sungai mulai lebih sering dipandang sebagai elemen estetika kota dibanding sistem ekologis yang harus dijaga. Kita membangun tepian sungai menjadi ruang visual yang menarik, mempercantik kawasan waterfront, memasang pencahayaan kota, membuka ruang publik baru, dan menghadirkan wajah urban yang modern. Semua itu tentu penting. Kota memang perlu wajah yang baik.
Tetapi di saat yang sama, anak-anak sungai perlahan menghilang. Rawa ditimbun. Drainase kehilangan daya tampung. Betonisasi merayap ke mana-mana. Air kehilangan ruang resapnya.
Ironinya terasa semakin nyata setiap musim hujan datang.
Kota air justru semakin akrab dengan banjir. Air menggenang di jalan-jalan utama, memasuki gang-gang padat penduduk, bahkan kadang bertahan lebih lama karena saluran air tidak lagi mampu mengalirkan limpasan secara optimal. Pada musim tertentu, pasang memperparah keadaan. Sementara saat kemarau datang, persoalan lain muncul: pasokan air bersih menjadi sensitif terhadap kualitas air baku dan kondisi sungai.
Di kota yang dikelilingi air, sebagian besar warganya justru sangat bergantung pada distribusi PDAM dan air kemasan untuk kebutuhan konsumsi. Air ada di mana-mana, tetapi tidak semuanya layak digunakan. Itu paradoks ekologis yang perlahan kita anggap biasa.
Persoalan sampah juga memperlihatkan hubungan kota dengan sungai yang mulai berubah. Sungai yang dahulu menjadi urat kehidupan, kini sebagian berubah menjadi ruang buangan. Beban sampah dari hulu ikut bergerak ke wilayah hilir seperti Banjarmasin. Di sisi lain, tekanan urbanisasi membuat ruang kota semakin padat. Dengan populasi sekitar 700 ribu jiwa di wilayah yang relatif sempit, tekanan terhadap tata air kota menjadi semakin berat.
Di titik inilah kita mulai perlu bertanya secara lebih jujur: apakah konsep waterfront city sudah cukup bagi masa depan Banjarmasin?
Istilah itu memang menarik secara visual dan ekonomi kota. Waterfront city menghadirkan citra kota sungai yang indah, terbuka, dan modern. Tetapi jika sungai hanya diposisikan sebagai latar estetika dan instrumen city branding, maka kota ini berisiko mengalami apa yang dapat disebut sebagai “demensia ekologis”. Ia tetap mengingat sungai sebagai simbol, tetapi mulai lupa bagaimana memahami sungai sebagai sistem kehidupan.
Tantangan kota-kota masa depan bukan lagi sekadar membangun ruang urban yang cantik, melainkan bagaimana membangun kota yang mampu hidup berdampingan dengan air secara cerdas dan berkelanjutan.
Karena itu, mungkin sudah saatnya arah pembangunan Banjarmasin bergerak lebih jauh: dari sekadar waterfront city menuju water governance city. Sebuah kota yang tidak hanya menampilkan sungai di brosur wisata, tetapi juga menempatkan tata kelola air sebagai fondasi peradaban kotanya.
Gagasan ini bukan sekadar konsep teknokratis. Ia menyangkut cara berpikir tentang masa depan kota. Banyak kota dunia mulai bergerak ke pendekatan living with water — hidup bersama air, bukan semata-mata melawan air. Konsep sponge city misalnya, mendorong kota memiliki kemampuan menyerap, menahan, dan mendaur ulang air hujan melalui ruang terbuka hijau, rawa kota, taman resapan, hingga infrastruktur biru-hijau (blue-green infrastructure). Sungai tidak dipaksa menjadi saluran beton semata, tetapi dipulihkan sebagai bagian dari ekosistem kota.
Bagi Banjarmasin, pendekatan seperti ini sesungguhnya tidak asing. Secara kultural, masyarakat Banjar pernah memiliki pengetahuan ekologis yang sangat dekat dengan prinsip tersebut. Persoalannya, modernitas perkotaan sering berjalan terlalu cepat sehingga memutus hubungan antara pembangunan fisik dengan ingatan ekologis masyarakatnya.
Akibatnya, kota berkembang, tetapi sensitivitas ekologisnya justru mengecil. Padahal Banjarmasin memiliki keterbatasan yang sangat nyata. Wilayahnya sempit. Karakter tanahnya rawa. Sebagian kawasan berada sangat rendah terhadap permukaan laut. Kota ini juga berada di wilayah hilir sehingga menerima dampak ekologis dari kawasan lain di sekitarnya. Artinya, tata kelola air tidak mungkin hanya diselesaikan secara parsial atau kosmetik.
Ia membutuhkan visi lintas generasi.
Kita tentu tidak sedang mengajak Banjarmasin kembali menjadi kota masa lalu. Modernitas tetap penting. Infrastruktur tetap perlu dibangun. Kota tetap harus tumbuh sebagai pusat ekonomi, jasa, pendidikan, dan pariwisata. Tetapi modernitas kota sungai seharusnya tidak dibangun dengan menghapus karakter ekologisnya sendiri.
Kota yang melupakan sungai pada akhirnya akan kehilangan kemampuan memahami dirinya sendiri. Barangkali itulah tantangan terbesar Banjarmasin memasuki usia lima abad. Bukan sekadar bagaimana membangun kota yang tampak modern, melainkan bagaimana memastikan modernitas itu tetap memiliki akar ekologis dan memori budaya yang kuat.
Sungai bukan hanya bentang air yang membelah kota. Ia adalah arsip hidup tentang siapa kita.
Pada usia lima abad, tantangan terbesar Banjarmasin mungkin bukan sekadar membangun kota yang modern, tetapi memastikan modernitas itu tidak memutus hubungan kota ini dengan sungai, rawa, dan ingatan ekologis yang sejak lama membentuk kehidupan orang Banjar. (*)