Terungkap! Ini Alasan Sapi Penarik Cikar Bantul Tak Boleh Sembarangan
Hari Susmayanti August 01, 2026 09:03 AM

TRIBUNJOGJA.COM - Di sekitar Pasar Jodog, Pandak, Bantul, pemandangan gerobak sapi atau cikar yang melintas di antara kendaraan bermotor masih bisa dijumpai.

Transportasi tradisional yang ditarik oleh tenaga sapi ini tetap diproduksi dan beroperasi hingga saat kini.

Kelestarian cikar di kawasan ini tidak lepas dari peran para "bajingan", sebutan untuk pengemudi gerobak sapi.

Dua sosok utama di balik lestarinya cikar tersebut adalah Mbah Prapto dan putranya, Yanto.

Produksi Turun-Temurun dan Corak Khas

3072026 - Produksi Cikar
Detail corak panca warna menghiasi bodi belakang sebuah cikar di kawasan Pasar Jodog, Pandak, Bantul.

Usaha pembuatan cikar bagi keluarga ini bukanlah hal baru, melainkan warisan dari generasi ke generasi.

Yanto, yang kini memegang kendali pengerjaan, menyebutkan bahwa keahlian merakit gerobak sapi sudah berakar sejak lama.

"Wah, sejak penjajahan sini. Kan dari kakek saya," ungkapnya.

Sosok sang ayah, Mbah Prapto, yang saat ini bertindak mengawasi pekerjaan produksi cikar, juga menjadi bukti panjangnya perjalanan usaha ini.

"Aku niku sangang puluh papat niku."  ujar Mbah Prapto sembari menegaskan usianya.

Proses pembuatan satu unit gerobak sapi utuh rata-rata membutuhkan waktu sekitar 10 hingga 15 hari, terutama untuk merampungkan bagian atap dan proses pengecatan akhir.

Harga jual gerobak ini pun sangat bervariasi bergantung pada spesifikasinya.

Cikar standar dengan bentuk paling dasar dibanderol di kisaran Rp7 juta hingga Rp8 juta.

Namun, harga tersebut bisa meningkat drastis mencapai Rp15 juta untuk spesifikasi lengkap, bahkan menyentuh angka Rp20 juta untuk gerobak dengan kualitas material terbaik.

Dari sisi tampilan visual, gerobak buatan keluarga ini selalu dihiasi warna-warni yang mencolok.

Pengecatan tersebut tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan berpegang pada filosofi panca warna atau lima warna dasar.

Penggunaan aneka warna cerah ini sengaja diaplikasikan agar badan cikar tampil lebih menonjol dan menarik perhatian saat melintas di jalanan.

Aturan Jalan Raya dan Perawatan Praktis

3072026 - Struktur gerobak
Konstruksi kayu, tiang bercat panca warna, serta atap pelindung melengkapi bagian dalam gerobak sapi khas Bantul.

Mengoperasikan gerobak sapi di jalanan umum menuntut standar teknis tertentu.

Berdasarkan pengalaman Yanto, cikar tidak bisa ditarik oleh sembarang hewan peliharaan.

Gerobak ini mutlak harus menggunakan sapi ras Peranakan Ongole (PO) yang berpunuk besar, karena postur fisik dan tenaga ras tersebut memang didesain tangguh untuk menarik beban berat.

Jenis sapi biasa tidak memiliki keberanian dan tenaga yang cukup untuk dijadikan sapi penarik.

Di jalan raya, kendaraan angkut tradisional ini berjalan sangat lambat.

"Ini kecepatan 1 jam itu sekitar 4 sampai 5 kilo," ujar Yanto.

Karena kecepatannya yang terbatas dan ukurannya yang cukup menyita ruang, satu armada gerobak sapi diwajibkan beroperasi dengan dua awak, yakni satu orang sebagai sopir dan satu orang lagi sebagai kenek.

Kehadiran dua awak ini ditujukan untuk mengarahkan laju sapi sekaligus merespon kondisi lalu lintas agar tetap aman bagi pengguna jalan lainnya.

Meski memiliki ukuran bodi yang besar, gerobak kayu ini ternyata sangat mudah dirawat, sehingga pemilik tidak memerlukan penanganan khusus sehari-hari.

Syarat utamanya hanyalah menempatkan cikar di dalam garasi atau peneduh agar terhindar dari panas terik matahari dan siraman air hujan saat sedang tidak digunakan.

Perawatan yang praktis inilah yang membuat kayu gerobak tetap awet digunakan bertahun-tahun untuk memenuhi panggilan kerja dan pameran dari berbagai wilayah seperti Prambanan, Turi, hingga Wates.

(MG Fauzan Ardana)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.