Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan sejumlah pejabat tinggi pemerintahannya mengecam keras Spanyol terkait krisis migran yang tengah melanda Ceuta. Sekitar 50.000-60.000 migran telah menyeberang dari Maroko ke wilayah eksklave Spanyol di Afrika Utara itu sejak Rabu (29/7/2026).
"Saya melihat apa yang terjadi di Spanyol kemarin dan menyaksikan bencana di sana. Situasinya tampak seperti sebuah negara yang sedang diserbu," kata Trump dalam rapat kabinet pada Jumat (31/7), seperti dilaporkan Politico.
"Jumlahnya ratusan ribu orang. Hal yang sama akan terjadi pada kami jika Partai Republik tidak menang dalam pemilu. Bahkan, keadaannya akan jauh lebih buruk, jumlahnya jauh lebih besar, dan mereka akan jauh lebih mudah masuk."
Kementerian Luar Negeri AS bahkan secara terang-terangan menuding pemerintahan sosialis pimpinan Perdana Menteri Pedro Sanchez sebagai pihak yang bertanggung jawab.
"Insiden yang tidak dapat diterima ini merupakan akibat langsung dari upaya sengaja Pemerintah Spanyol untuk membuka jalan dan memfasilitasi migrasi ilegal besar-besaran ke Eropa. Kami tengah mempertimbangkan sejumlah langkah untuk melindungi warga AS di dalam dan luar negeri dari ancaman ini. Kami juga siap membantu negara-negara sekutu di Eropa yang mempertimbangkan langkah serupa," tulis kementerian tersebut.
Kecaman keras dari AS itu agaknya tidak mengejutkan Sanchez. Ia dikenal sebagai salah satu pengkritik Trump paling vokal di antara para pemimpin Uni Eropa.
Sanchez sebelumnya mengecam serangan militer AS terhadap Iran dan menolak penggunaan pangkalan Rota dan Moron di Spanyol untuk mendukung operasi tersebut.
"Syukurlah Presiden Trump terpilih dan perbatasan negara kita tidak lagi terlihat seperti ini. Gambar-gambar dari Spanyol menjadi pengingat menyedihkan tentang dampak migrasi besar-besaran dan kebijakan globalis kiri radikal yang telah membuka jalan bagi invasi terhadap dunia Barat," tulis Wakil Presiden (Wapres) AS JD Vance.
Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS juga menyampaikan pandangan serupa.
"Seandainya Spanyol memiliki sosok seperti Presiden Trump, masalah ini tidak akan terjadi," kata kementerian tersebut.
Kritik dari AS muncul ketika situasi di Ceuta hanya dalam waktu sedikit lebih dari sehari berkembang menjadi polemik politik di seluruh Eropa. Sejumlah negara tetangga mulai memperketat langkah mereka pada Jumat.
Prancis kembali memberlakukan pemeriksaan di perbatasan, sementara Italia menyerukan agar keikutsertaan Spanyol dalam kawasan Schengen ditangguhkan.
Perkembangan tersebut memperlihatkan perpecahan di antara negara-negara Eropa dalam menyikapi krisis migrasi di kawasan.
Mantan penasihat Trump sekaligus triliuner pertama di dunia, Elon Musk, sempat membagikan video yang membandingkan rekaman krisis migran di Ceuta dengan adegan dalam film zombi "World War Z" yang dirilis pada 2013.
"Wow, situasi di Spanyol terlihat gila!" tulis Musk.
Setelah menjelaskan bahwa perbandingan tersebut hanya sebuah lelucon, Musk kemudian membagikan rekaman dari 2023 yang memperlihatkan ratusan migran Venezuela berusaha menyeberang ke AS.
"Beginilah keadaan AS pada masa Biden," tulisnya dalam keterangan video tersebut.