Curah Hujan Bomberai-Tomage Diprediksi Rendah, BMKG Imbau Waspada Karhutla
Roifah Dzatu Azmah August 01, 2026 02:09 PM

Laporan Wartawan TribunPapuaBarat.com, Aldi Bimantara

TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pusat mengeluarkan prediksi curah hujan untuk seluruh wilayah di Indonesia, termasuk Distrik Bomberai dan Tomage, Kabupaten Fakfak Papua Barat, yang tergolong masih memiliki curah hujan rendah pada Agustus 2026. 

Prediksi tersebut disampaikan BMKG pusat dalam konferensi pers mengenai perkembangan musim kemarau dan penguatan operasi modifikasi cuaca sebagai antisipasi dampak El Nino di Jakarta yang diikuti TribunPapuaBarat.com secara virtual, Sabtu (1/8/2026).

"Secara umum, memang dari periode Agustus hingga September 2026 secara keseluruhan wilayah Indonesia curah hujan dominan kategori rendah hingga menengah," ujar Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani dalam pemaparannya. 

BMKG memprediksi curah hujan di Distrik Bomberai dan Tomage berada pada kisaran 0–20 milimeter selama Agustus 2026.

Baca juga: BMKG Peringatkan Gelombang 2,5 Meter di Perairan Fakfak dan Kaimana

Sementara itu, untuk periode Oktober hingga November 2026, curah hujan diprediksi didominasi kategori rendah hingga tinggi.

"El Nino memang masih berlangsung di Pasifik, perlu dijelaskan kepada masyarakat bahwa El Nino tidak sama dengan kemarau jadi El Nino masih berlangsung hingga awal 2027, tetapi dampaknya di kita mulai berakhir pada pertengahan November," jelasnya. 

Dalam presentasi BMKG Pusat, secara umum terdapat total 5.019 titik panas (hotspot) di seluruh Indonesia pada musim kemarau dan peta yang ditampilkan salah satunya termasuk wilayah Bomberai dan Tomage Kabupaten Fakfak. 

"Jumlah hotspot api ini menunjukkan adanya peningkatan yang lebih cepat dibandingkan El Nino tahun-tahun yang lalu yakni 2015, 2019 hingga 2023," tandasnya. 

Dikatakannya pula, puncak risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara umum di Indonesia terjadi pada Agustus sampai September 2026  dengan risiko tertinggi meluas terutama pada wilayah Sumatera dan Kalimantan. 

Rekomendasi secara umum sebagai berikut:

1.  Menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air, lebih tahan kekeringan, serta memiliki siklus tanam yang lebih pendek 

2. Memastikan revitalisasi waduk, memperbaiki jaringan distribusi air, serta memastikan ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat 

3. Memastikan kapasitas air bendungan untuk operasional PLTA 

4. Menyiapkan mekanisme respons cepat untuk antisipasi memburuknya kualitas udara yang berpotensi memicu ISPA 

5. Kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan dan kejadian kebakaran hutan dan lahan 

6. Mengoptimalkan adanya fenomena upwelling (naiknya massa air kaya nutrisi ke permukaan laut) untuk peningkatan tangkapan ikan serta mengoptimalkan musim kemarau yang lebih kering untuk peningkatan produksi garam

Untuk itu, dalam masa musim kemarau masyarakat diimbau tetap menjaga diri dan lingkungan masing-masing serta tidak membuka lahan dengan cara dibakar, membuang puntung rokok yang masih menyala hingga tidak membakar sampah sembarangan. (*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.