TRIBUNPALU.COM - Pengamat Sumber Daya Alam (SDA), Andika, meminta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) segera melakukan survei potensi helium di kawasan Sesar Palu-Koro dan Teluk Palu, Sulawesi Tengah.
Menurutnya, meningkatnya kebutuhan helium dunia untuk industri semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), komputasi kuantum, teknologi ruang angkasa, kriogenik, hingga peralatan medis menjadikan helium sebagai salah satu komoditas strategis abad ke-21 yang perlu mendapat perhatian serius.
“Indonesia selama ini fokus pada eksplorasi nikel, tembaga, emas, dan migas. Padahal, dunia sedang memasuki era ketika helium menjadi komoditas yang sangat penting bagi industri teknologi tinggi. Sudah saatnya Indonesia mulai memetakan potensi sumber daya tersebut,” ujar Andika.
Baca juga: Tiga Tersangka Kasus Pengeroyokan di Bahomakmur Terancam 12 Tahun Penjara
Menurut Andika, secara geologi Sesar Palu-Koro merupakan salah satu sistem sesar aktif terbesar di Indonesia yang berpotensi menjadi jalur migrasi fluida dan gas dari kedalaman bumi.
Dalam berbagai penelitian geologi internasional, sistem sesar aktif diketahui dapat menjadi jalur migrasi gas mulia, termasuk helium, sehingga kawasan seperti Palu-Koro layak dijadikan objek penelitian lebih lanjut.
Ia menjelaskan bahwa sejumlah penelitian terdahulu telah mengidentifikasi adanya migrasi gas di sepanjang sistem Sesar Palu-Koro.
Penelitian mengenai anomali gas radon yang dilakukan sebagai bagian dari kajian prekursor gempa menunjukkan bahwa sistem sesar ini berfungsi sebagai jalur keluarnya gas dari bawah permukaan.
Baca juga: Ketua AFP Sulteng Apresiasi Madani Cup IX, Sebut Pembinaan Atlet Harus Dimulai Sejak Dini
Temuan tersebut belum membuktikan keberadaan helium, namun menjadi petunjuk ilmiah bahwa sistem geologi Palu-Koro memiliki karakteristik yang layak diteliti lebih lanjut melalui survei khusus helium.
“Hingga saat ini memang belum terdapat publikasi ilmiah yang membuktikan adanya cadangan helium komersial di kawasan Sesar Palu-Koro maupun Teluk Palu. Karena itu, yang kami dorong bukanlah spekulasi, melainkan penelitian berbasis data agar Indonesia memiliki kepastian ilmiah mengenai potensi sumber daya tersebut,” tegasnya.
Andika mengusulkan agar ESDM melalui Badan Geologi bekerja sama dengan BRIN, perguruan tinggi, dan mitra internasional untuk melaksanakan survei geologi, geokimia, dan geofisika secara bertahap.
Tahapan tersebut meliputi pemetaan geologi rinci, pengukuran gas tanah, analisis isotop helium, pemetaan manifestasi gas alami, hingga pengeboran eksplorasi apabila hasil survei awal menunjukkan indikasi yang menjanjikan.
Menurutnya, Indonesia juga perlu mulai menyusun Peta Jalan Eksplorasi Helium Nasional sebagai bagian dari strategi pengembangan sumber daya strategis.
Baca juga: Geram Onyo Dituding Bikin Trauma, Nanda Persada Ingatkan Sarwendah: Awas Pencemaran Nama Baik
Dalam konteks tersebut, Sesar Palu-Koro dan Teluk Palu layak dipertimbangkan sebagai salah satu lokasi proyek percontohan (pilot project) eksplorasi helium nasional karena memiliki karakter geologi yang unik dan kompleks.
“Indonesia tidak akan pernah mengetahui apakah memiliki sumber daya helium apabila tidak pernah mencarinya. Sejumlah penelitian telah menunjukkan adanya migrasi gas pada sistem Sesar Palu-Koro. Itu merupakan dasar ilmiah yang cukup untuk memulai survei. Jika hasilnya tidak menunjukkan potensi ekonomi, kita tetap memperoleh data geologi yang sangat berharga. Namun apabila ditemukan indikasi helium, Indonesia berpeluang memiliki sumber daya strategis baru yang dapat mendukung industri berteknologi tinggi di masa depan,” kata Andika.
Andika berharap usulan tersebut dapat menjadi bagian dari agenda riset strategis nasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi perubahan rantai pasok global yang semakin bergantung pada mineral dan gas bernilai tinggi. (*)