Maestro Merdeka: Mengenang Nasirun, Seniman Besar yang Hidup Tanpa HP, Sosmed, dan Rekening Bank
Joko Widiyarso August 01, 2026 03:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dunia seni rupa kontemporer Indonesia diselimuti duka mendalam. Perupa kenamaan, Nasirun, berpulang  pada usia 60 tahun di Rumah Sakit AMC Muhammadiyah, Yogyakarta, pada hari Sabtu (1/8/2026) pukul 05.58 WIB.

Kepergian sosok maestro yang dikenal sangat rendah hati ini meninggalkan lubang besar di hati para seniman Tanah Air. Di antara mereka yang merasa paling kehilangan adalah Marzuki Mohamad—yang lebih dikenal sebagai Kill the DJ—seorang seniman, rapper, dan pendiri Jogja Hip Hop Foundation (JHF).

Bagi Marzuki, Nasirun jauh lebih dari sekadar seniman besar; almarhum adalah seorang kawan sejawat, guru, sekaligus sahabat yang hangat. Persahabatan lintas disiplin seni ini terjalin dengan sangat unik. Nasirun bahkan pernah mengungkapkan sebuah rahasia kecil kepada Uki: dentuman lirik dan irama lagu-lagu sedulur Jogja Hip Hop Foundation sering kali menjadi teman setianya saat sedang melukis.

Setiap perjumpaan Marzuki dengan Nasirun tak pernah kering dari canda. Setiap obrolan selalu diselingi dengan guyonan khas sang pelukis. Namun, kesedihan Uki kini semakin menyesakkan dada mengingat adanya satu janji sederhana di akhir pekan ini yang urung terwujud.

Belum lama ini, mengetahui Uki sedang sibuk mengelola pertanian dan peternakan di kampung, Nasirun melontarkan ide yang jenaka sekaligus menyentuh.

"Beliau sempat bercanda, 'Aku kok pengin pameran di kandang ayammu ya, Mas.' Rencananya hari Minggu besok beliau mau main ke rumah karena belum pernah melihat peternakan saya. Tapi tadi pagi, saya justru mendapat kabar duka," kenang Marzuki menceritakan momen tersebut dengan getar kehilangan.

Seniman "Anti-Algoritma" yang Membebaskan Imajinasi

Di mata Marzuki, satu hal yang paling membekas dan menjadi warisan terbesar Nasirun adalah prinsip kehidupannya yang amat otentik. Di tengah gempuran era digital, algoritma media sosial sama sekali tidak pernah berhasil memenjarakan imajinasinya.

Keunikan ini ditopang oleh laku hidup Nasirun yang teguh. Sang maestro memilih hidup tanpa menggunakan smartphone, menjauhi media sosial, bahkan tidak memiliki rekening bank.

"Di zaman sekarang, banyak seniman maupun musisi yang ketika berkarya memikirkan dulu apakah nanti karyanya akan viral atau tidak, sibuk berhitung soal algoritma media sosial. Pak Nasirun tidak mau terpenjara oleh tuntutan semacam itu," jelas Marzuki memuji integritas sahabatnya.

Marzuki menambahkan, meski Nasirun menolak tunduk pada arus algoritma pasar digital, karya-karya lukisnya terbukti tetap memiliki bobot kontekstual yang tajam dan terus relevan melintasi zaman.

Warisan Paseduluran Sang Maestro

Lebih dari sekadar warisan seni yang mewarnai sejarah rupa kontemporer Indonesia, kebaikan hati Nasirun adalah teladan abadi bagi orang-orang di sekitarnya. Marzuki bersaksi bahwa almarhum adalah sosok yang sederhana (humble), jenaka, cerdas, artistik, dan grapyak (ramah).

Kini, sang maestro telah beristirahat dengan tenang. Jenazahnya dibawa ke rumah duka di Desa Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul. Seniman yang meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak ini akan dikebumikan di Makam Seniman Girisapto Imogiri, Bantul, pada Sabtu sore ini.

Mengiringi kepergian sahabatnya, Marzuki memberikan penghormatan terakhirnya melalui sebuah pesan perpisahan yang tulus.

"Selamat jalan maestro Nasirun. Terima kasih untuk inspirasi dan pasedulurannya. Terima kasih untuk warisan karya dan kerja-kerja kesenian yang luar biasa. Saya bersaksi Nasirun orang baik, ramah, jenaka, artistik, cerdas, dan selalu ringan membantu teman."
 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.