SURYA.co.id, JOMBANG – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), perhatian publik tak hanya tertuju pada rangkaian persiapan acara di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Menara tua di kompleks Masjid Jami' pesantren itu juga kembali menjadi sorotan karena dinilai layak ditetapkan sebagai cagar budaya.
Bangunan yang telah berdiri sejak masa pra-kemerdekaan tersebut dianggap memiliki nilai sejarah tinggi, baik bagi perkembangan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, perjalanan Nahdlatul Ulama, maupun sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Pemerhati sejarah Jombang, Arif Yulianto, mengatakan menara Masjid Tambakberas telah memenuhi syarat dasar untuk diusulkan sebagai cagar budaya karena usianya lebih dari 50 tahun dan memiliki nilai penting bagi sejarah serta kebudayaan.
"Dari sisi usia yang sudah melampaui 50 tahun dan nilai historis yang dimilikinya, menara Masjid Tambakberas sangat layak untuk dikaji sebagai cagar budaya," ujar Arif kepada SURYA.co.id, Jumat (31/7/2026).
Baca juga: Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, KH Ahmad Masruh : Momentum Perkuat Organisasi
Menurutnya, perlindungan melalui status cagar budaya penting dilakukan agar bangunan bersejarah tersebut tetap terjaga keasliannya bagi generasi mendatang.
Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah keberadaan pahatan empat huruf Hijaiyah, yakni Ha' (ح), Ro' (ر), Ta' (ت), dan Mim (م).
Arif menjelaskan, rangkaian huruf tersebut diyakini memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan semangat perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.
"Berdasarkan cerita yang berkembang di lingkungan pesantren, pahatan huruf-huruf itu dibuat sebelum Indonesia merdeka. Nilainya bukan sekadar ornamen, tetapi juga menjadi simbol cita-cita perjuangan," katanya.
Meski demikian, Arif menegaskan penetapan status cagar budaya tetap harus melalui kajian ilmiah oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) untuk memastikan seluruh aspek sejarah, arsitektur, dan nilai budaya bangunan dapat diverifikasi secara komprehensif.
Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq, mengatakan menara tersebut merupakan salah satu bangunan tertua yang hingga kini masih dipertahankan bentuk aslinya.
Menurutnya, desain menara yang berbentuk melingkar mengandung pesan tentang persatuan dan kebersamaan, nilai yang terus dijaga dalam tradisi Nahdlatul Ulama.
"Menara ini dibangun sebelum Indonesia merdeka. Bentuknya yang melingkar melambangkan persatuan, bahwa dalam kondisi apa pun kita harus tetap bersatu dan saling menguatkan menghadapi berbagai tantangan," ujar Gus Rozaq.
Menjelang Muktamar ke-35 NU, menara bersejarah tersebut menjalani penataan melalui pengecatan ulang dengan dominasi warna putih dan sentuhan emas yang disesuaikan dengan identitas visual muktamar.
Namun, proses revitalisasi dilakukan tanpa mengubah bentuk maupun struktur asli bangunan sehingga nilai sejarah dan karakter arsitekturnya tetap terjaga.
Keberadaan menara ini diharapkan tidak hanya menjadi ikon penyambutan para muktamirin, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat upaya pelestarian warisan sejarah pesantren yang memiliki arti penting bagi Jombang dan perjalanan Nahdlatul Ulama di Indonesia.