TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Toxic relationship bukan hanya persoalan hubungan asmara yang penuh konflik, tetapi juga berkaitan erat dengan kesehatan psikologis seseorang.
Fakta tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam seminar bertajuk “Toxic Relationship dan Kiat-Kiat Memulihkan, Bangkit, dan Bahagia” yang dihadiri sekitar 800 peserta di Gedung Graha Bina Humaniora, Sentul, Bogor, Sabtu (25/7/2026).
Seminar menghadirkan Founder Yayasan Mindset Perempuan Indonesia (YMPI) sekaligus konselor, Mella Noviani, serta Inaya Wahid sebagai narasumber.
Keduanya mengajak peserta memahami bahwa hubungan yang tidak sehat dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri, membangun relasi, hingga menjalani kehidupannya.
Dalam pemaparannya, Mella Noviani menjelaskan banyak orang tetap bertahan dalam hubungan yang tidak sehat bukan karena tidak memiliki keberanian untuk mengakhirinya.
Menurutnya, terdapat sejumlah faktor psikologis yang membuat seseorang sulit melepaskan diri dari toxic relationship.
Beberapa di antaranya adalah trauma bonding, yakni ikatan emosional yang terbentuk akibat siklus kekerasan dan kasih sayang yang terus berulang, fear of abandonment atau ketakutan berlebihan ditinggalkan.
Kemudian, learned helplessness ketika korban merasa tidak lagi mampu mengubah keadaan setelah mengalami tekanan berkepanjangan, hope syndrome atau keyakinan bahwa pasangan suatu saat akan berubah, hingga rendahnya self-worth yang membuat seseorang merasa tidak pantas memperoleh hubungan yang lebih sehat.
Berbagai kondisi tersebut, kata Mella, sering kali membuat seseorang tetap bertahan meski sadar hubungan tersebut telah melukai dirinya.
Mella menegaskan proses pemulihan tidak berhenti ketika seseorang berhasil keluar dari hubungan yang menyakitkan.
Menurutnya, healing merupakan proses membangun kembali rasa aman, menemukan makna hidup, memperkuat nilai diri, hingga menjaga kesehatan psikologis agar masa lalu tidak lagi mengendalikan kehidupan seseorang.
“Hubungan yang sehat bukan membuat kita kehilangan diri sendiri, tetapi membantu kita bertumbuh menjadi versi terbaik dari diri kita. Healing bukan berarti melupakan masa lalu dan menangis lagi, melainkan belajar agar luka tidak lagi mengendalikan cara kita menjalani hidup,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya mencari bantuan ketika seseorang tidak mampu menghadapi persoalan tersebut sendirian.
Menurut Mella, dukungan dapat berasal dari hubungan spiritual dengan Tuhan, keluarga, sahabat, komunitas yang sehat, maupun tenaga profesional seperti konselor dan psikolog.
“Mencari pertolongan bukanlah tanda kelemahan. Justru dibutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa kita membutuhkan bantuan.
Semakin cepat seseorang memperoleh pendampingan yang tepat, semakin besar peluangnya untuk pulih, bangkit, dan kembali menjalani kehidupan dengan lebih sehat secara emosional maupun psikologis,” katanya.
Sementara itu, Inaya Wahid membagikan refleksi serta pengalaman pribadinya menghadapi hubungan yang tidak sehat.
Ia mengajak peserta memahami bahwa proses bangkit dari luka tidak dapat terjadi secara instan.
Menurut Inaya, pemulihan membutuhkan waktu, penerimaan terhadap diri sendiri, serta keberanian untuk terus melangkah meski prosesnya tidak selalu mudah.
Perpaduan pengalaman personal dan penjelasan psikologis dari kedua narasumber dinilai memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai cara mengenali toxic relationship, memahami dampaknya terhadap kesehatan mental, sekaligus membangun kehidupan yang lebih sehat.
Seminar berlangsung dengan antusias dengan diikuti kurang lebih 800 peserta yang sesi diskusi dan tanya jawab yang membahas berbagai persoalan seputar relasi interpersonal, kekerasan psikis, trauma, kesehatan mental, penguatan nilai diri atau self-worth, hingga strategi membangun hubungan yang sehat di lingkungan keluarga maupun kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan tersebut, Yayasan Mindset Perempuan Indonesia kembali menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan mental, membangun relasi yang sehat, serta mendorong keberanian keluar dari hubungan yang merugikan demi mewujudkan kehidupan yang lebih sehat, bahagia, dan bermakna.