TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA – Sebanyak 340 lulusan mengikuti Yudisium dan Wisuda Program Pascasarjana XIII serta Program Sarjana XXXVI Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMPR), Sabtu (1/8/2026).
Meningkatnya jumlah lulusan membuat kampus tersebut membagi pelaksanaan wisuda menjadi empat periode setiap tahun.
Baca juga: Kini Menjabat Kajati Sumsel, Nurcahyo Sempat Bongkar Korupsi Zirkon di Kalteng
Rektor UMPR, Dr. H. Muhamad Yusuf mengatakan, kebijakan tersebut diterapkan karena peningkatan jumlah mahasiswa juga diikuti dengan bertambahnya jumlah lulusan setiap tahunnya.
"Memang pada akhirnya kami harus membagi jumlah lulusan dalam beberapa periode wisuda. Hal itu karena peningkatan jumlah mahasiswa juga diikuti dengan peningkatan jumlah lulusan," ujarnya.
Menurut Yusuf, rata-rata setiap prosesi wisuda diikuti sekitar 500 lulusan. Karena itu, UMPR menetapkan pelaksanaan wisuda digelar empat kali dalam setahun atau setiap tiga bulan sekali.
"Kami membuat aturan pelaksanaan wisuda sebanyak empat kali dalam setahun, atau setiap tiga bulan sekali, karena jumlah lulusan sudah cukup banyak," katanya.
Pada periode kali ini, jumlah lulusan yang diwisuda mencapai 340 orang, terdiri atas 160 lulusan Program Pascasarjana dan 180 lulusan Program Sarjana.
Secara keseluruhan, jumlah lulusan UMPR setiap tahun mencapai sekitar 2.000 orang, sedangkan penerimaan mahasiswa baru rata-rata mencapai 3.500 orang.
Yusuf menuturkan, saat ini UMPR memiliki 38 program studi dan tengah mengembangkan menjadi 49 program studidengan jenjang pendidikan yang lebih lengkap, mulai dari Diploma I, Diploma II, Diploma III, Sarjana (S1), Magister (S2), hingga Doktor (S3).
Bertambahnya program studi dan jumlah lulusan, lanjutnya, membuat penyelenggaraan wisuda harus disesuaikan agar tetap selaras dengan aktivitas akademik.
Di sisi lain, UMPR juga berupaya menghadirkan prosesi wisuda yang lebih bermakna bagi para lulusannya.
"Wisuda juga menjadi bagian dari branding universitas sekaligus memberikan pemaknaan akhir kepada para lulusan, bahwa setelah lulus mereka diharapkan menjadi orang-orang yang berilmu, bijaksana, santun, toleran, mampu menjadi solusi di tengah masyarakat, serta menjunjung tinggi adab," tuturnya.
Ia menjelaskan, pelibatan orang tua, pasangan, maupun anggota keluarga dalam prosesi wisuda dilakukan agar mereka dapat menyaksikan secara langsung pencapaian para lulusan sekaligus memberikan dukungan sebelum kembali mengabdikan ilmu di tengah masyarakat.
Sementara itu, Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, Edy Pratowo mengingatkan, para lulusan bahwa gelar akademik yang disandang merupakan amanah untuk terus mengembangkan pengetahuan dan mengabdikan ilmu bagi kepentingan masyarakat serta bangsa.
Menurutnya, para lulusan saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), transformasi digital, hingga persaingan global yang semakin ketat.
"Dunia bergerak begitu cepat dengan perkembangan kecerdasan buatan, transformasi digital dan persaingan global yang semakin ketat," ujarnya.
Edy mengatakan, perubahan tersebut menuntut generasi terdidik mampu beradaptasi sekaligus menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ia mencontohkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali meningkat saat musim kemarau.
Menurutnya, inovasi dari kalangan akademisi diharapkan mampu memberikan terobosan dalam penanganan bencana tersebut.
"Barangkali lahan kebakaran di lahan gambut ini dengan cepat bisa dipadamkan dengan sebuah penemuan teknologi dari para sarjana-sarjana kita yang baru ini," katanya.
Ia pun berpesan agar para lulusan tidak takut menghadapi perubahan maupun kegagalan, serta mampu mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Jangan takut menghadapi perubahan dan kegagalan sebab masa depan dibangun oleh orang-orang yang tangguh," pungkasnya.
(Tribunkalteng.com/Iqbal)