Traffic Lite Z, Bahasa Keselamatan yang Dipahami Semua Anak, Dishub Aceh Edukasi Siswa SLB
Ansari Hasyim August 01, 2026 09:03 PM

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Muhammad Nasir | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Di hadapan sekitar 20 siswa berkebutuhan khusus di SLB YPAC Banda Aceh, sebuah gambar muncul di layar telepon genggam. Bukan tulisan panjang, melainkan simbol sederhana yang harus mereka tebak.

Beberapa siswa memperhatikan layar dengan serius. Ada yang saling melirik ke arah temannya, ada pula yang langsung mengangkat tangan. Tak lama kemudian, jawaban pun disampaikan. Begitu dinyatakan benar, ruangan dipenuhi tepuk tangan dan tawa. Wajah-wajah yang semula tampak serius berubah ceria.

Suasana seperti itu terus berulang sepanjang kegiatan. Tidak ada kesan mereka sedang mengikuti sosialisasi. Yang terlihat justru anak-anak menikmati sebuah permainan, padahal tanpa disadari mereka sedang belajar mengenal keselamatan berlalu lintas.

• 11 Kepala SMA, SMK, dan SLB di Abdya Dilantik, Ini Pesan Kacabdisdik

Pada Rabu (29/7/2026), Dinas Perhubungan Aceh melalui Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) menggelar sosialisasi Pelajar Pelopor Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Tahun 2026 di SLB YPAC Banda Aceh. Kegiatan dipandu Kepala Seksi Keselamatan LLAJ Bidang LLAJ Dinas Perhubungan Aceh, Renny Anggeraeni Robin, bersama jajaran staf Bidang LLAJ.

Mereka tidak datang membawa buku tebal atau memutar video panjang tentang kecelakaan lalu lintas. Sebagai gantinya, mereka memperkenalkan Traffic Lite Z Gema Lantas, sebuah gim edukatif yang dikembangkan Izzati Hilma, siswi SMA Modal Bangsa Aceh Besar sekaligus Pelajar Pelopor Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Tahun 2026 yang akan mewakili Aceh pada ajang nasional di Jakarta.

Di hadapan para siswa, Izzati menjelaskan bahwa Traffic Lite Z Gema Lantas merupakan prototipe berbasis web yang menggabungkan materi edukasi keselamatan berlalu lintas, kuis interaktif, dan mini gim. Platform tersebut dirancang agar pembelajaran menjadi lebih menarik, mudah dipahami, sekaligus dapat diakses oleh seluruh kalangan pelajar.

Traffic Lite Z menyediakan tiga mode penggunaan. Mode umum berisi materi pembelajaran, kuis, serta 10 mini gim edukatif yang dapat dimainkan seluruh siswa. Mode tunarungu menghadirkan materi yang sama, tetapi dilengkapi subtitle dan teks instruksi sehingga mudah diikuti peserta didik dengan hambatan pendengaran.

Sementara itu, mode tunadaksa menyediakan lima mini gim yang disesuaikan dengan konsep aksesibilitas sekaligus menumbuhkan empati terhadap pengguna jalan yang memiliki keterbatasan fisik. Seluruh fitur dapat diakses melalui tautan maupun pemindaian kode QR sehingga peserta dapat langsung mencoba pengalaman belajar yang lebih modern, menyenangkan, dan inklusif.

Melalui telepon genggam, para siswa memindai kode QR sebelum masuk ke dalam gim. Mereka diajak mengenali rambu-rambu lalu lintas, memahami penyebab pelanggaran, hingga memilih perilaku yang benar saat berada di jalan. Semua materi dikemas dalam bentuk permainan sehingga lebih mudah dipahami.

Menurut Izzati, inovasi tersebut dikembangkan agar pelajar tidak sekadar menghafal rambu-rambu, tetapi juga memahami maknanya melalui pengalaman bermain.

"Saya ingin teman-teman belajar keselamatan berlalu lintas dengan cara yang lebih menyenangkan. Melalui gim ini mereka bisa belajar sambil bermain sehingga materi lebih mudah dipahami dan diingat. Saya juga berharap media ini dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak sekolah, termasuk sekolah luar biasa, agar semakin banyak pelajar yang memiliki kesadaran untuk tertib dan selamat di jalan," ujar Izzati.
Sementara itu, Renny Anggeraeni Robin mengatakan pendekatan seperti ini dipilih agar edukasi keselamatan lalu lintas tidak terasa membosankan.

"Izzati akan mewakili Aceh pada ajang Pelajar Pelopor Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan tingkat nasional di Jakarta. Kami berharap inovasi ini dapat memberikan hasil terbaik sekaligus menjadi media edukasi yang bisa dimanfaatkan lebih luas," ujarnya.

Belajar Melalui Simbol

Di SLB YPAC Banda Aceh, permainan sederhana itu mampu menghidupkan suasana kelas. Salah satu sesi yang paling menarik perhatian adalah ketika Izzati mengajak para siswa menebak rute Bus Trans Koetaradja melalui simbol-simbol yang ditampilkan di layar. Hampir seluruh peserta menjawab secara bersamaan. Setiap jawaban yang benar selalu disambut tepuk tangan dan sorak kegembiraan.

Guru Bimbingan Konseling sekaligus wali kelas SLB YPAC Banda Aceh, Nurul Rahmi, mengatakan pendekatan seperti itu jauh lebih mudah diterima oleh anak-anak berkebutuhan khusus.

"Anak-anak berkebutuhan khusus ini berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Saat kita mengarahkan mereka, belum tentu mereka langsung merespons sesuai yang kita harapkan. Karena itu kami harus lebih sabar mendampingi mereka. Ada yang sudah duduk di bangku SMA, tetapi perkembangan emosinya masih seperti anak usia dini," kata Nurul Rahmi.
Menurutnya, melalui permainan anak-anak tidak merasa sedang belajar. Mereka menikmati setiap tantangan yang muncul di layar, padahal pada saat yang sama sedang mengenal rambu-rambu lalu lintas dan memahami pentingnya keselamatan di jalan.

Perjalanan sosialisasi kemudian berlanjut ke SLB-B YPAC Kampung Keramat Banda Aceh, sekolah yang melayani peserta didik tunarungu.

Setiap penjelasan yang disampaikan Izzati diterjemahkan ke dalam bahasa isyarat oleh Muspita, guru Biologi yang mendampingi kegiatan. Pada sesi ice breaking, simbol-simbol rute Bus Trans Koetaradja ditampilkan di layar. Ketika simbol bergambar mata dan air muncul, para siswa langsung menjawab melalui bahasa isyarat. Muspita tersenyum sambil membenarkan jawaban mereka, disambut tepuk tangan yang kembali memenuhi ruangan.

Bagi anak-anak tunarungu tersebut, simbol-simbol menjadi bahasa yang paling mudah dipahami. Mereka tampak cepat mengenali berbagai rambu lalu lintas yang muncul dalam permainan. Meski tanpa suara lantang, senyum di wajah mereka memperlihatkan rasa bangga setiap kali berhasil menjawab tantangan.

Inovasi Ramah untuk Semua

Rangkaian sosialisasi berlanjut ke SLB Bukesra Banda Aceh pada Kamis (30/7/2026). Antusiasme siswa juga tidak kalah tinggi. Begitu gambar-gambar rambu lalu lintas ditampilkan melalui layar proyektor, mereka serentak mengangkat tangan dan berlomba menjadi yang pertama menjawab.

Kepala SLB Bukesra Banda Aceh, Taufik Sulaiman, mengapresiasi langkah Dishub Aceh yang menghadirkan media pembelajaran berbasis teknologi yang ramah disabilitas.

"Terima kasih telah membawa misi tentang pentingnya berlalu lintas yang baik sehingga anak-anak kami memiliki pemahaman tentang keselamatan di jalan raya. Kami mengapresiasi Dinas Perhubungan Aceh dan Duta Pelajar Pelopor yang telah berkenan berbagi edukasi kepada siswa kami," ujarnya.
Menurut Taufik, hampir semua anak tidak pernah lepas dari aktivitas di jalan raya sehingga pendidikan keselamatan perlu dikenalkan sejak dini melalui media yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

"Ini merupakan inovasi yang luar biasa. Media berbasis teknologi seperti ini dapat diakses oleh anak-anak kami, baik tunarungu, tunadaksa maupun penyandang disabilitas lainnya. Gim ini menjadi pembelajaran berlalu lintas yang aman dan nyaman. Kami mendoakan semoga Izzati memperoleh hasil terbaik pada ajang nasional nanti. Apa yang kami peroleh hari ini akan kami terapkan di sekolah," katanya.

Belajar Sambil Bermain

Sehari sebelumnya, Selasa (28/7/2026), Traffic Lite Z Gema Lantas lebih dahulu diperkenalkan kepada pelajar SD, SMP, dan SMA Metodis Banda Aceh.

Di hadapan para siswa sekolah umum, Izzati mengajak peserta memahami tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang masih didominasi kelompok usia produktif. Materi kemudian dilanjutkan melalui gim edukatif yang mengajak siswa menjawab berbagai pertanyaan tentang rambu lalu lintas, penyebab pelanggaran, hingga dampak kecelakaan. Suasana kelas berubah menjadi kompetisi yang menyenangkan ketika peserta berlomba mengumpulkan nilai tertinggi.

Bagi Joanne Valencia, siswi SMA Metodis Banda Aceh, cara belajar seperti itu membuat materi keselamatan lalu lintas lebih mudah dipahami. Ia berharap gim tersebut terus dikembangkan dengan materi yang semakin beragam sehingga dapat dimainkan lebih banyak pelajar.

Rangkaian sosialisasi di sekolah umum maupun sekolah luar biasa memperlihatkan bahwa Traffic Lite Z Gema Lantas mampu menjangkau berbagai kelompok pelajar. Di sekolah umum, gim ini mengajak siswa memahami risiko pelanggaran lalu lintas melalui kompetisi yang menyenangkan. Di SLB YPAC, permainan yang sama membantu anak-anak mengenal rambu melalui gambar dan permainan. Di SLB-B YPAC Kampung Keramat, materi diterjemahkan ke dalam bahasa isyarat. Sementara di SLB Bukesra, inovasi tersebut kembali membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi jembatan pembelajaran yang inklusif bagi penyandang disabilitas.

Bagi Izzati Hilma, perjalanan menuju tingkat nasional bukan sekadar membawa nama Aceh. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi kesempatan membuktikan bahwa edukasi keselamatan dapat disampaikan kepada siapa saja, selama disesuaikan dengan cara belajar mereka.

Pada akhirnya, keselamatan bukan hanya soal memahami aturan. Keselamatan adalah bahasa yang harus bisa dipahami oleh semua anak. Di Aceh, bahasa itu mulai diterjemahkan melalui sebuah permainan sederhana bernama Traffic Lite Z Gema Lantas. (*)



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.