Laporan wartawan TribunJatim.com, David Yohanes
TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG - Sanggar Seni Candra Mustika Tulungagung menggelar Ngantrik 9, kegiatan pelatihan tari di Pendapa Taman Bina Bakat dan Kompetensi Siswa (TB2KS) Tulungagung, Sabtu (1/8/2026).
Pada pelatihan kali ini mengangkat materi Tari Bali, dengan menghadirkan pengajar sekaligus koreografer dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Kadek Rai Dewi Astini.
Nyantrik diinisiasi sebagai ruang belajar seni tari, dan memberikan kesempatan pada para penari untuk menimba ilmu langsung kepada ahlinya.
“Esensinya belajar langsung pada para maestro seni dan profesional di bidangnya,” ujar Ketua Sanggar Seni Candra Mustika, Aulia Renata.
Tari Bali dipilih untuk memperluas wawasan, karena mayoritas peserta berlatar belakang kebudayaan Jawa.
Selain itu Tari Bali juga dinilai punya kompleksitas estetika yang berbeda dengan budaya Jawa, sehingga punya daya tarik tersendiri untuk dipelajari.
Materi yang diajarkan adalah Tari Janger Abhinaya, salah satu karya Kadek Rai Dewi Astini.
“Janger dipilih karena gerakannya dinamis dan bisa diterima masyarakat secara umum. Selain itu ada paduan dengan gaya kekinian, sehingga mudah dipahami peserta,” tambah Aulia.
Baca juga: Banyuwangi Akan Gelar Kuntulan Ewon di Hari Pendidikan Nasional, Sajikan Tarian & Hadrah
Sementara Kadek Rai Dewi Astini, mengatakan filosofis di balik tari Janger Abhinaya, adalah respons emosional dan fisik saat pandemi Covid-19.
Masa pandemi Covid-19 adalah masa-masa sulit di tahun 2020-2021.
Janger Abhinaya berakar pada tari Janger Bali yang dinamis, namun memiliki fungsi spesifik yang menekankan pada kesehatan mental dan imunitas penarinya.
“Semangat paling mendasar dari penulisan Tari Janger Abhinaya adalah, bagaimana meningkatkan kesehatan diri agar tidak mudah sakit,” ungkapnya.
Saat pandemi COvid-19, masyarakat merasa terkungkung karena pembatasan aktivitas.
Tarian Janger Abhinaya diciptakan untuk membawa energi positif untuk masyarakat.
Abhinaya sendiri punya makna perjuangan.
“Dalam konteks tarian, karya ini melambangkan semangat dan optimisme, terus berjuang menjaga kesehatan di tengah kondisi krisis,” tegasnya.
Dalam Janger Abhinaya, Kadek mengolah gending dan patok Tari Jenger Klasik menjadi gerakan yang lebih simultan, energik, namun mudah dipelajari banyak orang.
Perbedaannya, Janger klasik murni untuk pertunjukan atau bebalihan.
Sementara Janger Abhinaya fokus sebagai hiburan untuk menenangkan diri sendiri si penari.
Ketika ditarikan rasanya tenang dan senang. Tarian ini membangun emosi dan rasa optimis,” katanya.
Informasi lengkap dan menarik lainnya baca di TribunJatim.com