TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jateng, Sakina Rosellasari menyebut tutupnya dua pabrik garmen di Jepara dan Semarang terjadi karena adanya pergeseran investasi.
Dampaknya, sektor garmen nilai investasinya turun yang sebelumnya menduduki tiga besar sektor realisasi investasinya kini masuk ke peringkat lima.
"Yang pasti ada pengaruhnya, tekstil dan garmen itu bergeser yang tadinya selalu tiga besar menjadi peringkat kelima," kata Sakina saat dihubungi, Sabtu (1/8/2026).
Sebelumnya, dua pabrik garmen di Jateng meliputi PT Samwon Busana Indonesia Jepara dan PT Victory Apparel Semarang menyatakan bakal menutup pabriknya.
Baca juga: Irwan Hidayat: Pabrik Sido Muncul Ungaran Layak Jadi Destinasi Wellness Tourism
Baca juga: Dampak PHK Ribuan Buruh Akibat 2 Pabrik Garmen Tutup, Disnakertrans Jateng Gerak Cepat Carikan Loker
Mereka beralasan perusahaan merugi akibat dampak krisis ekonomi global sehingga bakal melakukan PHK secara massal yang menyasar ribuan buruh.
Menurut Sakina, pergeseran investasi juga terjadi pada jenis industri yang awalnya ke padat karya menjadi ke padat modal.
Hal itu sudah terlihat dalam investasi yang masuk ke Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), yang didominasi padat modal.
Artinya, Kabupaten Batang secara besaran nilai investasi masuk tiga besar dengan angka investasi mencapai Rp6,11 triliun.
Angka itu berbanding terbalik dengan penyerapan tenaga kerjanya yang menduduki posisi 11 dengan serapan hanya 6.584 orang.
Berbeda dengan Kendal, dengan nilai investasi yang tak jauh berbeda yakni di angka Rp6,56 triliun bisa menyerap sebanyak 19.386 tenaga kerja.
"Dari kondisi itu, kami berkoordinasi dengan BPVP (Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas), agar memberikan pelatihan sesuai kebutuhan industri," paparnya.
Kendati demikian, Sakina mengaku, industri garmen masih menjadi tulang punggung industri di Jateng.
Secara terperinci, ia tidak bisa menyebutkan jumlah pabrik garmen di Jateng. Ia hanya bisa memperkirakan jumlah pabrik garmen di kawasan tersebut mencapai ratusan pabrik.
"Garmen, rajut dan non rajut masih menjadi andalan di Jateng yang 47,5 persen produknya diekspor ke Amerika," terangnya.
Ia menambahkan, industri padat karya masih diharapkan masuk ke Jateng sebagai salah satu solusi penyerapan tenaga kerja.
Meskipun di sisi lain, pihaknya juga terbuka pada sektor industri padat modal seperti dari sektor energi terbarukan.
Industri padat karya di Jateng juga masih menjadi andalan terutama dari industri barang dari kulit dan alas kaki yang nilai investasinya mencapai Rp5,85 triliun (semester I, 2026) yang mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 51.288 orang.
Industri Karet dan plastik nilai investasi sebesar Rp5,1 triliun menyerap sebanyak 11.534 orang. Industri kayu investasi Rp4,73 triliun menyerap 6.287 orang,
Sementara industri tekstil yang investasinya mencapai Rp3,92 triliun sebanyak 44.460 orang.
"Jawa Tengah masih membutuhkan industri padat karya agar mengurangi angka pengangguran," tambahnya.
Sementara, Pemprov Jateng memiliki target nilai investasi sebesar Rp99,09 triliun.
Capaian sementara investasi di Jateng di angka Rp48,54 triliun pada semester I 2026. Nilai investasi Jateng yang mencapai Rp48,54 triliun terdiri dari modal asing sebesar Rp25,92 (53,6 persen) triliun dan modal dalam negeri Rp22,62 triliun (46,6 persen).
Dari angka Rp48,54 triliun terdiri dari 55.989 proyek dengan serapan tenaga kerja sebanyak 213.217 orang.
Nilai investasi itu tersebar di lima besar daerah meliputi Kota Semarang Rp 6,57 Triliun, Kabupaten Kendal Rp6,56 Triliun, Kabupaten Batang Rp6,11 Triliun, Kabupaten Temanggung Rp4,58 Triliun, Kabupaten Demak Rp,34 Triliun.
Sektor investasi didominasi oleh industri barang dari kulit dan alas kaki dengan nilai Rp5,85 triliun, industri karet dan plastik Rp5,1 triliun, industri kayu Rp4,73 triliun.
Berikutnya Industri Mesin, Elektronik, Instrumen Kedokteran, Peralatan Listrik, sebesar Rp4,21 triliun. Dan, Industri Tekstil Rp. 3,92 Triliun. (Iwn)