Kisah Haru Perajin Yogyakarta, Patung Buatannya Berlabuh di Tangan Paus Leo XIV
Hironimus Rama August 01, 2026 09:16 PM

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, YOGYAKARTA — Perjalanan hidup seorang perajin patung rohani di Yogyakarta, Niko Harahap Tanubrata, mendadak berubah menjadi sebuah kisah penuh haru dan keajaiban.

Siapa sangka, karya seni yang awalnya dikira hanya akan menghiasi museum Vatikan, justru berlabuh di tangan pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia, Paus Leo XIV.

Bagi Niko, pemilik Brata Gallery, pencapaian ini bukan sekadar keberhasilan profesional. Patung St. Yusuf Arimatea buatan studionya menjadi wujud nyata dari impian almarhum sang ayah yang dulunya sempat dianggap mustahil terwujud.

Baca juga: Dari Vatikan ke Flores: Labuan Bajo Tuan Rumah Perayaan 75 Tahun Caritas Internationalis

“Sebenarnya ini keinginan papa lama, patungnya diterima Paus. Namun keinginan itu dipahami sulit untuk diwujudkan. Dan, (patung) St. Yusuf Arimatea ini merupakan pemenuhan keinginan papa. Meski tidak mengharapkan apa-apa menyusul patung diterima Paus Leo XIV, faktanya setelah itu, ada peristiwa luar biasa terjadi…..“ kata Niko di Brata Gallery Yogyakarta, Sabtu (1/8/2026).

Buat Pantung Tanpa Referensi 

Proyek pembuatan patung ini bermula pada Agustus 2025 ketika Founder Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI), AM Putut Prabantoro, datang membawa pesanan khusus untuk membuat patung St. Yusuf Arimatea.

Yusuf Arimatea adalah tokoh di balik pemakaman secara terhormat bagi Yesus Kristus yang wafat di kayu salib. Ia adalah orang berpengaruh, pengusaha kaya raya, anggota Majelis Besar Mahkamah Yahudi Sanhedrin dan sekaligus murid rahasia Yesus.

Ia mempersembahkan pemakaman keluarga yang baru dibangunnya sebagai tempat pemakaman Yesus. Hari peringatan St Yusuf Arimatea jatuh tiap 31 Agustus. 

Uniknya, pembuatan patung St. Yusuf Arimatea—tokoh Alkitab yang menyediakan makamnya untuk Yesus—menghadirkan tantangan tersendiri karena sama sekali tidak ada rujukan bentuk patungnya di Indonesia.

“Waktu itu bulan Agustus 2025, pak Putut cuma omong: coba cari patung Yusuf Arimatea. Tapi gak ada referensi. Terus dia menggambarkan patung itu, saya bikin sketnya juga secara asal," kata Niko.  

Selama ini Niko telah membuat ratusan bahkan ribuan patung. Namun tokohnya itu-itu saja, seputar Yesus, Bunda Maria, Santo Yusuf, bayi Yesus, Tiga Raja, dan sosok-sosok dalam Kitab Suci yang umum.

"Saya ribuan kali membuat patung. Namun untuk sosok Yusuf Arimatea, ya baru pertama kali ini. Kami pun tidak paham siapa dia itu. Biasanya kami cuma bikin santo santa, Maria, Yusuf, atau Yesus, kebanyakan seperti itu,” jelasnya.  

Meskipun Putut kemudian menjelaskan sosok Yusuf Arimatea, Niko mengaku tetap bingung. Pasalnya Putut menggambarkannya berdasarkan vision (penglihatan) dari  Lambertus Widiantoro yang merupakan kakak Putut.

"Pak Wid (Lambertus Widintoro-Red) yang mendapat penampakan, pak Putut yang diminta untuk membuat dan sekaligus menerjemahkan. Saya yang mengeksekusi. Biasanya selama ini klien langsung ke saya," ucapnya. 

Kebingungan yang sama dialami Linda, sebagai penggambar sosok Yusuf Arimatea. 

“Jujur saya juga baru kenal sosok Yusuf Arimatea karena ikut membuat patung itu. Niko bilang, tolong digambarkan berdasarkan sket dari pak Putut. Ternyata sosok Yusuf Arimatea ini keren dan perannya sangat besar. Yang bikin saya terharu itu, sosok semulia itu hatinya kok dia tidak mau diangkat,” ujarnya.

Ditengah kebingungan dan ketiadaan referensi ini, Niko nekat untuk memulai proyek pembuatan patung ini.

"Karena bingung, saya usul langsung eksekusi saja ide yang ada untuk diterapkan dalam tanah liat. Setelah proses trial dan error, saya panggil pak Putut untuk menunjukkan hasilnya. Pak Putut mengritisinya, lalu saya ubah lagi sekitar 5-6 kali,” beber Niko.

Sementara Putut Prabantoro mengaku dirinya diminta untuk membawa patung Yusuf Arimatea dan menyerahkannya ke Paus . Itu terjadi pada bulan Juli 2025, setelah kakaknya Lambertus Widiantoro mendapat vision. 

Segera ia mencari patung Yusuf Arimatea dan menghubungi banyak pematung di berbagai kota di Indonesia 

“Semuanya minta model atau contoh patung. Saya juga meminta bantuan Rm Antonius Suherman Pr dari Keuskupan Tanjungkarang dan juga Sr Fransiska CP di Roma. Semuanya nihil, tidak ada patung. Setelah kembali dari Vatikan pada Agustus 2025, saya kemudian menghubungi Niko dengan pesan Oktober patung harus selesai karena akan dibawa ke Vatikan pada November 2025.Rencana ini gagal, ” tutur Putut. 

Namun Tuhan menghendaki lain. Pada akhirnya di tengah berkecamuknya perang Timur Tengah, patung Yusuf Arimatea itu akhirnya selesai dan dibawa ke Vatikan.

Patung itu diserahkan langsung kepada Paus Leo pada Rabu, 25 Maret 2026. Penentuan tanggalnya pun ditentukan oleh Mgr Agustinus 'Didik' Tri Budi Utomo (Ketua Komisi Komunikasi Sosial/Komsos) KWI. 

"Mgr Didik baru tahu kalau ada patung sesaat sebelum berangkat ke Roma pada 23 Maret 2026.  PWKI dan KWI berangkat ke Vatikan sebenarnya dalam rangka penandatanganan penggunaan bahasa Indonesia secara resmi oleh Vatikan,” ujar Putut. 

Terkejut Sampai di Vatikan

Dalam audiensi pada 25 Maret 2026, delapan orang membawa patung Yusuf Arimatea dari Indonesia dan dipersembahkan kepada Paus Leo XIV. Mereka adalah, AM. Putut Prabantoro, Mayong Suryo Laksono, Asni Ovier Dengen Paluin, Stanislaus Jumar Sudiyana, dan Bonfilio Mahendra Wahanaputera, yang kelimanya adalah delegasi PWKI.

Sementara dua lainnya dari delegasi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yakni Mgr Agustinus ’Didik' Tri Budi Utomo dan Rm Petrus Noegroho Agoeng Sri Widodo (Sekretaris Komisi Komsos).  Turut hadir Rm Markus Solo Kewuta SVD, satu-satunya pejabat Vatikan asal Indonesia, yang menjadi pendamping rombongan.

“Waktu itu saya gak ngebayangin. Tahunya hanya dibawa ke Vatikan. Kalau akhirnya bisa diterima Paus, ya berkah luar biasa untuk saya. Kaget karena tidak mengira patung itu diterima Paus Leo. Saya tahunya cuma mau dibawa ke Vatikan. Saya pikir mungkin untuk museum. Saya happy banget, patung bisa masuk ke Vatikan dan diterima langsung Paus Leo,” ujar Niko. 

Linda pun mengaku tidak menyangka sama sekali patung itu akan sampai ke Vatikan. 

Linda mengaku peristiwa itu mengingatkan dirinya pada satu ayat dalam Kitab Suci.

“Saya seperti diingatkan satu ayat kira-kira bunyinya begini: apa yang tidak pernah terlintas di hati kita, justru itu akan diberikan kepada kita,” tambah Linda, yang beragama Kristen Protestan. 

Berkah Terselubung

Kejutan manis tak berhenti sampai di situ. Sesaat setelah kabar diterimanya patung tersebut viral, Brata Gallery langsung kebanjiran atensi publik. 

Brata Gallery Yogyakarta
BRATA GALLERY - Pembuat patung Rosalinda Widjajanto dan Niko Harahap Tanubrata saat ditemui di Brata Gallery, Yogyakarta awal Mei 2026.

Tak lama berselang, Niko mendapatkan order istimewa yang belum pernah ada sepanjang sejarah galerinya: pesanan 14 stasi patung Jalan Salib berukuran tinggi 180 cm untuk kediaman pribadi, lengkap dengan permintaan khusus penambahan figur pada stasi ketigabelas.

Terkait dengan pesanan patung serial jalan salib dari Bandung, Niko menegaskan untuk kali pertama, seseorang memesan patung serial jalan salib dengan tinggi 180 cm. Dan, patung itu serial bukan hanya satu saja.

Niko menambahkan bahwa orang tersebut membuat patung jalan salib untuk rumah pribadi.

“Dia mau beda, tidak ada Ponsius Pilatus. Dan dia sudah membayar DP. Mungkin ini jalan Tuhan,” ucap Niko, yang memanfaatkan AI saat mencari sosok yang pas untuk patungnya. 

Momen magis ini meninggalkan kesan mendalam bagi Niko dan Linda. Di balik kerja keras merajut seni religius di sudut Yogyakarta, kini terselip satu impian baru yang ingin mereka wujudkan di masa depan.

“Saya mau banget ke Vatikan apalagi ketemu Paus. Waktu Paus Fransiskus ke Jakarta saja kami tidak dapat. Padahal patung Maria Bunda Segala Suku yang ada di dekat altar saat Misa Kudus di GBK itu buatan kami,” jelasnya. 

“Mau banget lah bisa ke Vatikan apalagi jika bisa ketemu Paus Leo. Saya dan Linda tentunya juga mau,” seru Niko, yang langsung diamini oleh Linda seraya tersenyum. 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.