Kisah Warga Agam Disekap di Myanmar, Bayar Tebusan hingga Dibantu Tentara Perbatasan Thailand
afrizal August 01, 2026 09:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG- AE dan SS kini mulai bisa bernafas lega. 

Rabu (29/7/2026) lalu, dirinya sudah mendarat di Bandara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau. 

Dua perempuan ini, sebelumnya disekap dan disiksa oleh majikan mereka di Myanmar. 

AE merupakan warga asal Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat dan SS warga Kepulauan Riau. 

Semua, berawal saat mereka mendapatkan tawaran pekerjaan sebagai koki di sebuah restoran di perbatasan Thailand. 

Namun AE justru berakhir menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Myanmar.

Kisah dua orang Warga Negara Indonesia (WNI) berinisial AE dan SS mencuat ke publik, usai video penyekapan mereka viral di media sosial.

AE pun menceritakan kisah awal dirinya dipaksa bekerja menjadi scammer, terjebak penyiksaan, dipaksa membayar tebusan hingga bebas dibantu tantara Myanmar dan Thailand kepada jurnalis TribunPadang.com, Muhammad Iqbal, melalui sambungan telepon, Sabtu (1/8/2026).  

Kejadian bermula ketika dirinya dan SS ditawarkan pekerjaan oleh temannya sebagai koki di luar negeri, tepatnya Bangkok, Thailand.

Baca juga: Warga Agam Disekap di Myanmar Diduga Diperkerjakan untuk Praktik Penipuan Daring

Sebelum menerima pekerjaan tersebut, ia diiming-imingi gaji sebesar $700 dolar. 

Alasan itulah yang membuat AE dan SS berangkat dari Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

"Jadi teman saya ini sebelumnya bekerja di Kamboja dengan bos yang menyekap saya, di bagian penjualan komputer dan laptop. Jadi, dia yang menawarkan ke saya pekerjaan sebagai tukang masak di Bangkok, Thailand. Kemudian saya berangkat tanggal 9 April 2026," ucapnya, Sabtu (1/8/2026).

Saat ditawarkan pekerjaan tersebut, AE tak menyangka akan dipekerjakan di bagian scam atau penipuan.

Singkat cerita, akhirnya AE berkomunikasi langsung dengan bos temannya tersebut.

Dalam percakapannya, dia diminta bekerja sebagai koki di sebuah restoran di perbatasan Thailand.

Teman AE berinisial SS lantas menanyakan akan dipekerjakan di restoran apa dan dijawab di PT. Tiongkok, yang mempekerjakan orang China dan Indonesia.

"Bos itu menyebut membutuhkan koki untuk dipekerjakan di restorannya, bahkan ditanyakan berapa banyak orang Indonesia yang bisa bekerja, sebagai tukang masak, cuci piring hingga tukang bersih-bersih. Karena saya hanya berdua dengan SS, jadi disampaikan begitu," tegasnya.

Baca juga: Update Warga Agam Korban Penyekapan di Myanmar, Keluarga Sebut Ayu Sudah Kembali ke Indonesia

Setelah Sampai di Bangkok Thailand

Sebelumnya, AE dan SS berangkat dari Tanjung Pinang, Kepulauan Riau pada tanggal 9 April 2026 dengan tujuan Bangkok, Thailand.

Setelah sampai di bandara, mereka berdua dijemput oleh seorang sopir suruhan bos tempat AE dan SS akan dipekerjakan sebagai koki.

Kemudian mereka berdua dibawa ke sebuah penginapan untuk membersihkan diri dan makan, yang masih berada di wilayah Bangkok, Thailand.

"Lalu sopir suruhan bos ini meminta saya dan SS untuk melanjutkan perjalanan. Saat di perjalanan itu, kami diberi air minum, ketika pagi masih haus dan mengantuk, jadi kami tertidur serta tidak terbangun dalam waktu cukup lama," sebutnya.

AE mengaku terbangun, namun kepalanya masih pusing dan memilih tidur kembali.

Ia tidak mengetahui secara persis pukul berapa, AE hanya mengingat matahari masih terlihat.

Setelah sampai di lokasi tujuan, AE masih belum sadar kalau dibawa ke Burma, Myanmar.

"Pas tiba di lokasi, kami dibangunkan sopir, tapi mata kami masih susah dibuka, karena kepala masih pusing. Kami diminta angkat koper dan tas, lalu dibawa ke sebuah mess yang sudah ditunggu oleh bos kami," pungkasnya.

Cerita AE Saat di Myanmar

AE mengaku belum mengetahui kalau dibawa ke Burma, Myanmar.

Dia sebelumnya diminta bos tempat ia akan bekerja akan dibawa ke perbatasan Thailand.

Setelah sampai itulah, dia dengan SS diminta beristirahat dan membersihkan diri di sebuah mes.

Dengan kepala yang masih pusing dan rasa kantuk berat, mereka berdua malah lanjut tidur dan tidak sempat makan hingga membersihkan diri.

"Saat tidur itu, kami baru terbangun keesokan harinya, berarti kan ada sesuatu yang kami minum, karena kepala pusing dan berat. Kami tahunya kalau itu di Myanmar, karena bahasa pekerja yang membersihkan mess tidak lagi bahasa Thailand," katanya.

AE lantas menanyakan kepada pekerja di sana mengenai lokasi mereka dibawa.

Barulah diketahui, kalau sudah berada di Burma, Myanmar.

Lantas, AE langsung menanyakan kepada bos tempat mereka bekerja.

Bos mereka membenarkan terkait lokasinya memang berada di Myanmar.

"Ketika itu kami masih berpikiran positif kalau akan dipekerjakan sebagai koki, sebab setelah bangun langsung diberi bahan masak oleh pelayan mess. Tapi, kami masak bukan di restoran, tapi untuk anggota mess, kurang lebih satu setengah bulan," ujarnya.

Merasa jenuh dipekerjakan sebagai koki untuk anggota mess, AE dan SS lantas menagih janji boss mereka.

Sebab sebelumnya, mereka dijanjikan bekerja di sebuah restoran, bukan menjadi koki untuk anggota mess.

Bos mereka lalu membawa ke dalam kantor.

Di sanalah, AE dan SS mengetahui kalau banyak yang bekerja di bidang scam atau penipuan.

"Kami melihat di kantor banyak PC dan komputer. Jadi, kami diminta menghafal naskah untuk melakukan penipuan di Direktorat Jenderal Pajak. Ternyata banyak orang Indonesia bekerja di sana," jelasnya.

Kemudian AE dan SS ditanya oleh pekerja Indonesia mengapa bisa sampai di Burma, Myanmar.

Bahkan sebelum mereka menjawab, pekerja Indonesia kata AE sudah mengetahui kronologi mereka sampai di sana.

Menurut AE, kronologi yang disampaikan, sama persis dengan kejadian mereka bisa menginjakan kaki di tempat penipuan tersebut.

"Total orang Indonesia yang bekerja di sana dengan berbeda company sekitar 100 lebih. Tapi di company yang sama dengan kami, hanya 45 orang, bahkan ada yang 3 dan 4 tahun tidak dipulangkan," tuturnya.

Pekerja Baru Datang dengan AE dan SS

AE menyebut, kedatangan mereka tidak hanya berdua.

Ternyata lima orang lainnya sudah sampai sebelumnya di Burma, Myanmar.

Dari lima orang tersebut, tiga orang diketahui Warga Negara Indonesia (WNI).

Dua di antaranya berasal dari Sumatera Barat sedangkan satu lagi dari Batam.

Tiga orang WNI inilah kata AE, yang terlibat melakukan dugaan pencambukan serta penganiayaan kepada mereka.

Sebab, tiga orang WNI ini diduga AE merupakan kaki tangan atau suruhan bos tempat mereka bekerja.

"Kalau dikatakan mereka baru, hanya baru sampai di sana. Tapi mereka sudah lama bekerja dengan bos, sebab sebelumnya sudah bercerita dengan mereka," katanya.

AE dan SS Disekap dan Disiksa

Kisah mereka disekap sebelumnya viral di media sosial.

Kejadiannya bermula ketika AE dan SS dituduh melakukan provokasi terhadap WNI yang bekerja di sana untuk memberontak.

AE menyebut, sebelumnya dia dengan SS memang tidak ingin bekerja di bagian penipuan, karena tidak sesuai dengan perjanjian awal.

Atas dasar itulah, mereka mengajak WNI yang bekerja di sana untuk melawan dan kabur dari pekerjaan tersebut.

Akan tetapi, tiga orang WNI diduga suruhan boss melaporkan dan akhirnya mereka disekap disiksa dengan cara dicambuk.

"Jadi, WNI dari Sumbar ini menyebut sama bos kalau kami provokator. Oleh karena itu, terjadilah penyekapan, bahkan masih disuruh menghafal script penipuan," ujarnya.

Minta Tebusan

Akibat selalu menolak diperkerjakan di bagian scammer dan dituduh memprovokasi pekerja lainnya, mereka pun disekap dan disiksa.

Sang bos menyuruh bawahannya memvideokan AE dan SS yang mengalami penyekapan dan penyiksaan.

Video mereka pun diminta dikirimkan ke keluarga dengan tujuan meminta tebusan.

Uang tebusan ini sebagai alat tukar agar AE dan SS bisa bebas dari penyekapan dan penyiksaan

AE menyebut tidak mempunyai keluarga, sehingga video penyekapan hanya dikirim oleh temannya.

Dari sanalah kata AE, video penyekapan tersebut viral.

Uang tebusan yang diminta sebesar Rp250 juta. 

Rinciannya Rp 210 juta untuk tebusan dan Rp 30 juta sebagai transportasi kepulangan.

"Akibat video viral, kami masih terkena cambukan, karena kata bos mengapa sampai melibatkan pemerintah Indonesia," jelasnya.

Usai Memberi Uang Tebusan

Keluarga SS pun akhirnya mengirimkan uang tebusan.

Namun, baru diserahkan Rp110 juta, AE dan SS sudah diizinkan kembali ke Indonesia.

Akan tetapi, mereka hanya menerima pasport. 

Sedangkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) serta ponsel AE dan SS disita.

Mereka lalu diantar oleh bodyguard bosnya menuju perbatasan dengan Thailand.

Akan tetapi setibanya di gerbang, tentara yang berjaga menginterogasi mereka.

Masih dalam perasaan ketakutan, AE dan SS memilih tidak menceritakan.

Kemudian, bodyguard bosnya diinterogasi.

Kata AE, orang suruhan bosnya sempat menolak menceritakan terkait dirinya dan SS mengalami luka memar di wajah.

"Jadi, bodyguard disuruh menjauh dan tentara perbatasan menanyakan kepada kami terkait masalah memar di wajah. Kami lalu menceritakan semuanya dan akhirnya boss kami dipanggil, lalu dibawa ke barak militer," terangnya.

Akhirnya kata AE, bos mereka pun disanksi karena ada aturan di Myanmar yang mewajibkan WNI atau WNA tidak boleh disiksa dan harus dibayar sesuai pekerjaannya.

Kemudian AE dengan SS dirawat di sebuah RS militer di negara tersebut.

Berangkat Pulang ke Indonesia

Atas bantuan tentara perbatasan, AE dan SS diberangkatkan ke Thailand pada tanggal 25 Juli 2026.

Mereka sampai di Thailand pada keesokan harinya, yakni 26 Juli 2026 sekira pukul 04.00 WIB.

AE dan SS lalu diminta beristirahat di sebuah rumah warga di negara Thailand.

"Lalu sekitar pukul 09.00 WIB kami dijemput militer dan diantarkan ke Bangkok, Thailand. Kami sampai pukul 20.00 WIB di sana dan diberikan penginapan serta dijaga ketat oleh anggota militer di Bangkok," sebutnya.

Barulah pada tanggal 28 Juli 2026, AE dan SS diberangkatkan dari Bangkok menuju Kuala Lumpur, Malaysia.

Kemudian pada tanggal 29 Juli 2026, mereka baru dipulangkan ke Indonesia tepatnya sampai di Hang Nadim, Kota Batam.

"Sesampainya di bandara, kami bertemu BP3MI dimintai keterangan. Lalu kami juga dimintai keterangan oleh Polda Batam, sampai saat ini," pungkasnya.

Kapan Pulang ke Sumbar

AE mengaku tidak ingin pulang ke Sumbar, sebab tidak ada lagi keluarganya di Lubuk Basung, Kabupaten Agam.

Akan tetapi, ia tetap dimintai BP3MI untuk dikembalikan ke daerah asalnya, yakni Sumbar.

Untuk itu, AE mengaku tetap menerima. Hanya saja, untuk tanggal kepulangan ke Sumbar belum diketahui.

"Saya belum tahu, kata orang BP3MI masih menunggu anggaran untuk memberangkatkan saya ke Agam," tambahnya.

AE Trauma dan Memilih Ingin Bekerja di Indonesia

Atas kejadian tersebut, AE mengaku sangat trauma.

Ke depannya ia tidak ingin menerima lagi tawaran pekerjaan apapun ke luar negeri.

Bagi dirinya, cukup sekali dan seumur hidup ia merasakan penyiksaan dan dipekerjakan di bidang penipuan tersebut.

"Jujur saya takut dan tidak ingin lagi ke luar negeri jika ditawarkan, apapun pekerjaannya. Lebih baik saya di Indonesia, cukup sekali seumur hidup saya merasakan kejadian itu," tambahnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.