TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Keraton Kasepuhan Cirebon kembali menghidupkan tradisi Apeman sebagai pembuka rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.
Di balik pembagian kue apem yang telah diwariskan turun-temurun, tersimpan makna mendalam berupa doa bersama memohon perlindungan kepada Allah SWT agar masyarakat dijauhkan dari segala bala dan marabahaya.
Tradisi inilah yang hingga kini terus dijaga sebagai ikhtiar spiritual sekaligus warisan budaya Islam di Cirebon.
Prosesi Apeman digelar dengan khidmat di Langgar Alit, Keraton Kasepuhan Cirebon, Sabtu (1/8/2026).
Sejumlah tokoh agama, keluarga besar keraton, serta masyarakat memadati lokasi untuk mengikuti doa bersama yang dipimpin Kiai Jumhur.
Suasana religius begitu terasa, menandai dimulainya rangkaian tradisi Maulid Nabi yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Patih Sepuh Keraton Kasepuhan, Pangeran Gumelar mengatakan, tradisi Apeman merupakan pembuka dari seluruh rangkaian peringatan Maulid Nabi yang dimulai sejak bulan Safar.
"Alhamdulillah, tahun ini Keraton Kasepuhan Cirebon kembali melaksanakan tradisi-tradisi yang menjadi rangkaian peringatan Maulid Nabi. Apeman menjadi salah satu pembuka dari seluruh rangkaian tersebut," ujar Pangeran Gumelar, Sabtu (1/8/2026).
Ia menjelaskan, rangkaian tradisi diawali dengan Buka Semikan yang dilaksanakan setiap 5 Safar.
Selanjutnya, berbagai prosesi adat akan terus berlangsung hingga mencapai puncaknya pada 12 Mulud atau bertepatan dengan 26 Agustus 2026.
Menurutnya, pada 5 Mulud akan dimulai prosesi Siraman Panjang, yakni ritual pencucian berbagai benda pusaka peninggalan Sunan Gunung Jati.
Setelah disucikan, pusaka-pusaka tersebut akan diarak sebagai bagian dari tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Selain itu, Keraton Kasepuhan juga melaksanakan tradisi Gebuwan, yakni pelaburan atau pengecatan dinding menggunakan tanah merah di kawasan Siti Inggil, tembok Kutacosot, hingga Keraton Dalam Agung Pakungwati sebagai simbol penyucian sekaligus pelestarian bangunan bersejarah.
Pangeran Gumelar menegaskan, tradisi Apeman bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan memiliki makna spiritual yang sangat kuat.
Tradisi ini menjadi ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus doa bersama agar masyarakat diberikan keselamatan.
"Melalui doa bersama yang dipimpin Kiai Jumhur, kita memohon perlindungan kepada Allah SWT agar terhindar dari segala bala dan marabahaya. Ini merupakan wujud rasa syukur sekaligus ikhtiar spiritual masyarakat," ucapnya.
Ia menambahkan, masyarakat Cirebon sejak dahulu mengenal bulan Safar sebagai bulan yang kerap dikaitkan dengan berbagai musibah.
Namun, menurutnya, musibah sejatinya dapat datang kapan saja sehingga doa, sedekah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT menjadi hal yang lebih penting daripada mempercayai mitos.
"Musibah sebenarnya bisa terjadi kapan saja. Karena itu, melalui tradisi ini masyarakat diajak untuk memperbanyak doa, bersedekah, dan memohon perlindungan kepada Allah SWT," jelas dia.
Rangkaian tradisi Maulid Nabi selanjutnya akan berlanjut pada 13 Agustus 2026 melalui pelaksanaan Rebo Wekasan atau Rabu terakhir di bulan Safar.
Pada momen tersebut, Keraton Kasepuhan akan membagikan sedekah kepada masyarakat sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus mempererat hubungan antara keraton dan warga.
Pangeran Gumelar juga mengenang tradisi lama bernama Tawur Ji yang dahulu menjadi bagian dari peringatan Rebo Wekasan.
Meski kini tradisi tersebut sudah mulai jarang dilaksanakan, semangat berbagi kepada masyarakat tetap dipertahankan melalui kegiatan sedekah.
"Yang terpenting adalah nilai berbagi dan kebersamaan tetap hidup di tengah masyarakat. Itu yang terus kami jaga hingga sekarang," katanya.
Keraton Kasepuhan berharap seluruh rangkaian tradisi Maulid Nabi tahun ini tidak hanya menjadi agenda pelestarian budaya, tetapi juga mampu memperkuat nilai-nilai keislaman, mempererat silaturahmi, serta menjaga warisan leluhur Cirebon agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Sekadar diketahui, tradisi Ngapeman telah diwariskan sejak masa para sultan sebagai bagian dari syiar Islam yang dipadukan dengan budaya lokal.
Nama 'apem' diyakini berasal dari kata Arab afwan yang berarti maaf, sehingga tradisi ini juga mengandung pesan saling memaafkan, rasa syukur, gotong royong, serta berbagi berkah kepada sesama.
Hingga kini, Ngapeman tetap menjadi salah satu ikon budaya religius Keraton Kasepuhan Cirebon yang terus menarik perhatian masyarakat dan wisatawan.