TRIBUN-MEDAN.COM – Dewi Suryantini istri maling ayam di Bali akhirnya ngaku soal rumah mewah.
Belakangan ini Dewi Suryantini istri maling ayam di Bali yang tewas dikeroyok menjadi sorotan.
Simpati publik mengalir deras dengan mengirimkan berbagai macam bentuk bantuan yang langsung dikirim ke rumahnya di Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Buleleng.
Namun Dewi Suryantini ketahuan berbohong ke Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Dewi mengaku selama ini keluarganya hidup susah.
KD berpofesi sebagai buruh, sedangkan dirinya menjalani pekerjaan menganyam.
"Dia pergi ndak beri tahu saya. gak (pamit). Ndak punya (beras saat ditinggal suami). Kadang saya beras dikasih sama tetangga, hutang saya," katanya ke Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Baca juga: Jumat Berkah Brimob Sumut, 250 Paket Makanan Dibagikan kepada Jamaah Usai Salat Jumat
Penghasilan suami dan dirinya tak cukup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
"Kerjaan saya kecil. Menganyam. Iya. Kan buruh kadang ada, kadang gak ada," katanya.
Meski demikian, sebelum tewas dikeroyok, KD sempat pulang ke rumah setelah tak pulang selama tiga hari.
Ia hanya memberikan uang sebesar Rp 2,7 juta untuk membayar biaya gedung sekolah anaknya yang baru saja masuk SMK.
"Suaminya ngasih, tapi uangnya dari mana saya gak tahu. Uang gedung sekolahnya udah bayar. Iya bayarnya sebelum pergi," katanya.
Kini di tengah derasnya bantuan untuk Dewi dan tiga anaknya, ia justru dirundung isu miring.
Dewi dan KD disebut-sebut tinggal di rumah mewah dengan lantai granit.
Ia menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak benar adanya.
Menurutnya sang paman memang tidak setiap saat berada di rumah.
"Di sini (tinggalnya) tapi kadang di luar kota. Gak (pejabat)," katanya.
Ia mengaku bahwa sebelumnya memang pernah menempati rumah itu.
"Pernah nempati, tinggalnya di sini," katanya.
Baca juga: 4 Bulan Buron, Pencuri Laptop Milik ASN dalam Gerbong Kereta di Stasiun Kereta Api Medan Ditangkap
Dewi Suryantini menerangkan di wilayahnya kental budaya ketika suami meninggal, istri harus diam di rumah sendiri.
"Kalau orang sini gak boleh di rumah orang lain, harus di rumah sendiri. Kalau saya punya rumah itu, saya duduknya di rumah itu," katanya.
Kepala desa setempat menerangkan bahwa keluarga KD dan Dewi masuk dalam kategori warga tidak mampu.
"Keseharian sebagai buruh serabutan dan pengamanyan, maka di databasenya masuk kategori desil 2 dan berhak mendapat bantuan BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai)," katanya.
Ketahuan Berbohong ke Dedi Mulyadi Usai Diberi Rp50 Juta
Disisi lain terungkap Usai diberi Rp50 juta oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Dewi Suryantini istri maling ayam ketahuan berbohong.
Dewi mengaku usia pernikahannya dengan KD sudah menginjak 17 tahun.
Jika dihitung berarti mereka menikah sekitar tahun 2009.
"Selama 17 tahun pernah ada kasus atau dia mendapat tuduhan ngambil ayam, sepatu, ngambil apa, gak pernah ?" tanya KDM.
Baca juga: Eks Kalapas Waingapu Revanda Bangun Tersandung Kasus Narkoba, Video Penggerebekan Lama Kembali Viral
Ia mengaku bahwa sang suami belum pernah mencuri.
"Ndak, ndak pernah," katanya.
Faktanya menurut Kapolres Tabanan, AKBP I Putu Bayu Pati bahwa KD merupakan seorang residivis.
"Memang betul yang bersangkutan seorang residivis yang pernah melakukan kejadian serupa," katanya.
KD dipenjara tahun 2018 dalam kasus pencurian cengkeh.
Bahkan Kasubsi PIDM Sihumas Polres Badung Ipda Ni Nyoman Yuni Eltari mengatakan bahwa KD masuk daftar pencarian orang (DPO) karena terlibat banyak pencurian di Kabupaten Badung.
Ia pernah membobol toko hingga mencuri ayam.
"Jajaran reskrim sudah melakukan penggrebekan di wilayah Desa Sidatapa, namun pelaku berhasil kabur.
Memang diduga yang bersangkutan merupakan pelaku dari empat kejadian yang disebutkan. Sudah empat kali dilakukan penggerebekan, tetapi yang bersangkutan selalu lolos," katanya.
Dalam kejadian pengeroyokan, warga juga membakar motor yang dikendarai KD.
Dewi mengatakan bahwa suaminya pergi dari rumah memang menggunakan motor.
"Pergi dia naik motor, apa jalan kaki ?" tanya KDM.
"Naik motor pak. Itu motornya yang dibakar" kata Dewi istri KD.
Dedi Mulyadi pun mempertanyakan kepemilikan motor tersebut.
Pasalnya sebelumnya Dewi bercerita bahwa ia tak punya beras ketika suami tiga hari pergi.
Ia juga mengatakan berprofesi sebagai buruh penganyam.
"Itu punya pribadi ? bukan pinjam," kata Dedi.
"Pinjam pak, gade istilahnya gade," kata Dewi.
Pengakuan Dewi justru berbeda dengan Kasubsi PIDM Sihumas Polres Badung Ipda Ni Nyoman Yuni Eltari.
Menurut Yuni motor yang dipakai KD dan dibakar massa merupakan hasil curian di Kabupaten Bangli tahun 2019 silam.
(*/tribun-medan.com/Tribunbogor)