TRIBUNTRENDS.COM - Nasirun, seniman Yogyakarta meninggal dunia pada hari Sabtu (1/8/2026), pukul 05.58 WIB.
Nasirun berpulang pada usia 60 tahun di Rumah Sakit AMC Muhammadiyah, Yogyakarta.
Kesedihan mendalam tak hanya dirasakan keluarga, melainkan juga para seniman Yogyakarta yang merasa kehilangan Nasirun.
Mengenal Nasirun sebagai sosok yang rendah hati, para re
Marzuki Mohamad, DJ asal Yogyakarta sekaligus pendiri Jogja Hip Hop Foundation (JHF) merasa sangat kehilangan.
Kepergian Nasirun meninggalkan duka mendalam bagi banyak orang, termasuk Marzuki yang mengenalnya bukan hanya sebagai seniman besar, tetapi juga sahabat dekat yang penuh kehangatan.
Bagi Marzuki, sosok Nasirun memiliki tempat istimewa sebagai rekan sejawat, guru, sekaligus teman berbagi cerita dalam perjalanan seni mereka.
Persahabatan keduanya terjalin unik meski berasal dari disiplin seni yang berbeda. Kedekatan itu tumbuh melalui berbagai pertemuan yang selalu diwarnai obrolan ringan dan tawa.
Baca juga: Kejanggalan Kematian Sutrimo Karumga Febrie Adriansyah: Sosok Pengantar Jenazah, Penyebab Meninggal
Nasirun pernah mengungkapkan sebuah rahasia kecil kepada Uki. Saat berkarya di atas kanvas, ia kerap ditemani dentuman lirik dan irama lagu-lagu Jogja Hip Hop Foundation.
Kebiasaan itu menjadi salah satu bukti kedekatan emosional sang pelukis dengan karya-karya musik yang lahir dari komunitas seni Yogyakarta.
Setiap kali bertemu, suasana hangat selalu tercipta. Percakapan mereka nyaris tak pernah lepas dari guyonan khas Nasirun yang dikenal akrab dan rendah hati.
Kenangan itu kini kembali terlintas di benak Marzuki setelah mendengar kabar kepergian sahabatnya tersebut.
Belum lama sebelum wafat, Nasirun bahkan masih sempat melontarkan candaan yang kini terasa begitu membekas.
Mengetahui Marzuki tengah sibuk mengurus pertanian dan peternakan di kampung halaman, sang pelukis menyampaikan keinginan yang jenaka sekaligus menyentuh.
"Beliau sempat bercanda, 'Aku kok pengin pameran di kandang ayammu ya, Mas.' Rencananya hari Minggu besok beliau mau main ke rumah karena belum pernah melihat peternakan saya. Tapi tadi pagi, saya justru mendapat kabar duka,"
Ucapan sederhana itu ternyata menjadi salah satu percakapan terakhir yang masih tersimpan kuat dalam ingatan Marzuki.
Rencana kunjungan yang sudah dinantikan pun akhirnya tak pernah terwujud.
Alih-alih menyambut kedatangan sahabatnya, Marzuki justru harus menerima kenyataan pahit berupa kabar duka pada pagi hari.
Kesedihan yang dirasakannya semakin mendalam karena ada janji sederhana yang tinggal menunggu waktu untuk dipenuhi.
Kini, kenangan tentang tawa, canda, dan persahabatan bersama Nasirun menjadi warisan berharga yang akan terus hidup dalam ingatan Marzuki.
Bagi Marzuki, sosok Nasirun meninggalkan jejak yang jauh lebih dalam daripada sekadar karya-karya lukis yang mendunia.
Ada satu nilai yang menurutnya paling melekat dalam diri sang maestro, yakni keberanian untuk hidup secara otentik di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.
Ketika banyak orang berlomba mengikuti tren digital, Nasirun justru memilih berjalan di jalannya sendiri tanpa terpengaruh arus yang datang silih berganti.
Era media sosial dan algoritma yang mendominasi kehidupan modern tak pernah mampu membatasi ruang imajinasi maupun kebebasan berpikirnya.
Pilihan hidup tersebut tercermin dalam kesehariannya yang sederhana dan konsisten selama bertahun-tahun.
Nasirun dikenal tidak menggunakan smartphone, menjauh dari media sosial, bahkan memilih hidup tanpa memiliki rekening bank.
Sikap itu menjadi bukti bahwa dirinya tidak ingin kreativitasnya dikendalikan oleh tuntutan popularitas maupun pasar digital.
Menurut Marzuki, prinsip tersebut menjadi salah satu alasan mengapa karya-karya Nasirun selalu terasa jujur dan memiliki karakter yang kuat.
"Di zaman sekarang, banyak seniman maupun musisi yang ketika berkarya memikirkan dulu apakah nanti karyanya akan viral atau tidak, sibuk berhitung soal algoritma media sosial. Pak Nasirun tidak mau terpenjara oleh tuntutan semacam itu," jelas Marzuki memuji integritas sahabatnya.
Pernyataan itu menggambarkan bagaimana Nasirun menjaga jarak dari berbagai tekanan yang kerap memengaruhi proses kreatif banyak seniman masa kini.
Baca juga: Fakta Mbah Kirno yang Dikerangkeng 20 Tahun, Dulunya Seniman Reog hingga MC, Dalami Ilmu Kebatinan
Baginya, seni lahir dari kebebasan, bukan dari perhitungan jumlah tayangan atau respons warganet.
Meski tidak mengikuti arus algoritma dan tren digital, karya-karya Nasirun justru tetap mendapat tempat istimewa di hati publik.
Lukisan-lukisannya mampu berbicara tentang berbagai persoalan sosial dan budaya dengan cara yang khas serta mendalam.
Marzuki menilai kekuatan tersebut membuat karya Nasirun tetap relevan meski waktu terus bergerak dan generasi terus berganti.
Warisan terbesar yang ditinggalkannya bukan hanya deretan karya seni, melainkan keteladanan untuk tetap merdeka dalam berkarya tanpa harus tunduk pada tuntutan zaman.
Kepergian Nasirun meninggalkan duka mendalam bagi dunia seni rupa Indonesia dan para sahabat yang mengenalnya dekat.
Bagi Marzuki, sosok Nasirun bukan hanya maestro seni yang melahirkan karya-karya berpengaruh, tetapi juga pribadi yang penuh ketulusan.
Di balik reputasinya sebagai seniman besar, almarhum dikenal memiliki karakter yang sederhana dan mudah bergaul dengan siapa saja.
Marzuki mengenang Nasirun sebagai pribadi yang ramah, jenaka, cerdas, sekaligus memiliki jiwa artistik yang kuat.
Kebaikan hati yang ditunjukkannya selama hidup menjadi warisan berharga yang terus dikenang oleh banyak orang.
Kini, perjalanan hidup sang maestro telah usai dan ia berpulang meninggalkan jejak panjang dalam dunia kesenian Indonesia.
Jenazah Nasirun disemayamkan di rumah duka yang berada di Desa Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.
Seniman yang meninggalkan seorang istri dan tiga anak itu dijadwalkan dimakamkan di Makam Seniman Girisapto Imogiri, Bantul, pada Sabtu sore.
Momen perpisahan tersebut diiringi ungkapan duka dan penghormatan dari para sahabat serta rekan sesama seniman.
"Selamat jalan maestro Nasirun. Terima kasih untuk inspirasi dan pasedulurannya. Terima kasih untuk warisan karya dan kerja-kerja kesenian yang luar biasa. Saya bersaksi Nasirun orang baik, ramah, jenaka, artistik, cerdas, dan selalu ringan membantu teman."
(TribunTrends/Ninda)