TRIBUNBANTEN.COM, LEBAK – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Lebak, Banten, selama hampir tiga bulan mulai dirasakan oleh para petani.
Mereka kini dibayangi potensi gagal panen yang dapat mengurangi pendapatan dan cadangan pangan keluarga.
Di sejumlah wilayah, tanaman padi mengering sebelum memasuki masa pembentukan bulir, salah satunya terjadi di kecamatan Warunggunung, Lebak.
Pantauan di areal persawahan kecamatan Warunggunung menunjukkan hamparan sawah berubah kecokelatan.
Tanah tampak retak-retak akibat kekeringan, sedangkan tanaman padi berusia sekitar dua bulan mulai memerah, layu, dan berhenti tumbuh meski telah dipupuk.
Kondisi itu diperparah minimnya jaringan irigasi. Sebagian besar petani masih mengandalkan air hujan dan sumber air di sekitar lahan.
Namun, kemarau berkepanjangan membuat debit air terus menyusut.
Salah seorang petani, Sahri (54), mengatakan 12 petak sawah yang digarapnya terancam gagal panen.
Berbagai upaya telah dilakukan, termasuk menggunakan pompa air dengan bahan bakar yang dibeli secara mandiri. Namun, usaha tersebut tidak membuahkan hasil karena sumber air ikut mengering.
"Saya sudah habiskan hampir 30 liter bensin hanya untuk menyedot air. Tapi tetap saja sawah tidak semuanya terairi. Padinya sudah merah, kondisinya kritis dan cepat mati," katanya saat ditemui di lokasi, Sabtu (1/8/2026).
Baca juga: Mengenal Apa Itu Hama Wereng, Musuh Petani yang Merusak Tanaman Padi di 6 Kecamatan Kabupaten Serang
Menurutnya, biaya produksi yang terus bertambah semakin membebani petani.
Selain membeli bahan bakar, ia juga harus membayar sewa traktor, ongkos tanam, pupuk, hingga upah tenaga kerja.
Akibatnya, kerugian yang dialaminya diperkirakan sudah mencapai sekitar Rp5 juta dan masih berpotensi bertambah jika gagal panen.
"Cadangan beras di rumah sudah menipis. Kalau panen gagal, kami terpaksa beli beras. Padahal uang sudah habis buat modal sawah. Saya bingung harus cari uang dari mana untuk makan keluarga," ujarnya.
Sebagai petani penggarap dengan sistem bagi hasil, seluruh biaya produksi ditanggung sendiri.
"Jika panen berhasil, hasilnya dibagi dengan pemilik lahan. Tapi kalau gagal panen, seluruh kerugian harus ditanggung petani," pungkasnya.
Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Kabupaten Lebak periode 1-15 Juli 2026, kekeringan terjadi di tujuh kecamatan.
Di antaranya, Kecamatan Kalanganyar, Rangkasbitung, Cipanas, Cibadak, Muncang, Warunggunung, dan Maja. Kalanganyar menjadi wilayah terdampak terluas dengan 227 hektare.
Luas lahan baku sawah di Lebak per tahun 2025 mencapai 52.033,1 hektare. Sebanyak 21.088,2 hektare atau sekitar 40,5 persen merupakan sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan sehingga rentan terdampak kemarau.