SURYA.CO.ID SURABAYA - Pelatih Persebaya Bernardo Tavares mengaku senang melihat perkembangan permainan timnya setelah menundukkan Port FC 2-1 pada laga terakhir Grup B Piala Presiden 2026 di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Sabtu (1/8/2026) malam.
Kepuasan pelatih asal Portugal itu bukan hanya karena kemenangan yang mengantarkan Bajul Ijo ke semifinal, tetapi juga lantaran kedua gol tercipta melalui skema permainan terbuka.
Pada dua laga sebelumnya, Persebaya kesulitan mencetak gol dari open play. Saat mengalahkan PSMS Medan, gol lahir melalui bola mati, sedangkan kemenangan atas Persija Jakarta ditentukan lewat gol bunuh diri lawan.
Ke gawang Port FC, Persebaya mencetak dua gol melalui Miguel Pereira pada menit ke-40 dan Alex Martins pada menit ke-47.
"Kami bermain dan mencetak dua gol melalui transisi dalam organisasi serangan. Ini membuat saya senang," terang Bernardo Tavares kepada media, termasuk Surya.co.id, di GBT.
"Kami tidak bisa hanya menjadi tim yang mengandalkan bola mati. Kami harus kuat di semua momen pertandingan," tambahnya.
Bernardo menilai kemenangan tersebut semakin berarti karena diraih atas Port FC, salah satu tim papan atas Liga Thailand sekaligus juara bertahan Piala Presiden.
"Kami bermain melawan tim luar biasa, bermain melawan salah satu tim terbaik di Thailand, mantan juara Piala Presiden. Jadi, terima kasih kepada Bonek Bonita, atas dukungan dan juga atas sikap semua pemain," terang Bernardo Tavares.
Meski demikian, ia mengakui Persebaya masih memiliki sejumlah kekurangan yang harus segera diperbaiki, terutama dalam penyelesaian akhir dan pengambilan keputusan.
Baca juga: Persebaya Lolos Semifinal Piala Presiden 2026 Usai Kalahkan Port FC 2-1, Hadapi Arema FC
Padahal, sejak menit ke-62 Persebaya unggul jumlah pemain setelah Bruno Moreira menerima kartu merah. Namun, Bajul Ijo justru masih mendapat tekanan dari Port FC hingga akhir pertandingan.
"Kami perlu meningkatkan kualitas permainan, terutama dalam pengambilan keputusan, karena jika kita melakukan umpan terbaik di beberapa momen, kita bisa mencetak gol ke-3 dan ke-4," ucapnya.
"Kami kesulitan di menit-menit terakhir karena terkadang keputusan yang kita ambil lebih banyak menggunakan perasaan daripada emosi," tambah Bernardo Tavares.
Menurutnya, kondisi tersebut juga dipengaruhi rotasi pemain yang cukup banyak sehingga chemistry antarpemain belum sepenuhnya terbentuk.
"Selain itu, beberapa pemain belum memahami cara bermain bersama rekan setimnya. Jadi, saya pikir secara bertahap, kami bisa berkembang," ucapnya.
Usai memastikan tiket semifinal, fokus Persebaya kini beralih pada pemulihan kondisi fisik pemain menjelang menghadapi Arema FC pada semifinal Piala Presiden 2026, 4 Agustus mendatang.
Bernardo menyoroti waktu persiapan timnya yang lebih singkat dibanding Arema FC karena Persebaya memainkan laga terakhir fase grup sehari lebih lambat.
"Kami akan bermain melawan Arema. Arema memiliki waktu satu setengah hari lebih banyak daripada kami untuk mempersiapkan pertandingan, untuk memulihkan diri," pungkas pelatih berusia 46 tahun tersebut.
Hal senada disampaikan pemain Persebaya, Jefferson Silva, yang menilai pemulihan fisik menjadi aspek terpenting sebelum kembali bertanding.
"Saya pikir istirahat juga penting, karena pertandingannya sangat ketat," kata Jefferson Silva.
"Jadi, dengan cara ini akan lebih mudah untuk melakukan pekerjaan dengan baik," pungkasnya.