TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) meminta Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengubah cara membangun organisasi jika ingin meraih hasil maksimal pada Pemilu 2029.
Menurut Jokowi, kekuatan partai tidak cukup ditopang oleh kepengurusan yang hanya tercatat secara administratif, melainkan harus ditunjukkan melalui struktur yang aktif bekerja hingga tingkat desa dan Tempat Pemungutan Suara (TPS).
Baca juga: 2 Kali Jokowi Menang Pilpres di NTT, Pengamat: Belum Tentu PSI Begitu
Pesan tersebut disampaikan Jokowi saat menghadiri Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) PSI Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menurut Jokowi, penguatan struktur organisasi hingga tingkat paling bawah menjadi salah satu faktor penentu kemenangan partai dalam kontestasi politik.
"Sehingga kenapa dari DPP mengejar agar struktur partai ini sampai ke desa, ke TPS, karena kuncinya di situ dan perlu kita ingat bersama struktur partai harus yang fungsional, betul-betul berfungsi, harus hidup dan bekerja," kata Jokowi dalam keterangan yang diterima, Minggu (2/8/2026).
Dia menilai kepengurusan partai tidak boleh berhenti pada pembentukan organisasi secara administratif.
Struktur yang hanya dibentuk untuk memenuhi persyaratan formal, menurutnya, tidak akan memberikan dampak nyata terhadap penguatan partai.
"Percuma ada tapi hanya formalitas. Percuma struktur ada jika hanya ingin mendapatkan SK. Bukan itu, struktur yang fungsional, struktur yang hidup dan bekerja, struktur yang aktif sehari-hari di tengah-tengah kehidupan rakyat kita," kata dia.
Jokowi menegaskan keberadaan kader di tingkat desa hingga TPS akan menjadi modal penting bagi PSI dalam menghadapi Pemilu 2029.
"Membangun struktur partai karena ini adalah kunci kemenangan kita nanti di tahun 2029. Kuncinya membangun struktur partai sampai ke desa, sampai ke TPS. Kuncinya berada di situ," ujarnya.
Selain memperkuat organisasi, Jokowi juga meminta kader PSI membangun kedekatan dengan masyarakat melalui aktivitas yang berkesinambungan.
Menurut dia, hubungan dengan warga tidak cukup dilakukan menjelang pemilu atau ketika membutuhkan dukungan politik.
Kader partai harus hadir dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, baik saat warga merasakan kebahagiaan maupun menghadapi berbagai persoalan.
Dengan cara tersebut, kata Jokowi, partai akan memiliki struktur yang tidak hanya lengkap di atas kertas, tetapi juga benar-benar hidup dan bekerja di tengah masyarakat sebagai fondasi menghadapi Pemilu 2029.
Diketahui, Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) melakukan kunjungan ke Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026.
Ketua Harian DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali, mengatakan sambutan warga NTT terhadap Jokowi bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba.
Menurutnya, hal itu lahir dari rekam jejak pembangunan yang selama satu dekade telah mengubah wajah NTT.
"Pak Jokowi mungkin sudah tidak lagi menjabat sebagai Presiden, tetapi karya dan pengabdiannya masih dirasakan masyarakat. Rakyat selalu memiliki cara untuk menghargai pemimpin yang bekerja dengan sungguh-sungguh. Mereka tidak hanya mengingat pidato, tetapi juga mengingat hasil kerja yang mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari," ujar Ahmad Ali, Sabtu (1/8/2026).