TRIBUNGORONTALO.COM – "Mama pulang jo mama, pangge jo adik. Saya nanti sore, tunggu saya pulang habis ashar," kenang Nikmawati Hulinggi (34), menirukan ucapan putra sulungnya, Alim Piyoke.
Tak ada yang menyangka, pesan singkat tersebut menjadi salam pamit terakhir Alim sebelum remaja itu ditemukan meninggal dunia akibat tenggelam di aliran Sungai Bone, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.
Peristiwa naas itu terjadi pada Sabtu (1/8/2026) siang. Alim Piyoke (siswa kelas IX SMP) terseret arus deras bersama temannya, Hazrin Hujuli (14, siswa kelas VIII SMP) yang baru saja menyabet juara satu lomba LCC tingkat kabupaten.
Pihak Basarnas Gorontalo membenarkan adanya insiden kecelakaan sungai yang menimpa kedua remaja tersebut. Kepala Seksi Operasi Basarnas Gorontalo, Halidin Labidu, mengonfirmasi pengerahan personel ke lokasi kejadian setelah menerima laporan dari warga.
"Iya benar, tim tadi sudah berada di lokasi," ujarnya saat dikonfirmasi TribunGorontalo.com melalui pesan WhatsApp pada Sabtu (1/8/2026) sore.
Beberapa saat kemudian, ia memastikan hasil akhir dari proses pencarian gabungan tersebut. "Korban sudah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia," bebernya.
Baca juga: Inilah Identitas Wisatawan Korban Tenggelam di Pulau Bogisa Gorontalo
Air mata Nikmawati Hulinggi tak terbendung saat menceritakan kenangan terakhir bersama Alim. Pada Sabtu siang sekitar pukul 14.00 WITA, ia sebenarnya sedang membeli bahan-bahan makanan untuk merayakan ulang tahun adik Alim.
"Jam dua siang saya beli bahan-bahan untuk acara ulang tahun. Rencananya malam itu kami mau buat acara rame-rame. Tapi malah begini kejadiannya... Pas pulang habis Asar, cuma mayat yang datang," ucap Nikmawati berurai air mata.
Sosok Hazrin di Mata Keluarga: Sosok Pendiam dan Berprestasi
Kepergian Hazrin Hujuli juga menyisakan duka mendalam bagi keluarganya di Desa Bube, Kecamatan Suwawa. Hazrin dikenal sebagai sosok yang pendiam, penurut, penyayang, serta sarat prestasi.
Nikmawati, ibu dari Hazrin, mengenang interaksi terakhir dengan putranya yang sehari-hari tinggal bersama sang nenek, Maryam Madinah (73). Hazrin sempat meminta ibunya untuk tidak menjemputnya terlalu pagi. Namun, ia tidak menyangka bahwa ajakan teman-temannya pergi ke sungai menjadi perjalanan terakhir Hazrin.
"Dia penurut sekaligus penyayang. Kami tidak tahu kenapa kemarin dia tidak bilang kalau mau ke sungai," ungkap Nikmawati.
Hazrin memiliki masa depan yang cerah. Di sekolah, ia selalu mengukir prestasi.
"Dia orangnya pendiam, alhamdulillah berprestasi. Juara satu LCC tingkat kabupaten dan di kelas dapat juara dua. Sekarang tinggal menunggu hasil, kalau lolos rencananya mau berangkat ke Jakarta," tutur sang ibu.
Kesedihan serupa dirasakan sang kakak, Alif (22), yang kaget saat menerima kabar duka ketika sedang berada di ladang.
"Saya lagi ambil makanan sapi, tiba-tiba ada yang jemput dan kasih tahu kalau adik saya tenggelam. Saya langsung menuju ke Sungai Bone menggunakan motor," ucap Alif pelan.
Insiden bermula sekitar pukul 13.00 WITA saat kedua korban bersama beberapa temannya mandi di aliran Sungai Bone—salah satu sungai terbesar di Gorontalo yang membentang dari Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) hingga ke Teluk Tomini.
Mohamad Eka, salah satu teman korban, menceritakan bahwa saat itu ada sekitar enam anak yang beraktivitas di sekitar sungai dekat Desa Tinelo. Eka melihat Hazrin dan Alim tiba-tiba melompat dari atas batu ke dalam sungai. Diduga kedua korban tidak bisa berenang, sementara titik lokasi tersebut memiliki kedalaman 2,5 hingga 6 meter dengan arus bawah yang deras.
Paman Hazrin, Joko (40), menambahkan bahwa kondisi air sungai memang mengecoh. "Kelihatannya dari atas datar, padahal di dalam itu dalam sekali. Almarhum berdua ini memang tidak bisa berenang," jelas Joko.
Upaya Penyelamatan dan Penemuan Korban
Melihat kedua temannya tenggelam, Eka sempat berinisiatif memberikan pertolongan. Namun, posisi kedua korban terpisah di dua titik lokasi dengan arus berbeda. Eka berusaha menarik Alim yang terbawa arus deras, sementara Hazrin sempat memegang kaki Eka untuk meminta bantuan. Eka lalu mendorong tubuh Hazrin ke arah dangkal.
Namun karena menghadapi situasi panik dan arus deras, Eka hampir ikut terseret. Ia terpaksa menyelamatkan diri ke tepi sungai. Begitu kembali melihat ke air, kedua temannya sudah hilang terbawa arus.
Warga sekitar bersama Tim SAR Gabungan dari Basarnas Gorontalo langsung melakukan pencarian. Joko menyebut ada sekitar 9 hingga 10 warga lokal yang melakukan penyelaman awal tanpa alat keselamatan.
Kedua korban akhirnya berhasil ditemukan di lokasi berbeda:
Prosesi pemakaman Hazrin dilaksanakan pada Minggu (2/8/2026) pukul 09.45 WITA di Desa Bube, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango.
Kepergian Hazrin Hujuli dan Alim Piyoke meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat setempat. (*)